
Keesokan harinya di rumah Baratajaya nampak ramai dengan anak dan mantu serta cucu-cucu yang datang untuk mengikuti acara lamaran Aara. Mereka kini tengah bergabung dan saling bercengkrama di ruang keluarga.
"Cie... Yang mau jadi nganten," goda Tiara membuat wajah Aara merona. Hati Aara begitu bahagia hari ini. Sejak tadi jemarinya berselancar di atas layar ponsel, bertukar kabar melalui pesan singkat dengan sang pujaan hati.
"Rasanya merinding disko ya Kak?" goda Lily yang sedang menyusui Brilly.
"Kalian ini, mentang-mentang sudah dan sekarang menggodaku. Huufft... Begini rasanya ingin menikah sungguhan. Deg-degannya beda, agak gimana gitu," ucap Aara gemas. Memang sangat berbeda sekali, tidak seperti saat dia bersama Brian dulu.
"Tarik nafas yang dalam, buang perlahan... Begitu terus kak, tapi jangan salah keluar ya Kak, nanti dari lubang yang lain lagi."
"Bau donk Ly," sahut Tiara membuat gelak tawa Aara dan Lily terdengar lantang.
Sudah lama mereka tak merasakan kekompakan itu, saling bercerita, curhat dan tertawa bersama. Hal yang sangat dirindukan selama ini akhirnya kembali mereka rasakan sedangkan para suami sedang duduk mengobrol seraya menikmati secangkir kopi.
"Persiapan acara nanti malam sudah siap semua Raf?" tanya Daddy dengan menatap lurus ke depan. Entah mengapa beliau begitu ragu untuk melepaskan Aara. Sejak semalam berusaha untuk tenang dan mengikhlaskan meski hati begitu berat.
__ADS_1
"Sudah Dad," jawab Rafkha yang menoleh ke arah sang Daddy dengan mengerutkan dahi. "Apa ada yang sedang Daddy pikirkan saat ini?"
Raihan menarik nafas berat, kegelisahan beliau ternyata dapat dibaca oleh sang putra. Raihan menoleh ke arah Rafkha dan Brian yang juga tengah memperhatikan.
"Daddy masih sedikit merasa berat kembali di tinggal oleh Aara. Baru kemarin dia pulang dari Amerika dan malam ini sudah akan dilamar oleh pria yang dicintainya. Entah seminggu, sebulan, atau beberapa bulan ke depan. Aara akan benar-benar meninggalkan rumah dan ikut dengan suaminya. Rumah akan sepi kembali karena satu persatu anak Daddy telah berkeluarga."
Raihan tak sepenuhnya berbohong, meski alasan utama kegelisahannya bukan semata-mata karena itu. Dia tidak ingin Rafkha pun ikut menjadi kepikiran dengan Aara karena dia tau, putranya yang satu ini akan melakukan apapun yang sekiranya mencurigakan atau meragukan.
"Maaf Dad, tapi kami akan selalu menyempatkan untuk datang dan berkunjung ke sini. Jadi Daddy tidak perlu khawatir! Begitupun dengan Aara, dia pasti akan sering datang jika sudah menikah nanti. Terlebih Aara dan Lily yang dekat sekali dengan Mommy."
"Iya Dad, aku dan Lily akan menyempatkan diri setiap sepekan sekali mengunjungi Daddy dan Mommy," sahut Brian.
Hari semakin malam, dan kini Wahyu beserta kedua orangtuanya telah datang untuk melamar Aara. Mereka membawa juru bicara, yaitu asisten dari sang Papah. Orang itu mengucapkan salam dan menyampaikan tujuan keluarga Budiman Sudjatmiko datang ke kediaman keluarga Baratajaya.
Rafkha sebagai juru bicara keluarganya pun menyambut baik dan menerima kedatangan keluarga Sudjatmiko dengan tangan terbuka. Setelah sambutan dari Rafkha, kini waktunya acara lamaran diselenggarakan. Hanya sederhana tetapi suasana begitu khidmat.
__ADS_1
"Bagaimana saudari Aara, maukah menerima pinangan dari saudara Wahyu?" tanya asisten Pak Budiman.
Aara mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk diam mendengarkan sambutan hingga serangkaian ucapan Wahyu untuk melamarnya.
Aara menatap Wahyu dengan wajah merona, seulas senyum yang pria itu berikan membuat Aara tak mampu mengulur waktu dalam menjawab.
Perlahan Aara menganggukkan kepala dengan arti menerima pinangan dari Wahyu.
"Bisa dijelaskan?" tanya Wahyu menggoda membuat Aara menunduk malu.
"Iya, saya menerima pinangan dari Wahyu," lirih Aara.
Wahyu tersenyum gemas melihatnya, ingin sekali mengecup pipi Aara yang kini terlihat merah padam. Dia lega lamaran diterima dengan baik dan sang Papah pun tidak membuat masalah. Bersikap ramah tak seperti yang dikhawatirkan oleh Wahyu tadi saat di rumah.
Aara mengulurkan tangan menerima cincin dari calon mertua yang kini disematkan di jemari manisnya.
__ADS_1
"Terimakasih telah menerima Wahyu Sayang, semoga hubungan kalian langgeng selalu. Maaf jika Mamah tidak bisa mencegah persyaratan yang diberikan Papahnya Wahyu. Mamah harap kamu mengerti," bisik Mamah Wahyu saat memeluk calon menantunya.
"Doakan Aara bisa melalui semuanya Mah..."