LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 114


__ADS_3

"Ada yang sedang dipikirkan?"


Sejak Wahyu datang, Aara mulai curiga dengan sikap Wahyu yang tak biasa. Pria itu lebih banyak diam dan hanya berbicara jika dirinya bertanya. Helaan nafas kasar pun berulang kali Aara dengar membuat Aara mengerutkan keningnya.


Wahyu menoleh ke arah Aara, dia menatap wajah wanita yang sangat ia cinta dengan begitu dalam.


"Jika kita menikah, apa yang akan kamu lakukan agar kita memiliki keturunan?" tanya Wahyu dengan sikap datar. Sejak perbincangan tadi pagi dengan kedua orang tuanya. Wahyu tak dapat berkonsentrasi dalam bekerja dan terus memikirkan syarat yang diajukan oleh sang Papah. Begitu berat syarat itu tetapi lebih berat ketika bayangan akan kekecewaan Aara membuat hatinya tentu tak terima.


"Adopsi?" lirih Aara, sebenarnya dia sedikit tak terima dengan pertanyaan yang dilayangkan oleh Wahyu. Namun, Aara sadar jika itulah kekurangannya, sudah pasti siapapun pria yang akan menikahinya bertanya demikian.


"Bagaimana jika aku menginginkan anak dari benihku sendiri?" tanya Wahyu dengan terus menatap lekat wajah Aara. Dia tau, pertanyaan ini pasti akan membuat Aara bersedih, tetapi Wahyu ingin Aara tau apa yang mengganjal dipikiranya. Tanpa ada yang ia tutupi sama sekali, karena ini menyangkut hubungan mereka yang ternyata harus melewati rintangan yang terjal untuk dapat bersama.


Wajah Aara mendadak sendu, matanya berkaca dan mulai basah. Aara tau arah pembicaraan Wahyu. Dia tersenyum getir dan menguatkan hati agar air matanya tak runtuh begitu saja.


"Apa itu persyaratan dari kedua orang tuamu?" tanya Aara dengan suara tercekat. Ada yang sakit tetapi Aara berusaha untuk kuat.


"Persyaratan dari Papah," jawab Wahyu kemudian ia menghela nafas berat. Bukan cuma Aara yang sakit dan kecewa. Dirinya pun merasakan hal yang sama. Wahyu mengusap kasar wajahnya dan kembali menatap Aara. Namun, dengan cepat Wahyu memeluk Aara dengan erat.


Wahyu menyerah, dia tidak kuat melihat tatapan penuh luka dari mata Aara. Wahyu tau Aara menahan air mata dan sakit hatinya.

__ADS_1


"Aku nggak akan melepaskan kamu," ucap Wahyu dengan memejamkan mata. Dia menarik nafas dalam dan kembali membuka suara. "Meskipun harus menerima persyaratan gila itu!"


Aara tak mampu lagi menahan air matanya. Dia terisak di dalam pelukan Wahyu dan membalas pelukan pria itu. Aara pun tak mau kehilangan Wahyu, tetapi bagaimana jika persyaratan itu harus ia lalui. Sungguh hati Aara belum sepenuhnya ikhlas, jika ia harus kembali memiliki saingan.


"Bantu aku! Support aku! Percaya sama aku! Di hati aku cuma ada kamu." Wahyu mencoba untuk meyakinkan Aara. Memang nyatanya Wahyu sangat mencintai Aara dan berjanji setia meski janji itu tak ia ucapkan.


Aara menganggukkan kepalanya, dia merenggangkan pelukannya kemudian keduanya saling bertatapan.


Wahyu mulai mengikis jarak dan mengecup bibir Aara. Mereka saling menyambut dengan gerakan perlahan. Mereka saling meluapkan emosi dan kekecewaan yang tadi sempat singgah di hati masing-masing.


Beruntung di rumah sepi, Mommy siang tadi pergi ke kantor Daddy untuk membawakan makan siang dan entah sampai sekarang belum pulang. Alhasil Aara tak takut ada yang melihat apa yang mereka sedang lakukan.


"Astaga mata kembar Mas!" seru Lily yang kelimpungan sendiri berusaha menutupi kedua mata putranya sedangkan Brian tercengang melihat sepasang kekasih yang kini tengah sibuk menormalkan diri dengan wajah merona.


"Jadi kalian..." Brian masih tak menyangka jika Wahyu dan Aara benar-benar ada hubungan. Awalnya Brian tak percaya karena Aara yang ia tau sangat sulit ditaklukkan. Brian mengenal Aara sejak kecil. Tentu saja dia ragu akan kabar itu. Nyatanya justru dirinya dan sang istri melihat sendiri keduanya tengah bertukar saliva.


"Sayang, maafin Tante ya Nak!" Aara segera mendekati kedua keponakannya dengan memasang wajah menyesal. "Si Omnya yang nggak bisa nahan Sayang, mata kalian aman kan?" tanya Aara pada kedua bayi kembar yang bahkan belum mengerti apapun.


"Jadi loe sama Kak Aara ada hubungan Yu? Pantes aja loe nyebut gue adik ipar. Begini ceritanya." Lily menggelengkan kepala masih tak menyangka tetapi dia bahagia. Akhirnya sang Kakak mendapatkan cinta yang tulus. Terlebih Lily tau betul bagaimana Wahyu. Yang tak diragukan lagi kesetiaannya.

__ADS_1


Wahyu tak menjawab, dia pun ikut melangkah mendekat. Aara menggendong Lian sedangkan Wahyu mengambil alih Brilly. Sepasang kekasih itu melangkah kembali duduk di sofa dengan kesedihan yang telah lenyap setelah melihat kedua bayi mungil itu.


"Cocok sich dan pas banget nich, anak gue anteng sama loe berdua. Minggu depan gue dan Lily mau honeymoon. Berhubung kita nggak mungkin ajak kembar, jadi gue dan Lily memutuskan untuk menitipkan mereka sama loe berdua. Bagaimana?" tanya Brian dengan menatap Aara dan Wahyu bergantian, sedangkan Lily harap-harap cemas.


"Bisa banget loe berdua, giliran enak-enak nggak mau keganggu sama anak loe!" celetuk Wahyu tetapi Aara dengan cepat menepuk paha pria itu.


Aara menggelengkan kepala menatap Wahyu dengan tatapan penuh arti. Wahyu pun menganggukkan kepala dan kembali menoleh ke arah Brian.


"Oke, gue dan Aara bakal jagain anak loe berdua. Jangan lama-lama ngadonnya! Jangan sampe gue susulin loe berdua!"


Brian tersenyum mendengar ucapan Wahyu, rencananya honeymoon terealisasikan dengan baik. Dia menoleh ke arah Lily dan merangkul Lily dengan hati bahagia.


"Kita jadi ngadon Sayang!" bisik Brian kemudian mengecup pipi Lily dengan gemas.


"Nggak harus mesra-mesraan di sini juga Jamet," celetuk Aara yang kemudian mendekap Lian agar tak melihat adegan mesra kedua orang tuanya.


Lily mengulum senyum dengan menundukkan kepala tetapi Brian justru menarik tubuhnya lalu mendekap erat.


"Gue begini udah halal, loe berdua makanya buru nyusul biar bisa ikutan honeymoon kayak kita. Kali aja Minggu depan malah bisa berangkat bareng, nanti kita bisa sama-sama ngejaga si Kembar," ucap Brian. Namun, Wahyu dan Aara seketika teringat akan perbincangan mereka tadi. Raut wajah keduanya mendadak sendu, hingga membuat Lily dan Brian saling berpandangan dengan tatapan penuh pertanyaan.

__ADS_1


__ADS_2