
Pagi ini Aara telah duduk di sudut masjid besar untuk menyaksikan acara ijab kabul yang dilantunkan oleh Wahyu. Pernikahan Aara dan Wahyu sangat berbeda dengan yang lain. Untuk acara ijab kabul diselenggarakan di masjid terbesar di kotanya, sedangkan acara resepsi akan diselenggarakan satu bulan setelan ijab kabul. Itupun Wahyu menginginkan resepsi pernikahannya di Amerika. Tempat dimana keduanya saling jatuh cinta.
Aara telah tampil cantik dengan hijab yang menutupi rambutnya. Dia sudah memantapkan hati untuk berpenampilan tertutup setelah menikah. Prosesi ijab pun terasa sangat sakral dengan Aara yang ditemani oleh Mommy dan Tante Erna karena Tiara dan Lily sibuk dengan putra mereka masing-masing.
"Sah?"
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah..." Ucapan syukur menggema, keluarga dan saksi begitu lega karena acara ijab kabul terlaksana dengan lancar.
Aara menyurut air mata dengan menoleh ke arah Wahyu. Haru, bahagia menjadi satu, dan kini ia sudah sah menjadi nyonya Wahyu.
Aara mengulurkan tangan saat Wahyu datang menghampiri. Dia mengecup punggung tangan Wahyu, menyalami dengan takzim. Kecupan di kening pun Wahyu sematkan untuk pertama kali setelah sah menjadi pasangan suami istri.
__ADS_1
Wahyu menuntun Aara menuju tempat ijabnya untuk menandatangani beberapa berkas. Dilanjut dengan acara sungkeman yang membuat suasana bertambah haru dengan air mata mempelai wanita serta mommy dan mamah mertua yang tak dapat dibendung.
Setelah acara ijab, Wahyu segera membawa Aara ke rumah yang telah pria itu perisiapkan. Namun, mereka tak hanya datang berdua saja. Wahyu membawa serta keluarga agar sekalian makan siang di sana karena Wahyu telah menyiapkan acara barbeque sebagai tasyakuran.
Semua dipersiapkan tanpa sepengatahuan Aara. Hanya Brian dan Rafkha yang tau karena ikut membantu.
Para orang tua pun nampak senang dengan acara selanjutnya. Mereka berbincang santai di sofa belakang rumah setelah tadi sempat terkesima dengan rumah yang Wahyu siapkan untuk keluarga kecilnya bersama Aara.
"Sayang, kapan mempersiapkannya? Kenapa nggak bilang?" tanya Aara saat keduanya tengah berada di dalam kamar untuk berganti pakaian.
Mata Aara yang berbinar membuat Wahyu semakin gemas. Wanita itu tak henti menyunggingkan senyum merasakan kebahagiaan yang begitu besar. Beginilah jika dicintai dengan tulus oleh seorang pria. Aara serasa diratukan oleh suaminya.
"Makasih ya suami aku, nggak nyangka suami aku yang gabut ini ternyata banyak uang. Rumahnya nggak kalah loh sama kak Rafkha. Nggak cuma setia dan penyayang, ternyata suami aku pun rajin pergi ke bank." Aara mengulum senyum menatap Wahyu yang terkekeh mendengar pujiannya.
"Ngapain?" tanya Wahyu dengan menahan tawa."
"Minjem uang! Ya nabung donk Sayang!" ucap Aara dengan membuang nafas kasar.
__ADS_1
"Oh kirain ngapelin tallernya biar dikasih bunganya gede," sahut Wahyu yang membuat kedua mata Aara melotot menatapnya. Sang istri pun dengan gemas memukul dada Wahyu hingga pria itu meringis kesakitan. Tanpa mereka sadari, ada Lily dan Brian menyaksikan mereka dari ambang pintu kamar.
Brian merangkul tubuh Lily dengan terus menatap kebahagiaan Aara. Dia lega melihat Aara bisa tertawa lepas. Teman kecil, sahabat, dan mantan istri telah menemukan kebahagiaannya sendiri. Brian pun berharap kedepannya Aara dan Wahyu terus bersama meskipun rintangan pasti ada.
"Aku senang melihat mereka bahagia," ucap Brian tanpa mengalihkan pandangan pada Aara dan Wahyu yang sedang bercanda.
"Lily juga, Mas. Rasa bersalah pada Kak sudah lenyap. Lily ikut bahagia melihat Kak Aara telah menemukan kebahagiaannya. Semoga Wahyu bisa setia dengan Kak Aara sesuai yang ucapkan."
"Hhmm, aku juga bahagia memiliki kamu." Brian menoleh ke arah Lily kemudian mengecup kening sang istri.
"Sehat terus ya Bunda, agar bisa terus menemani Ayah dan anak-anak sampai maut memisahkan kita!"
Lily menganggukan kepala kemudian masuk ke dalam pelukan sang suami. Inilah akhir dari masalah yang selama ini menimpa mereka. Kebahagiaan yang akhirnya datang meski rintangan rumah tangga pasti datang menghadang.
Sama-sama saling menguatkan dan saling mengisi kekurangan masing-masing. Bersyukur juga menjadi faktor penting dalam hidup. Hingga akhirnya pelangi kembali terlihat setelah awan mendung meruntuhkan bulir kesedihan.
...-Tamat-...
__ADS_1