
Semua keluarga tampak makan dengan khidmat, Lily pun sudah tidak memperdulikan Brian yang terus saja merusuh hingga, semua keluarga memperhatikan dengan menggelengkan kepala. Sudah menjadi hal biasa sekarang melihat pasangan ini saling bercanda, menggoda, hingga salah satu di antara mereka salah tingkah atau malah merajuk.
Namun, keluarga bahagia dan bersyukur melihat Lily yang kembali ceria. Merasa lega melihat sikap Lily yang kembali seperti dulu lagi. Lily pun terlihat lucu dengan perutnya yang besar. Terlebih jika sudah bertemu dengan Tiara, mereka terlihat kompak seperti dua badut yang saling bercanda.
"Ini fiks, cucu gue bakal kayak bapak moyangnya," ucap Papah Bayu.
"Kok bisa?" tanya Andini yang merasa heran.
"Bisa lah, lihat aja anak loe di godain mulu sampe kesel sama si Brian. Kalo kata orang jaman dulu tuh kalo bumil gedek sama siapa gitu, anaknya nanti ya mirip yang dikeselin itu," jelas Bayu.
"Untung ganteng, asal jangan kayak kakeknya aja mantan Casanova!" sahut Raihan dengan menggelengkan kepala.
"Casanova modelan buaya buntung aja, untungnya anak loe nggak nurunin kebiasaan bapaknya. Kalo sampe modelan kayak loe begitu auto di pecat sama Raihan," lanjut Andika.
Semua tampak menyimak dengan tertawa melihat ketiga soang saling sahut-sahutan.
"Tapi yang nerusin gue justru anak loe!" celetuk Bayu kemudian melirik Gibran yang berdecak kesal karena dirinya ikut di bahas.
Semua anggota keluarga menoleh ke arah Gibran, yang kini rasanya ingin meninggalkan meja makan dan kabur karena sang Mamah menatapnya tajam.
"Efek jodoh tak sampai ya Bran?" tanya Lily sambil mengulum senyum melirik Tiara yang sedang sibuk menghabiskan makan.
"Tuh loe ta_ eh tau maksudnya, lagian Casanova bukan berarti dia itu nggak baik. Gibran baik kok Mah Pah, cuma cewek yang deketin Gibran aja yang akhlaknya pada minus. Duit doank cinta kagak, ya manfaatin aja sekalian."
Andika dan Erna menggelengkan kepala mendengar pengakuan dari Gibran. Andika mengutuk mulutnya sendiri yang sering mengejek Bayu. Tanpa dia sadar anaknya pun mengikuti jejak buaya satu itu.
Di sela obrolan mereka berdering ponsel Raihan menyela obrolan keluarga. Raihan melirik layar ponselnya, nomor rumah sakit tertera di sana. Sudah di pastikan ini berkaitan dengan Aara.
__ADS_1
"Halo."
"Selamat sore Pak Raihan, kami dari pihak rumah sakit tempat putri bapak di rawat. Kami ingin mengabari pada Bapak jika Putri anda saat ini telah sadar dari komanya."
Deg
Tubuh Raihan mendadak kaku, bulir air mata jatuh membasahi pipi, tangannya pun bergetar mematikan panggilan yang masih terhubung. Rasanya dia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Putrinya yang sudah berbulan-bulan koma, dan sudah tidak ada harapan apapun lagi. Hari ini di katakan telah sadar dan keluar dari masa kritisnya. Semua seakan mimpi bagi Raihan.
"Mas..."
"Kita ke rumah sakit sekarang!" sahut Raihan dengan cepat beranjak dari duduknya.
"Rumah sakit? Aara kenapa Mas?" Mendadak semua khawatir dengan kondisi Aara, apa lagi melihat Raihan yang terlihat begitu panik dengan air mata yang tidak bisa dia tahan.
Kedua bumil pun segera memegang perut mereka masing-masing dengan jantung yang berdebar. Mereka tiba-tiba kepikiran akan kondisi Aara.
"Jangan panik!" Rafkha menegaskan istri dan adiknya.
Lily hanya mampu menganggukkan kepala, pandangannya terus mengarah pada Daddy yang mulai berjalan menuju mobil. Daddy tidak menjelaskan apapun membuat semua semakin penasaran.
"Aku ikut ya Kak," ucap Lily yang ingin sekali tau bagaimana keadaan Aara saat ini.
"Tapi jika tidak memungkinkan kamu tetap di luar ya sayang."
"Hhmmm...Yang penting aku ikut."
"Iya sayang," jawab Brian dengan lembut kemudian mengecup kening Lily. Jujur bukan Aara yang dia khawatir saat ini tetapi, Lily yang membuat dia kepikiran. Brian takut jika terjadi sesuatu dengan Aara. Lily lah yang tidak mampu mengontrol diri untuk menguasai situasi yang terjadi.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit semua mengikuti langkah Raihan menuju ruangan rawat inap vip. Mereka nampak bingung dengan ruangan yang dituju karena, yang mereka tau Aara berada di ruangan UGD. Bayu pun tidak tau apa-apa karena hari ini dia mengambil libur untuk menghadiri acara tujuh bulan Lily.
Dengan cepat Raihan membuka pintu kamar itu. Mereka terkejut saat melihat Aara lah yang berada di dalam sana. Aara berbaring dengan mata tertutup, Raihan pun nampak bingung. Dia mengingat perkataan orang di telpon tadi, jika Aara sudah lah terbangun dari koma. Tapi sekarang justru terlihat sama saat di ruang ICU.
"Sebenarnya ada apa Mas? Aara kenapa?" tanya Mommy Andini mendekati Raihan yang sudah berdiri di samping ranjang Aara.
Raihan belum menjawab apapun, semua alat masih terpasang lengkap hanya ruangan saja yang berbeda. Sebenarnya ada apa dengan Aara? Benarkah dengan kabar yang dia dengar tadi?
Raihan menoleh ke arah Bayu, sahabatnya yang mengerti segera mendekati Aara. Bayu yang tidak membawa perlengkapan untuk memeriksa hanya bisa mengecek denyut nadi dan alat-alat yang terpasang.
Bayu menoleh ke arah Raihan, "Sebenarnya ada apa? Siapa yang tadi telpon loe sampe buru-buru datang kesini?" Bayu masih penasaran dengan apa yang terjadi. Dia sudah menebak ada perkembangan dengan Aara tetapi, masih belum percaya penuh, melihat Aara yang masih seperti sebelumnya.
"Dari pihak rumah sakit bilang kalo Aara sudah bangun dari komanya." Raihan terus menatap Aara yang masin diam tanpa pergerakan. Pikirannya mendadak kacau.
Bayu segera menghubungi Dokter khusus yang menangani Aara agar cepat datang ke ruangan ini. Lily memeluk Brian dari samping, dia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi tetapi, mendengar jawaban Daddy membuatnya berharap kembali Aara benar-benar sadar.
"Mom, Dad, sepertinya Rafkha harus pamit. Tiara kasihan sudah lelah, nanti Rafkha akan datang lagi sendiri."
Rafkha cukup khawatir dengan Tiara yang nampak kepayahan, terlebih ini sudah masuk bulannya dan harus banyak-banyak beristirahat.
"Iya Raf, bawa Tiara pulang sekarang! Nanti jika ada perkembangan dengan Aara, Mommy akan mengabari kalian."
Rafkha menganggukkan kepala kemudian pamit pulang dengan Daddy dan keluarga yang lain.
"Dek, kalo capek pulang aja. Biar Aara, Mommy dan Daddy yang mengurus. Loe juga nggak boleh kecapekan. Apa lagi ada dua ponakan gue di dalam situ," ucap Rafkha saat dia pamit pada Lily dan Brian.
"Iya Kak, tapi Tenang saja Kak! Lagian ada bodyguard gue di sini." Lily mengulum senyum dengan melirik ke arah Brian.
__ADS_1
"Dia lebih pantes jadi sopir loe Ly!"
Lily menahan tawa begitu juga dengan Tiara tetapi tidak dengan Brian yang tercengang mendengar ucapan Rafkha.