LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 97


__ADS_3

"Yakin nggak akan pulang? Katanya sayang kok nggak mau dilamar?" Wahyu melingkarkan tangannya di perut Aara yang sedang memasak di dapur. Wanita itu sedang memasak untuk makan malam.


Aara mematikan kompornya dan membalikkan badan menghadap ke Wahyu. Kedua tangannya melingkar di leher Wahyu dengan menatap mesra pria itu.


"Tidak perlu memberikan harapan, aku akan tetap datang dengan memberi kejutan. Apa kurang bukti dariku? Aku telah mundur dan mengurungkan niatku untuk melanjutkan sekolah. Demi siapa?"


Ya, setelah kejadian di mobil kala itu keduanya sepakat berkomitmen. Melangkah perlahan, memantapkan hati untuk menguatkan rasa jika keduanya sama-sama sayang. Namun, untuk menikah mungkin akan mereka tunda sampai tahun depan.


Wahyu mengecup bibir Aara sekilas, memperhatikan wajah cantik wanita yang kini telah memenuhi ruang di hatinya. Wahyu sudah menyadari jika dia telah mencintai Aara dan mengusir nama Tiara yang memang sudah tak mungkin akan ia miliki sampai kapanpun.


"Aku mencintaimu," ucap Wahyu dan ingin kembali mengecup bibir Aara namun, dengan cepat wanita itu menutup bibir Wahyu dengan telapak tangannya.


"Kenapa?"


"Makan dulu yuk! Aku lapar, nanti lagi sayang-sayangannya." Aara kembali membalikkan tubuh dan meneruskan memasak. Wahyu menghela nafas kasar dan melangkah menuju sofa, menunggu Aara selesai masak dengan merebahkan tubuhnya di sana.


Aara pun sudah bisa memasak banyak macam makanan. Dia bertekad kelak akan menjadi istri yang baik dan mampu melayani suami sepenuh hati di balik kekurangannya. Aara pun telah memutuskan setelah menikah tidak akan lagi bekerja. Dia ingin seperti Tiara yang benar-benar mengurus suami dan anak di rumah.


Setelah semua matang, Aara segera menyajikannya di meja makan dan mengajak Wahyu untuk makan.


"Ayo makan!" ajak Aara lembut.


"Iya Sayang." Wahyu segera beranjak dan melangkah mendekati Aara. Matanya berbinar melihat makanan kesukaannya telah tersaji rapi di atas meja. "Semakin pintar ya sekarang, sudah siap menjadi istri nich kayaknya."


"Makan dulu dan jangan terus merayu! Di coba dulu, sudah enak seperti masakan Mamah kamu belum?" tanya Aara setelah mengisi piring Wahyu.


"Enak, meski belum seperti masakan Mamah tetapi ini sudah enak. Jadilah diri sendiri! Aku tidak memintamu untuk menjadi seperti orang lain. Aku menerimamu sebagai Aara," ucap Wahyu lembut. Dia meraih tangan Aara lalu mengecupnya.

__ADS_1


Aara tersenyum melihat perlakuan Wahyu kepadanya, dia tidak menyangka ternyata Wahyu begitu romantis dan memperlakukannya dengan sangat baik. Wahyu pun begitu menyayanginya dan Aara berharap Wahyu akan setia.


"Makasih ya, semoga bukan hanya di bibir saja!" celetuk Aara dengan mengulum senyum.


 "Kamu meragukan aku?"


"Apa yang harus aku ragukan dari kamu? Hanya saja aku belum ada bukti banyak akan itu," ucap Aara santai kemudian berniat memulai makan tetapi dengan cepat Wahyu menarik tangannya hingga kini keduanya saling berhadapan.


"Katakan saja aku harus apa, jangan meragukan aku karena aku tidak pernah mempermainkan hati siapapun!" ucap Wahyu serius.


Aara mengecup tangan Wahyu dan melepasnya, dia mengulum senyum dengan menaikan kedua alisnya untuk menggoda Wahyu. Namun, Wahyu justru berdecak kesal dengan menggelengkan kepala dan memulai makan. Kini keduanya makan dengan khidmat. Tak ada lagi pembahasan tentang cinta, hanya dentingan sendok dan garpu yang berdendang.


.


.


.


Rencananya Aara akan membuat kejutan kepada sang adik yang sedang dirundung kesal. Dia pun sengaja tidak mengangkat panggilan dari siapapun termasuk kedua orang tuanya dan juga Rafkha. Aara yakin jika kabar dirinya yang tidak bisa pulang menjadi bahan ghibah keluarga dan bukan hanya Lily yang kecewa melainkan kedua orang tuanya pun begitu sedih.


"Tidak perlu, aku sendiri. Kamu bagian angkat koper saja besok pagi," jawab Aara dengan tertawa kecil.


"Pandai ya kamu, aku bagian yang berat-berat," ucap Wahyu kemudian mencubit pipi Aara dengan gemas. Dia pun memilih untuk duduk di ranjang kamar Aara memperhatikan kekasihnya dari sana.


" Kado apa yang akan kamu berikan untuk Lily?"


Pergerakan tangan Aara terhenti, dia lupa menyiapkan kado apa untuk sang adik. Tidak mungkin Aara tidak memberikan apapun. Namun, dia bingung kado apa yang cocok untuk Lily dan Brian. Aara menoleh ke arah Wahyu dengan tatapan bingung. Dia butuh pendapat pria itu saat otaknya buntu memikirkan hadiah yang akan ia persembahkan besok. Meskipun Aara yakin, kehadirannya adalah kado terindah untuk Lily.

__ADS_1


"Mau aku kasih opsi nggak?" tanya Wahyu tersenyum miring, " sesuatu dari kita berdua."


"Apa?" tanya Aara penasaran, dia melangkah mendekati Wahyu kemudian duduk di samping pria itu dengan terus menatapnya.


"Sini aku bisikin!"


Aara mendekati telinganya di wajah Wahyu, dia mendengarkan betul-betul apa yang  diucapkan oleh Wahyu.


Perlahan wajah Aara merona kemudian menegakkan tubuhnya dan membuang muka ke sembarang arah. Dia tidak yakin dengan usulan Wahyu tetapi ide Wahyu tidaklah buruk. Mungkin sampai di Indonesia dia akan tetap membelinya. Namun, mau taruh dimana? Tidak mungkin Aara meletakkan di kamar Lily, lalu bagaimana jika kedua orang tuanya tau? Pasti itu akan membuatnya malu sekali.


"Mau di taruh di mana? Nggak mungkin kan dibawa saat acara pernikahan apalagi dibawa ke rumah Daddy. Tambah nggak mungkin lagi," tanya Aara dengan terus berpikir.


"Kamu serahkan saja semuanya sama aku, biar aku yang urus atau kamu mau mencobanya lebih dulu?" tanya Wahyu dengan senyum menggoda.


"Sama siapa?" tanya Aara memamerkan wajah polosnya yang membuat senyum Wahyu luntur.


"Ya sama aku lah! Kamu pikir sama siapa? Jangan aneh-aneh kamu ya!" ancam Wahyu.


"Ikh kok marah? Kan cuma nanya, lagian siapa yang mau sama kamu. Aku sich maunya sama suami aku bukan pacar!" tegas Aara kemudian beranjak dari sana tetapi dengan cepat Wahyu menarik tangan Aara hingga tubuhnya jatuh di atas dada Wahyu.


Keduanya saling beradu pandang sampai Wahyu tergoda dengan bibir Aara yang membuat candu. Perlahan Wahyu menempelkan kedua bibir mereka. Menyesap dengan ******* kecil yang menggoda Aara agar membuka mulutnya.


Aara membuka akses dan membiarkan Wahyu mulai berjelajah lebih dalam lagi. Memberikan gerakan lembut hingga berubah menuntut saat Aara mulai membalasnya. Posisi mereka kini pun telah berubah, Wahyu dengan cepat membalikkan tubuh Aara dan menindihnya dengan tangan yang mulai tidak bisa dikondisikan.


"Eugh... Lenguhan Aara mulai terdengar saat kecupan mulai turun ke leher jenjangnya. Suara yang menggoda indera pendengaran Wahyu, suara yang membangkitkan gejolak di tubuh Wahyu semakin membara. Suhu sejuk di kamar Aara pun mulai terasa menghangat karena kedua insan yang saling bercumbu dan tidak bisa menahan nafsu.


"Hanya boleh dengan aku, malam ini, esok, dan sampai kapanpun," bisik Wahyu dan kembali mencumbu Aara dengan tangan yang sudah mulai merambat ke kancing piyama tidur wanita itu.

__ADS_1


...****************...


Kira-kira apa hayo kadonya? ketik di coment ya🤫🤫😉😉


__ADS_2