
Setelah mendonorkan darahnya Raihan keluar ruangan dengan tubuh yang lemas. Sempat istirahat sebentar, tapi mungkin karena faktor umur membuat kondisinya tak seperti dulu. Di tambah lagi banyak pikiran dan lelah. Raihan duduk di samping sang istri yang hanya diam tak menghiraukan.
Raihan yakin, kini Andini sedang merajuk dengan keputusannya untuk meminta Brian menikahi Lily. Sebenarnya Raihan pun tak sampai hati, namun ada hal yang menurutnya sangatlah penting. Tangannya meraih jemari sang istri tapi dengan sikap dinginnya Andini melepas tanpa mau di sentuh lagi.
"Kamu marah?" tanya Raihan yang gemas melihat sikap sang istri. Padahal ia sedang lelah dan butuh sandaran, setidaknya usapan penuh kasih sayang di kepalanya agar ia bisa memejamkan mata sejenak sambil menunggu Lily yang sedang di tangani.
"Aku keberatan dengan keputusan kamu Mas, bagaimana mungkin kamu memberi keputusan yang tidak masuk akal. Kamu tidak benar-benar mencintai anak kita!" Ucapan yang mengundang amarah telah keluar dari mulut Andini. Tapi itulah ganjalan di hatinya yang membuat dia semakin sedih membayangkan nasib kedua putrinya.
Raihan bangkit dari duduknya, tak menyangka sang istri bisa berkata demikian. Meski ia terkesan ikut campur dengan permasalahan anak tapi itu karena ia sangat menyayangi putra putrinya. Meskipun caranya mungkin salah.
"Apa maksud kamu?" sentak Raihan yang tidak terima dengan ucapan Andini.
Brian yang sejak tadi hanya menyimak dengan kepala berat di buat tercengang karena ini kali pertama ia melihat Daddy Raihan berbicara kasar pada Mommy Andini. Padahal sejak dulu mereka selalu akur dan bisa di katakan jauh dari perseteruan yang berujung air mata.
__ADS_1
"Kamu membentakku Mas? Salah jika aku bilang kamu tidak betul-betul mencintai anak kita? Jika kamu menyayangi nya seharusnya kamu itu berpikir dulu sebelum memberi keputusan! Mana kak Raihan yang aku kenal?" Tanya Mommy Andini dengan lantang.
"Buka pikiran kamu Mas! Keputusan kamu di larang oleh agama kita dan Mamah pun tidak menyetujuinya! Jika kamu nekat, aku yang akan mundur!"
deg
Andika, Erna dan Brian di buat terpaku dengan ucapan Andini. Begitu juga dengan Raihan yang tak menyangka dengan apa yang terlontar dari bibir manis istrinya.
Andini pun sakit berucap demikian, tapi ini caranya menjaga hati kedua putrinya. Dia tak ingin melihat Aara dan Lily semakin menderita. Selama ini dia diam dengan segala keputusan sang suami. Namun untuk pernikahan Lily dan juga Brian. Dia tidak akan terima, terkecuali Brian dan Aara sudah bercerai.
"Karena kedua putriku lebih berharga dari pada keputusan kamu yang hanya membuat mereka menderita Mas!"
"Tapi Lily dan juga bayinya membutuhkan Brian! Aku pria dan aku tau bagaimana perasaan Brian saat dia merasa tidak mampu menjaga keduanya. Belajarlah dari kejadian ini Andini!" Raihan yang tidak pernah menyebut nama pada istrinya setelah menikah akhirnya terucap saat otaknya panas hatinya pun sedang tidak terima.
__ADS_1
"Kalo begitu biarkan Brian menceraikan Aara! Aku tidak setuju dengan adanya poligami."
Raihan menghela nafas berat, melihat wajah istrinya yang penuh tekanan. Kemudian lebih memilih pergi dari pada tetap di sana dan semakin emosi. Takdir saat ini memang sedang tidak bersahabat pada keluarganya. Baru selesai masalah putranya, di lanjut dengan kedua putrinya yang membuat hati seorang ayah berubah menjadi serpihan.
Andini menangis terisak dan kembali duduk, Erna segera menghampiri lalu memeluk tubuh Andini. Apa yang dilakukan Andini sudah benar, sebagai seorang Ibu Erna pun pasti akan melakukan hal yang sama.
Tapi melihat pertengkaran Raihan dan Andini justru membuat Brian semakin bersalah. Adanya dia membuat keluarga sahabatnya kembali runyam. Andai setelah kepergian Rafkha bersekolah di luar dia tak lagi mendekati Aara dan Lily. Mungkin semua tidak sampai seperti ini. Hanya hatinya yang akan sakit karena harus mengubur dalam cinta sejati. Tapi itu lebih baik dari pada harus membuat banyak hati yang tercabik.
"Biarkan Raihan menenangkan diri, kalian sudah tua tapi masih seperti anak baru gede. Otak kita sedang tidak bisa berpikir jernih karena masalah yang ada, jadi jangan pernah memutuskan apapun. Biarkan dulu begini sampai kita tau kondisi Aara dan Lily. Yang terpenting Brian tidak kabur dari tanggung jawab. Jalani dulu yang ada dan jangan memaksakan sesuatu di saat hati kalut. Kegagalan kalian harusnya di jadikan pelajaran bukan justru melakukan kembali kesalahan."
Andika menatik nafas dalam-dalam, cukup ngos-ngosan setelah berbicara panjang. Kemudian ia melihat Brian yang kembali menundukkan kepala dengan memijit pelipisnya. Andika tau, tak hanya mereka yang begitu berat menjalani itu semua. Tapi Brian pun sama dengan apa yang mereka rasakan.
"Nggak usah terlalu di ratapi, ntar kalo udah waktunya tuh si Joni bakal balik lagi ke kandangnya. Percaya sama Om!" Ucap Andika ngelantur yang kemudian di jawab sebuah decakan jengah oleh Brian.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa follow Ig aku ya weni0192 😘