
Malam pertama menjadi seorang Ayah dan Bunda begitu merepotkan. Masih sama-sama belajar membuat keduanya kelimpungan. Saat Lian menangis, Brilly pun menyusul membuka suara teriakan khas bayi. Lily dan Brian mendadak sibuk tengah malam untuk mengurus kedua putra mereka.
Baru saja tertidur sekitar dua jam kedua anaknya menangis karena popok bayi yang sudah penuh bahkan semua basah dan harus di ganti bersamaan. Lily yang masih tidak leluasa bergerak akhirnya mau tidak mau menerjang rasa sakit agar bisa menangani salah satunya.
Saat ini bukan Lily yang mengajari Brian tetapi, pria itu justru yang menjadi tutor setelah tadi sebelum tidur sempat melihat vidio cara mengurus anak. Mereka begitu kompak meski hasilnya masih kurang rapi. Tidak seperti hasil Mommy Andini tadi.
Lily pun menyalahkan dirinya yang menganggap remeh pekerjaan itu. Dia yang berpikir saat menggantikan pakaian bayi begitu mudah, bolak-balik rapi ternyata salah. Dia hampir saja kena marah oleh Brian karena salah perlakuan.
"Lily, itu bayi manusia bukan boneka! Belum genap satu hari, tulangnya masih muda. Pelan-pelan saja tidak usah panik! Biarkan mereka menangis, namanya juga bayi, mereka belum bisa ngelawak seperti Ayahnya," ucap Brian mengingatkan.
Lily nampak gelagapan, dengan cepat tangannya mengusap punggung Lian dengan sedikit memiringkan tubuh bayi itu. Sempat terkejut saat Brian berbicara dengan nada sedikit menyentak. Namun, dia paham jika apa yang dia lakukan salah.
"Maaf Kak, aku pikir mudah ternyata ada aturannya," lirih Lily. Kini dia mencoba secara perlahan sampai putranya berbusana kembali. Membukanya begitu mudah sedangkan memasang kembali pakaian dan popoknya banyak sekali rintangan. Belum lagi suara tangisan yang membuatnya tambah bingung.
"Sekarang siap di susui Sayang!" ucap Brian memberikan Brilly kepada Lily.
"Tapi Kak, ini Lian juga mau aku beri ASI. Jangan barengan Kak! Aku nggak bisa." Lily pikir tidak mungkin menyusui keduanya meski miliknya memang ada dua.
"Terus gimana Sayang? Brilly sudah begitu kehausan, tangisnya semakin kencang." Brian menimang Brilly untuk menenangkan putra pertamanya.
"Sabar dulu Kak! Biar adiknya kenyang di lanjut kakaknya," ucap Lily. Wanita itu mengusap lembut kepala sang putra agar kembali terlelap. Hisapannya begitu kuat membuat Lily sesekali meringis menahan sakit. Dia bahkan tidak memperhatikan penampilannya yang membuat Brian memilih untuk menjauh. Pria itu tidak ingin pusing lagi seperti tadi.
Setelah Lian kenyang di lanjutkan oleh Brilly di sisi yang masih berisi. Lily mulai bisa menyusui dengan lancar. Hanya saja harus banyak sabar karena sakitnya begitu terasa. Lily mengembalikan lagi putranya pada Brian untuk dimasukkan ke dalam boks bayi.
__ADS_1
"Akhirnya..." Lily menghela nafas lega dan kembali merebahkan tubuhnya. Drama asuhan pertama dari kedua orang tua baru memberi banyak pelajaran. Mungkin, ke depannya Lily bisa jauh lebih baik dalam mengurus kedua anaknya.
"Istirahat lagi Kak! Lumayan masih ada waktu tiga jam untuk Kakak tidur. Nanti aku bangunkan jika sudah pagi."
Brian tersenyum dan melangkah mendekati Lily. Tangannya terulur ke arah tubuh Lily menimbulkan tatapan awas dari ibu menyusui itu. Tubuh Lily pun mendadak meremang merasakan jemari Brian singgah di dadanya. Sungguh pria ini minta di tabok bolak balik. Berani sekali menjamah setelah di beri peringatan. Harus di kasih kartu merah agar tidak keterusan.
"Kak..." Lily menggenggam lengan Brian dengan suara tertahan.
"Kancingnya masih terbuka, jangan membuat si Joni kembali meradang!" celetuk Brian membuat wajah Lily merona. Ternyata wanita itu salah paham, di kira pria itu akan bertindak berlebihan eh justru memberi perhatian. Meskipun embel-embel takut si Joni kembali bangun.
"Makasih Kak," lirih Lily dengan menundukkan kepala, malu sekali rasanya ketika dirinya yang justru berotak mesum.
"Kamu kenapa? Takut jika Kakak ikut antri seperti Brilly?" tanya Brian dengan menelisik wajah Lily dari dekat. Brian tau Lily sedang malu karena mengira dia pun ingin ikut menyusu. Ingin sekali Brian meledek Lily lebih lagi, namun melihat wajah meronanya hingga nampak menghindar membuat Brian tidak tega.
"Kali ini mungkin tidak tetapi setelah sah, kamu tidak akan Kakak kasih istirahat." Brian mengacak rambut Lily dengan gemas kemudian melangkah menuju sofa untuk kembali tidur.
"Membuat resah memang menggelikan, rasanya pengan ngakak." Brian mengulum senyum dengan memejamkan mata. Seru sekali menggoda wanita yang kelak akan menjadi masa depannya.
Pagi ini Brian bersiap untuk berangkat ke kantor. Dia yang semalam meminta kedua orang tuanya untuk membawakan pakaian ganti, kini telah mandi dan memakai pakaian kantor yang sudah di bawakan oleh Mamahnya.
Pagi-pagi sekali camer datang melihat kedua jagoan kecil yang kini telah wangi setelah tadi di mandikan oleh suster. Cika dan Bayu begitu bahagia, keduanya tidak saling berebut karena mendapat dua cucu sekaligus.
Lily senang karena bisa sarapan dengan tenang. Mengisi amunisi agar kedua jagoannya tidak kekurangan nutrisi.
__ADS_1
"Masakannya enak Tante," puji Lily yang begitu bersemangat menghabiskan makannya. Ibu menyusui itu begitu lapar sampai tidak a sadar jika sejak tadi Brian menambahkan sayuran ke dalam piring Lily.
"Di habiskan Sayang, sayuran bagus untuk Ibu menyusui! Apa lagi dua begini, pasti mereka menghabiskan stok sebelum waktunya."
"Iya Mah, semalam saja kuat sekali sampai paginya tinggal sedikit tetapi Alhamdulillah nggak mubazir," jawab Lily dan kembali menyuap ikan yang sudah di pisahkan durinya oleh Brian. Pria itu memang sengaja berangkat ke kantor agak telat karena ingin memastikan Lily makan dengan benar.
"Kalo gitu kamu habiskan sarapan kamu, Om sama Tante mau main dulu ke taman sekalian menjemur si kembar," ucap Cika yang bersiap membawa cucunya untuk berjemur di taman.
"Iya Mah."
Cika segera mengajak suaminya yang sejak tadi terlihat anteng sekali. Sepertinya Bayu seakan menemukan mainan baru, terlebih bayi yang ada di dekapannya sedang membuka mata. Mata bulat yang begitu indah. Bersih dan bening membuat Bayu sejak tadi terus saja menghujani wajah bayi itu dengan kecupan.
"Ayo Pah!"
"Mau kemana?" tanya Bayu dengan mengerutkan kening.
"Ke taman Pah, sekalian menjemur mereka supaya sehat dan mendapatkan vitamin di pagi ini," jawab istrinya menjelaskan karena bapak dokter itu mendadak tidak fokus.
"Mau di jemur nak kata Oma, di kata ikan asin kali ya. Orang ganteng begini disamain sama nasi kemarin," goda Bayu dengan mengajak bicara. "Eh ngomong-ngomong yang sama Papah ini namanya siapa Brian?" Papah menoleh ke arah Brian yang kini sedang merapikan tempat makan sisa sarapan.
"Yang sama Papah itu Lian dan yang sama Mamah Brilly," sahut Brian kemudian mengusap lembut bibir Lily dengan tisu.
"Oh oke, lanjutkan pacarannya Papah dan Mamah mau menjadi pengasuh untuk ke dua jagoan kecil ini," seru Bayu kemudian segera keluar dari kamar bersama sang istri untuk menjemur kedua cucu kembarnya.
__ADS_1
"Orang mau kerja di suruh pacaran, giliran pacaran di suruh udahan, giliran udahan malah ketagihan. Ujung-ujungnya bikin pusing kepala dan menyiksa jiwa dan raga," sewot Brian dengan menggelengkan kepala.
Mendengar serangkaian kata yang Brian ucapkan membuat Lily menahan tawa.