
Brian dan Lily kembali naik ke atas pelaminan, keduanya kembali menyalami para tamu yang berdatangan hingga tanpa terasa hari sudah sore. Lily semakin bahagia karena sang Kakak pulang. Tak ada lagi kesedihan mengganjal di hati Lily. Dengan kedatangan Aara pun membungkam mulut para tamu yang julid padanya.
"Capek nggak Sayang? Kamu istirahat dulu nggak apa-apa, biar Kakak yang menyalami para tamu." Brian mengusap kening Lily dengan lembut, senyumnya hangat mengamati wajah cantik sang istri. Setelah sekian jam hampir tak duduk, kini akhirnya mereka bisa duduk karena tamu yang hadir agak senggang. Mungkin nanti menjelang malam akan kembali ramai.
"Lumayan Kak, tapi ini akan menjadi pengalaman berharga yang aku alami seumur hidup. Ternyata menikah itu lelah ya Kak?"
"Ini baru permulaan Sayang, belum nanti malam. Kita akan sangat lelah," ucap Brian dengan memandang Lily penuh arti.
"Kakak, bisa tidak jika jangan terus membahas itu?" protes Lily dengan wajah merona.
"Nggak bisa donk Sayang, inilah faedahnya menikah."
Lily menggelengkan kepala mendengar jawaban dari Brian. Dasar pria, tak lepas dari pembahasan urusan ranjang.
Sampai malam keduanya masih menyapa tamu yang datang. Namun, sudah agak santai dengan serangkaian acara tambahan. Brian dan Lily pun kini tengah berdansa bersama diiringi musik romantis membuat syahdu suasana.
Brian memeluk erat pinggul Lily dengan sang istri yang mengalungkan tangan di pundaknya. Sangat romantis dan menjadi momen yang sangat di nantikan. Terlebih kini para orang tua sudah mulai beristirahat karena tamu didominasi teman dan kerabat kedua pengantin. Mereka pun menantikan momen ini sejak tadi, karena setelah berdansa akan ada momen di mana Brian dan Lily berciuman.
"Kak, Lily malu kalo sampai ciuman bibir. Kening saja ya seperti tadi," bisik Lily. Bagaimana tidak malu ciuman itu akan dilihat oleh banyak pasang mata. Lily pun yakin Brian akan sangat bar-bar mengingat di depan Pak penghulu saja Brian tak kunjung melepaskan kecupan di keningnya.
"Tidak bisa Sayang, karena itulah yang mereka tunggu-tunggu." Tanpa aba-aba Brian menyambar bibir Lily membuat Lily tersentak karena kelakuan Brian yang sangat mengejutkan.
Semua para tamu bertepuk tangan melihat sepasang pengantin yang saling berciuman. Begitu pun dengan sepasang kekasih yang saling bertatapan dengan tangan bertautan. Aara tersenyum hangat melihat wajah Wahyu kemudian kembali menoleh ke arah Brian dan Lily.
__ADS_1
"Masih ada rasa cemburu nggak?" tanya Wahyu dengan memperhatikan Aara yang tak kunjung menyurutkan senyum.
"Sepertinya memang hati ini sudah sepenuhnya untuk pria yang berdiri di samping aku," jawab Aara tanpa menoleh ke arah Wahyu.
Wahyu tersanjung mendengar jawaban dari Aara. Tangannya menarik pinggul Aara merapatkan tubuh mereka. Wahyu bangga karena dirinya mampu menaklukkan Aara. Wanita yang sangat sulit didekati, tetapi kini dia justru bisa menendang nama Brian dari dalam hati Aara.
Tiara dan Rafkha pun saling merangkul mesra melihat pemandangan indah dan romantis di depan sana. Mereka ikut berbahagia melihat Lily yang akhirnya bisa merasakan kebahagiaan bersama Brian.
"Mereka romantis ya Kak?" ucap Tiara.
"Kita pun sama," jawab Rafkha kemudian menoleh menatap sang istri. "Kembalilah ke kamar lebih dulu, tunggu aku dan jangan tidur sebelum kita menghabiskan malam ini!" bisik Rafkha membuat tubuh Tiara meremang. Pria itupun sengaja menggigit telinga Tiara dan berakhir mengecup kening sang istri.
Brian melepaskan kecupannya setelah Lily terlihat kepayahan. Benar dugaan Lily, tak hanya kecupan tetapi juga lumataan yang Brian berikan. Pria itu mengusap bibir Lily yang basah sedangkan para tamu bersorak meminta keduanya mengulangi momen tadi.
"Tentu tidak, karena Kakak menginginkan lebih."
Lily tersentak merasakan tubuhnya diangkat boleh Brian. Dengan cepat Lily mengalungkan kedua tangannya di leher Brian. Wajah Lily sudah sangat merona bahkan Lily kini menyembunyikan wajahnya di dada Brian. Emang dasar kelakuan anak soang, masih banyak tamu yang belum pulang namun dengan santai pria itu melenggang dan membawanya menuju kamar pengantin.
" Haish dasar Brian gila!" lirih Rafkha, sudah tentu kelakuan Brian sangat merepotkan dia yang harus menunggu para tamu bubar dan menutup acara sebelum waktunya.
.
.
__ADS_1
.
Setelah acara selesai, Rafkha menunggu Wahyu di sisi ruangan. Rafkha pun meminta Aara untuk ke kamar yang telah dipesankan tadi. Wahyu seperti ingin di sidang oleh Rafkha. Bagaimana tidak jika pancaran mata elang kembali dia dapatkan sama seperti saat Rafkha tau jika dia mencintai Tiara dulu.
"Sejak kapan?" tanya Rafkha.
"Apanya?"
"Ck, hubungan kalian." Rafkha menghela nafas berat, dia hanya meminta Wahyu untuk menemani Aara dan menggagalkan rencana Aara untuk tinggal di Amerika. Bukan untuk memacari Aara tetapi ternyata Wahyu tidak hanya membuat Aara kembali pulang, Wahyu pun mampu membuat Aara jatuh cinta pada pria itu. Hebat sekali....
"Sejak kapannya itu nggak penting, yang jelas gue sayang sama adik loe tulus dan menerima dia apa adanya," jawab Wahyu santai. Dapat Rafkha lihat meskipun Wahyu bersikap nyantai namun pria serius dengan ucapannya. Mata Wahyu tak bisa menyembunyikan binar cinta saat melihat ke Aara dan Rafkha tau itu.
"Apa buktinya?" tanya Rafkha yang masih mencari bukti akan keseriusan dari Wahyu. Dia tidak ingin salah mempercayakan adiknya pada pria sembarangan. Walaupun Rafkha percaya jika Wahyu orang yang bertanggung jawab dan pekerja keras. Wahyu juga orang yang baik dan dia mengakui jika Wahyu pun pria yang setia. Namun, Aara yang berbeda. Adiknya yang satu itu memiliki kekurangan yang sangat berpengaruh besar dalam rumah tangga. Aara bukan seperti Tiara, istrinya yang sempat dicintai oleh Wahyu. Rafkha tak ingin Aara kembali gagal dan mengalami perceraian.
"Gue bakal bawa orang tua gue untuk melamar Aara secepatnya. Jika gue berhasil meyakinkan kedua orang tua gue. Gue minta dukungan loe dan jangan berusaha buat pisahkan gue sama Aara! Karena untuk masalah Aara, gue serius." Wahyu mengatakan dengan penuh penegasan. Dia ingin Rafkha mempercayainya dan hubungannya dengan Aara tak ada kendala keluarga. Bukan Wahyu tidak mementingkan orang tua Aara. Namun, Wahyu yakin tidak akan sulit mendapatkan restu mereka. Terlebih jika Aara yang sudah meminta dan dengan pedenya Wahyu yakin diterima oleh kedua orang tua Aara dengan mudah.
"Buktikan! Pastikan nggak cuma loe yang bisa menerima adik gue dengan segala kekurangannya tetapi, orang tua loe juga harus bisa menerima kekurangan Aara!" ucap Rafkha dengan tegas. "Satu lagi yang harus loe ingat, jangan sentuh adik gue sebelum kalian halal! Kelakuan loe, jangan mentang-mentang Aara nggak bisa kasih keturunan terus bisa loe celup-celup kapan aja!"
Wahyu nampak gelagapan mendengar ocehan Rafkha. Dia kesal juga karena Rafkha masih saja membahas masalah malam itu. Wahyu pun mengalah, memang hal itu salah dan tak seharusnya ia lakukan sebelum menikah.
"Oke, maklum ajalah kemarin gue khilaf. Jangan loe marahin Aara! Kalo sampai itu terjadi maka, loe berhadapan sama gue!" celetuk Wahyu tanpa takut. Nampaknya Wahyu sudah Bucin hingga begitu berani dengan Rafkha.
Rafkha tidak menghiraukan ucapan Wahyu, dia segera beranjak dari sana dan memilih untuk segera melangkah kembali ke kamar menyusul istri dan anaknya.
__ADS_1