
Mommy begitu lega setelah membaca pesan masuk dari putrinya. Aara memberi kabar jika dia sudah sampai satu jam yang lalu dan saat ini sudah berada di apartemen untuk beristirahat. Selisih waktu 13 jam menjadi perbedaan. Aara baru akan tidur karena hari sudah malam tetapi Mommy justru baru bangun untuk membuat sarapan anak dan suaminya.
"Pagi Sayang..."
"Pagi Mom, masak apa pagi ini Mom?" tanya Lily yang baru saja bergabung dengan kedua orangtuanya.
"Sarapan bubur kacang hijau ya Sayang, bagus buat bumil. Nanti siang Mommy carikan air kelapa hijau, konon katanya biar si bayinya bersih tetapi Mommy tidak tau pasti. Bagi Mommy doanya yang terbaik saja untuk kalian, semoga kedua cucu Mommy sehat."
Lily tersenyum dan mengaminkan ucapan Mommy di dalam hati. Dia melirik bubur kacang hijau yang masih hangat dengan uap menguar ke udara. Nampaknya sangat lezat dan benar saja, campuran susu membuat bubur semakin nikmat dan Lily begitu suka.
"Ini enak Mom, Lily suka."
"Pelan-pelan Sayang, itu masih agak panas. Jangan takut kehabisan! Mommy masih punya banyak." Andini terkekeh melihat putrinya begitu lahap dengan sesekali meniup sendok berisi bubur yang akan masuk ke mulut.
"Hari ini ikut kelas senam ya, biar kamu sehat saat melahirkan nanti."
"Senam kehamilan Mom?" tanya Lily mencari kejelasan.
"Iya donk Sayang, memangnya kamu mau senam zumba?" tanya Mommy dengan mengulum senyum.
"Ish Mommy..."
Siang harinya mommy mengajak Lily untuk ikut serta dalam senam hamil. Lily pun begitu antusias dan menyimak setiap penjelasan yang di berikan. Hari-hari dia lalui dengan senang hati. Mommy pun selalu menemani karena Brian yang semakin sibuk di dunia kerjanya. Namun, tetap mengabari dan datang seminggu sekali untuk menengok dan membawakan susu serta makanan yang bergizi.
Sering kali Tante Cika datang membawakan masakannya dan beberapa perlengkapan bayi. Beliau begitu perhatian dan antusias menyambut cucu pertama. Lily pun dengan senang hati menerima semua pemberian dari calon ibu mertua.
Koleksi pakaian bayi sudah memenuhi kamar Lily, hari yang terus berganti menjadikan wanita itu mempersiapkan persalinan dengan bersemangat. Lily pun lebih rajin membantu Mommy, dia ikut membersihkan rumah dan memasak namun tidak mengabaikan jam istirahat. Katanya jika banyak gerak, persalinan akan lancar. Maka dari itu Lily melakukan apapun yang menurutnya baik untuk kehamilan yang semakin besar.
__ADS_1
"Sayang..."
"Kak, kapan sampai? Katanya kemarin ke luar kota, kok hari ini sudah sampai Jakarta lagi?" tanya Lily yang baru keluar dari tempat senam.
"Kakak kangen sama kamu, setelah menyelesaikan pekerjaan Kakak buru-buru pulang. Besok kan sudah week day, dan pastinya jadwal Kakak akan padat lagi." Brian menghela nafas berat, memang semakin hari dia semakin sibuk. Ingin rasanya cepat menikahi Lily agar setiap hari bertemu meskipun sesibuk apapun.
"Ya sudah ayo pulang! Pasti tadi Mommy ya yang meminta Kakak ke sini?" Lily segera mengalungkan tangannya ke lengan Brian dan melangkah menuju mobil bersama.
"Tadi Kakak datang ke rumah, kebetulan Mommy mau berangkat jemput kamu. Mau makan dulu?" tanya Brian dengan ke arah Lily.
"Mau makan di rumah saja, Mommy selalu masak banyak untuk Lily. Kasihan jika tidak di makan."
Brian menganggukkan kepala dan segera membawa Lily pulang. Namun saat dalam perjalanan, Lily tiba-tiba berkeringat. Wajahnya pun nampak pucat dengan bibir bawah yang dia gigit dan suara rintihnya mengganggu fokus Brian yang sedang menyetir.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Brian mendadak panik, terlebih kehamilan Lily sudah memasuki bulan ke sembilan. Brian segera menepikan mobilnya di pinggir jalan. Dia menoleh dan mengusap keringat yang kini sebesar biji jagung memenuhi kening Lily.
"Sakit Kak..." Lily memejamkan mata saat dia merasakan perutnya bertambah sakit.
"Sabar ya Sayang..."
"Cepat Kak, rasanya semakin sakit," lirih Lily. Dia begitu terlihat kepayahan membuat Brian semakin tidak tega.
Jalanan sore di akhir weekend lumayan padat, membuat Brian harus menekan sabar saat mobilnya terjebak macet. Berungkali dia membunyikan klakson dan mengumpat kesal karena mobil tak kunjung bisa bergerak. Sedangkan Lily sudah begitu gelisah dengan sakit yang semakin bertambah.
"Air ketubannya pecah Kak, harus cepat-cepat sampai ke rumah sakit. Aduh Kak, Lily nggak kuat..."
Sebisa mungkin Brian menenangkan, membawa Lily menaiki taksi atau kendaraan lain pun hasilnya akan sama. Karena jalanan begitu padat dan tidak mungkin dia meminta Lily menaiki ojek dengan perut yang begitu besar.
__ADS_1
"Sayang jangan bicara seperti itu, kamu pasti kuat. Sebentar lagi kita sampai." Brian kembali melajukan mobilnya, jalanan masih sangat ramai terlebih lokasi rumah sakit yang tidak jauh dari pusat pembelanjaan. Mengakibatkan kemacetan karena banyak orang yang akan berkunjung untuk menghabiskan waktu libur.
Hampir satu jam Brian baru bisa keluar dari kemacetan. Berulangkali menenangkan Lily hingga tak lagi terdengar suara dan rintihan seperti tadi. Ketakutan pun terjadi, dengan cepat Brian menginjak gas dan menggenggam tangan Lily dengan kencang agar Lily kembali sadar.
"Sayang... Sayang bangun!" Astaghfirullah Ya Allah... Kuatkanlah Ibu dari anak-anakku."
Brian mengusap kasar wajahnya, dia sempat menepikan mobilnya untuk membangunkan Lily dan memberikan Lily minyak angin agar kembali membuka mata. Menepuk-nepuk pipi Lily dengan kekhawatiran yang semakin menjadi.
"Alhamdulillah... Syukurlah kamu sadar sayang, sebentar lagi kita sampai, jangan pingsan lagi Sayang! Aku takut..." Brian kembali melajukan mobilnya dengan Lily yang kembali meringis kesakitan.
Kini keduanya telah sampai di rumah sakit, dengan cepat Brian minta pertolongan tim medis untuk segera membawa Lily masuk ke dalam dan meminta penanganan dengan cepat.
Brian menunggu dengan cemas di luar ruangan, dia mondar mandir dengan terus berdoa di dalam hati. Baru kali ini dia mengalami kepanikan, ketakutan, dan kecemasan melebihi dari apapun. Serasa darahnya tidak mengalir dengan lancar, kakinya pun begitu lemas untuk berpijak. Memikirkan Lily yang berjuang demi kedua anaknya membuat hati Brian mendadak risau.
"Bagaimana dengan Lily? Apa anak kalian sudah lahir?" tanya Mommy dengan nafas tersengal karena berlarian dari lobby rumah sakit sampai di kamar persalinan.
"Belum tau Mom, belum ada suara tangis bayi juga dari dalam sana."
Mommy dan Daddy menghela nafas berat, keduanya kini ikut cemas memikirkan Lily. Apa lagi Brian mengatakan jika tadi sempat ada kendala di jalan hingga membuat keduanya terlambat sampai di rumah sakit.
ceklek
Dokter keluar dengan wajah tegang, mendadak perasaan Brian tidak tenang. Dia yakin ada sesuatu yang terjadi di dalam. Namun, Brian berharap semua baik-baik saja. Jika yang lain nampak bersemangat mendekati Dokter, tetapi tidak dengannya dan kedua orang tua Lily. Mereka belum mendengar suara bayi menangis namun dokter yang menangani sudah keluar dari ruangan. Pikiran mereka tentu saja semakin tidak karuan.
"Bagaimana dengan anak saya Dok?" Akhirnya Daddy lebih dulu membuka suara. Rasa trauma akan Aara saja masih begitu terngiang diingatan. Dan kini dia kembali harus menanyakan kondisi putrinya, meski dalam situasi yang berbeda.
Dokter menarik nafas dalam sebelum akhirnya menjelaskan, "pasien butuh tindakan operasi, air ketuban yang sudah hampir habis dan pembukaan yang tidak kunjung bertambah membuat kami harus bertindak serius. Karena ini bukan hanya membahayakan kedua bayinya tetapi juga membahayakan pasien yang sudah nampak tidak kuat menahan sakit."
__ADS_1
Brian mengusap kasar wajahnya, bahkan bulir air telah membasahi ekor matanya. Dia menoleh ke arah Daddy yang juga menatapnya dengan raut wajah tidak tenang. Brian pun menganggukkan kepala, yang terpenting saat ini adalah kesehatan Lily.
"Lakukan yang terbaik untuk keduanya Dok!" ucap Daddy Raihan dengan tegas, kemudian segera menandatangani surat keputusan tindakan operasi. "Tolong selamatkan ketiganya Dok!" sambung Daddy Raihan, sedangkan Brian sudah meluruhkan tubuhnya ke lantai.