LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 110


__ADS_3

"Suka?"


Lily menganggukan kepala dengan mata berbinar. Impiannya sedikit perlahan-lahan dikabulkan. Bahkan dia tidak menyangka Brian memberikan rumah sebesar ini untuknya.


Brian mengecup pipi Lily kemudian membawa kedua putranya ke dalam kamar mereka. Lily pun mengekor di belakangnya.


"Ini kamar anak-anak Kak?"


"Hhmm... Semoga mereka nyaman, bagaimana sayang?" Brian menoleh ke arah Lily yang terus saja mengembangkan senyum. Wanita itu begitu terharu namun bahagia tak dapat ia bendung.


"Mereka pasti suka kak, ada tempat bermainnya juga. Kakak berlebihan sekali, uang yang Kakak keluarkan pasti besar kan?"


"Sayang, Kakak bekerja untuk kalian. Jika kalian nyaman dan bahagia tinggal di sini, Kakak pun akan lebih semangat lagi mencari rejeki." Brian melangkah menuju boks bayi dan merebahkan kedua putranya di sana. Pria itu merangkul istrinya dan mengajak ke kamar utama.


"Kita ke kamar utama ya, kamu pasti sudah penasaran dengan kamar utama yang akan menjadi kamar kita," ucap Brian dengan lembut dan melangkah menuju kamar yang berada di sebelah kamar kedua putranya.


"Anak-anak aman Kak di tinggal sendiri?"


"Tentu, ayo!" Brian sudah tidak sabar ingin memperlihatkan kamar yang ia desain khusus untuk Lily.


"Oh iya Kak, aku juga penasaran dengan kado yang Kak Aara kasih. Katanya di masukkan di kamar kita kan?"


"Iya Sayang, Kakak juga penasaran Aara dan Wahyu memberikan kado apa untuk kita. Ayo masuk!" Brian membukakan pintu besar berukir yang tampak beda dengan pintu kamar yang lain.

__ADS_1


Mulut Lily terbuka dengan pandangan menyapu setiap sudut ruangan. "Kak, ini kamar kita?"


"Iya Sayang, apa kamu suka?" Brian memeluk tubuh sang istri dari belakang setelah menutup pintu kamar.


"Ini seperti kamar hotel berbintang Kak, mewah dan luas sekali. Kak, ini benar-benar hasil dari Kakak bekerja selama ini?"


"Tentu donk Sayang, niatnya kan baik untuk membahagiakan kamu dan anak-anak. Jadi diperlancar. Anggaplah ini buah dari kesabaran kamu menahan rindu karena jarang Kakak temui kemarin. Sekarang, kita nggak akan berjarak lagi. Kamu dan anak-anak penyemangat Kakak Sayang." Brian mengecup pipi Lily dari belakang.


Lily mengusap lengan Brian dan melirik sang suami dengan tangan kanan membuai wajah Brian. "Terimakasih ya Kak.I love you," lirih Lily.


"I love you too Sayang." Brian mengeratkan pelukannya dan menghirup aroma tubuh Lily yang sudah menjadi candu.


"Kak, aku mau duduk di sofa itu, sepertinya enak. Capek dari tadi berdiri terus. Ayo Kak!" Lily melepas tangan Brian dan segera melangkah menuju sofa berliuk berwarna merah yang terdapat di dekat jendela balkon. Tanpa pikir panjang Lily segera duduk di sana dengan tubuh yang ia gerakan naik turun.


"Kakak sini! Ini gimana? Kakinya angkat begini?" seru Lily yang masih saja penasaran dengan sofa yang saat ini dia tempati.


"Sayang, kamu tau tidak ini sofa apa?" tanya Brian dengan menelisik wajah sang istri. Brian yakin Lily tidak tau apa nama dan kegunaannya.


"Sofa buat duduk, tidur, bersantai, tetapi aku nggak tau posisi ternyaman gimana."


Brian menghela nafas berat, ingin senang namun Lily begitu polos dan tak tau apapun tentang sofa itu. Perlahan Brian mendekat dan memposisikan Lily dengan benar. Bahkan pria itu terkesan mengukung tubuh Lily hingga keduanya tak berjarak.


"Nyaman tidak posisinya?" tanya Brian dengan pancaran mata berkabut gairah. Pikirannya sudah melalang buana kepenyatuan hingga suaranya pun terdengar serak.

__ADS_1


"Posisinya nyaman, yang buat nggak nyaman Kakak. Kenapa mesum sekali Kak? Memangnya harus begini posisinya?" tanya Lily dengan gemas, mendengar suara Brian yang berat membuat Lily paham jika pria itu sedang menahan hasrat.


"Karena sofa ini memang tempat untuk bercinta. Namanya sofa cinta dan kita akan mencobanya di sini."


Lily tercengang mendengar penjelasan dari Brian. Dia melirik posisinya dan sofa yang memang dari segi bentuk sudah sangat berbeda. Namun, terkesan nyaman dan empuk sekali.


"Kakak menyiapkan ini juga?" tanya Lily tak menyangka. Jika benar, sungguh niat sekali suaminya ini.


"Bukan Kakak, tapi Aara dan Wahyu yang sepertinya ingin kita memiliki fantasi baru," jawab Brian dengan tatapan ingin.


"Jadi mereka yang sengaja membelikan ini untuk kita? Astaga... Kak Aara dan Wahyu niat sekali. Lily pun di buat malu sendiri mengingat polosnya dia dan percaya dirinya hingga dengan santai memposisikan dirinya tanpa di minta.


"Alamat kena serangan fajar kalo gini," batin Lily menatap Brian dengan tatapan awas.


Benar saja, Brian yang ingin sekali mencoba segera mendekatkan dirinya dan mulai mengecup bibir Lily dengan lumataan lembut pemecah syahdu. Aji mumpung sekali memang Brian ini, mencari kesempatan dan tergerak ingin mencoba hal baru. Dalam hati Brian pun berterima kasih kepada Aara dan juga Wahyu yang menghadiahi sofa tersebut.


"Nyaman kan sayang?" tanya Brian di sela aktivitas mereka.


Lily tak lagi bisa menjawab dengan benar, dia hanya mempu menganggukkan kepala dengan mengeluarkan suara manja pembangkit gairah. Suara itu membuat Brian menambah frekuensi hentakan hingga keduanya mencapai puncak bersama.


...****************...


Kok sepi sich? Pada kemana ya...

__ADS_1


__ADS_2