LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 74


__ADS_3

Hampir satu jam mereka semua menunggu tetapi belum ada tanda-tanda Aara terbangun. Di luar hari pun sudah gelap. Bayu dan Raihan tadi sudah memastikan pada Dokter yang mengecek kondisi Aara. Beliau memang menyatakan Aara sudah keluar dari masa kritis dan tadi sudah sadar setelahnya Aara memejamkan mata kembali dan belum bangun sampai sekarang.


Dokter itu memutuskan untuk memindahkan Aara karena kondisi Aara yang sudah di nyatakan stabil. Bayu pun sudah memeriksa sendiri, memang benar kondisi Aara sudah stabil seperti yang Dokter itu jelaskan. Semua keluarga yang menunggu begitu penasaran. Mereka dengan sabar menunggu sampai Aara kembali membuka mata.


Lily pun tidak mau pulang meskipun Brian sudah membujuknya berkali-kali. Brian tau Lily mengantuk saat ini, mungkin karena acara yang di selenggarakan sejak pagi dan sampai sekarang Lily belum beristirahat.


"Bersandar di dada Kakak sini!" Brian menarik tubuh Lily agar bersandar di dadanya. Membiarkan Lily tertidur di dalam pelukannya. Brian tidak tega, ingin sekali mengangkat Lily dan membawanya untuk pulang. Namun, Lily kekeh ingin tetap menunggu Aara dan enggan untuk pulang.


"Bawa Lily ke ruangan Papah saja, biar Lily beristirahat di sana. Nanti kalo Aara sudah bangun, Papah kabari kamu," ucap Bayu yang juga tidak tega melihat Lily tertidur dengan posisi duduk. Perutnya yang besar mengganggu pergerakannya hingga Lily tidak leluasa.


"Lily ingin tetap di sini Kak," tolak Lily.


"Sebentar saja istirahat di ruangan Papah, nanti kita ke sini lagi," bujuk Brian. Akhirnya Lily menganggukkan kepala tanda setuju. Keduanya kini keluar ruangan menuju ruangan Papah Bayu.


Sampai di ruangan Papah Bayu, Brian membantu Lily untuk naik ke ranjang pasien. Sebenarnya Lily enggan karena, dia merasa seperti orang sakit jika tidur di sana. Namun, jika tidur di sofa pun tidak akan nyaman.


"Kakak mau tidur juga?"


"Tidur di sini sama kamu? Satu ranjang?" tanya Brian dengan tatapan menggoda. Brian mengulum senyum melihat bola mata Lily yang membesar. Dia gemas sekali melihat respon Lily yang terlihat sangat lucu.


"Maunya kamu!" Lily menarik hidung Brian dengan gemas. Lily segera merebahkan tubuhnya dengan cepat memejamkan mata karena dia memang sudah sangat mengantuk.


Brian tersenyum melihat Lily cepat sekali terlelap, dia mengecup kening Lily kemudian melangkah menuju sofa untuk beristirahat di sana. Tanpa menunggu lama Brian pun ikut terlelap.


Tepat di jam sebelas malam ponsel Brian berdering membangunkan kedua calon orang tua yang tidur dengan pulas. Brian dengan cepat meraih ponselnya yang ada di atas meja. Dengan mata menyipit dia melihat siapa yang menghubungi, lalu dengan cepat menerima panggilan itu.

__ADS_1


"Iya Pah."


"........"


"Oke, Brian akan ke sana," jawab Brian kemudian melirik Lily yang juga sudah terjaga. Dengan cepat Brian meletakkan kembali ponselnya di meja, lalu dengan cepat dia mendekati Lily.


"Sayang mau turun?" tanya Brian dengan penuh perhatian.


Lily pun mengangguk dan meraih tangan Brian, dengan perlahan menjulurkan kakinya ke lantai. Mendengar Brian mendapat panggilan dari Om Bayu, sudah pasti itu ada kaitannya dengan kondisi Aara. Maka dari itu Lily buru-buru turun karena tidak ingin di tinggal oleh Brian.


Setelah Brian mendudukkan Lily di sofa, dia segera mengambilkan minum untuk Lily. "Di minum dulu Sayang!"


"Hhmm...."


"Aku mau ikut Kakak," ucap Lily dengan merengut setelah menghabiskan satu gelas air mineral.


"Iya kak, yang terpenting aku bisa lihat Kak Aara dulu Kak."Brian menganggukkan kepala dan menggenggam tangan Lily menuju kamar Aara.


Sampai di depan kamar Aara, Brian dan Lily segera masuk ke dalam. Di sana terlihat semua keluarga berdiri mengelilingi ranjang pasien. Brian menoleh ke arah Lily, mereka bingung dengan apa yang terjadi. Hingga langkah keduanya mulai mendekat dan dapat mereka lihat, Aara tersenyum ke arah mereka.


"Kak Aara..." Lily tersenyum dengan mata berbinar. Rasanya ingin buru-buru sampai di dekat Aara. Namun, Brian menahan langkahnya agar tetap berjalan dengan pelan mengingat perutnya yang begitu besar.


Keduanya terus melangkah, hingga mereka bisa dengan jelas melihat Aara yang masih tersenyum dengan wajah tidak sepucat sebelumnya. Hingga kini Brian dan Lily berdiri di samping Aara. Lily yang sudah lama menahan rindu ingin segera memeluk Aara. Namun, tangan Aara justru mengarah ke Brian meminta pelukan dari pria itu.


Perlahan Lily kembali menurunkan kedua tangannya, senyum itu mendadak hilang melihat sikap Aara terkesan masih menganggap Brian suaminya. Semua keluarga di sana pun mendadak resah dan heran dengan sikap Aara. Jika bener demikian, apakah Aara lupa jika Brian telah menjatuhkan talak atas permintaannya?

__ADS_1


"Brian gue kangen sama loe!" Aara menarik tangan Brian sehingga mau tidak mau Brian pun mengikuti maunya Aara. Brian semakin mengikis jarak tetapi bukan untuk memeluk wanita itu karena, Brian tidak ingin menyakiti hati Lily .


"Ra, kita sudah..."


"Sudah lama gue nggak sadar, kata Daddy selama ini gue koma. Maaf ya udah buat loe khawatir. Makasih udah setia sama gue sampai saat ini."


Brian melirik ke arah Lily kemudian melihat semua keluarga di sana yang terlihat bingung dengan apa yang Aara ucapkan. Sepertinya memang Aara lupa akan kejadian terakhir sebelum dia di nyatakan koma. Brian pun bingung bagaimana untuk menjelaskan di saat situasi tidak memungkinkan. Brian menoleh ke arah sang Papah yang tengah menarik nafas dalam hingga dada beliau terlihat mengambang.


"Aara belum bisa mengingat sepenuhnya, perlahan kita mencoba mengingatkan kembali. Sama halnya dengan tubuhnya yang masih kaku karena terlalu lama tidak ada pergerakan. Untuk saat ini biarkan dia istirahat agar kesehatannya kembali pulih lagi." Bayu meminta waktu untuk yang lain memberi kesempatan pada Aara. Karena jika terburu-buru menjelaskan pun akan membuat Aara kesulitan, terlebih Aara masih dalam tahap pemulihan.


"Aara istirahat dulu ya Nak! Sudah larut malam, Mommy dan Daddy akan menunggu Aara di sini." Andini yang paham maksud dari Bayu dengan lembut meminta Aara untuk kembali mengistirahatkan dirinya. Semua yang di sana pun mengikuti saran Bayu dan memutuskan untuk pulang.


Brian dengan perlahan melepaskan genggaman tangan Aara di lengannya. Brian berniat mengantarkan Lily pulang. Namun tangan Aara justru semakin erat.


"Mommy dan Daddy pulang saja, Aara ingin Brian yang menemani Aara di sini," ucap Aara membuat Brian menghela nafas kasar.


Brian menoleh ke ara Lily, dia tidak tega melihat wajah sendu Lily dengan senyuman yang di paksakan. Brian tahu betul jika hati Lily tidak baik-baik saja. Tetapi anggukan dari Lily membuatnya tambah bimbang.


Mommy dan Daddy pun bingung harus bagaimana, sedangkan mereka tahu betul bagaimana perasaan Lily saat ini.


"Temani dulu saja Kak Aara nya kak! Lily bisa pulang sama Mommy dan Daddy."


"Tapi Ly..."


"Brian!" potong Papahnya menghentikan ucapan Brian. Bukan tanpa alasan Bayu melakukan itu, hanya ingin memberi ruang untuk Aara agar bisa memulihkan syarafnya dengan tenang. Dan Bayu juga ingin membicarakan tentang kondisi Aara saat ini dengan keluarganya yang lain.

__ADS_1


"Ya sudah kita semua pamit pulang dulu ya Aara, cepat istirahat agar lekas pulih! Besok Daddy dan Mommy akan kesini lagi." Setelah melihat Aara menganggukkan kepala, Raihan menoleh ke arah Brian. "Daddy titip Aara Brian."


"Baik Dad," jawab Brian singkat dengan terus memperhatikan Lily.


__ADS_2