LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 72


__ADS_3

Kini sudah hampir dua bulan dari kejadian Lily ketahuan pergi ke rumah sakit oleh Brian. Sampai sekarang dia tidak lagi membuat ulah. Hubungan keduanya juga baik-baik saja dan kondisi Lily pun sehat dengan kandungan yang memasuki bulan ke tujuh.


Lily melalui masa-masa kehamilannya dengan berusaha terus bahagia, menepis pemikiran yang membuat kandungannya terganggu. Brian pun nampak tenang bekerja dan terus berusaha mewujudkan impiannya dengan memiliki rumah mewah yang kelak akan dia tempati bersama istri dan anak-anaknya.


Sedangkan Aara, dia masih koma dan belum ada perkembangan apapun. Entah Tuhan sedang merencanakan apa untuk Aara. Namun, dengan keadaan Aara yang seperti ini membuat Brian sulit untuk menikahi Lily.


Sudah seminggu ini Lily menyibukkan diri dengan menggambar sketsa baju pengantin. Entah mendapat keahlian dari mana, hanya saja Lily ingin memakai baju pengantin hasil rancangannya sendiri.


"Cantik," lirih Brian di telinga Lily, mengejutkan Lily yang sejak tadi fokus dengan kegiatannya.


"Eh Kakak, sudah pulang?" tanya Lily yang begitu senang dengan kedatangan Brian karena, sudah beberapa hari Brian tidak datang ke rumah.


"Sudah, aku sengaja pulang lebih awal karena ingin kesini untuk bertemu sama kamu." Brian mengecup kening Lily dan mengusap perut Lily yang semakin besar.


"Oh iya, yang cantik apanya Kak?" tanya Lily yang penasaran. Dia teringat akan ucapan Brian tadi yang mampu menggelitik telinga sampai ke jiwa.


"Gambar baju pengantin dan pemiliknya yang cantik, membuat Kakak rindu setiap hari." Wajah Lily bersemu mendapat sanjungan dari Brian. Perlahan Lily beranjak dari duduknya dengan di bantu oleh pria itu. Perut yang besar karena hamil kembar membuat Lily agak kerepotan tetapi, dia sangat menikmati kesehariannya dengan ditemani gerakan kecil dari dua nyawa di dalam perutnya.


"Mau kemana, hhmm?" tanya Brian setelah memastikan Lily berdiri tegak.


"Mau buatkan Kakak kopi, pasti kangen kan sama kopi buatan Lily?" Lily segera melangkah menuju dapur dan membuatkan kopi untuk Brian.


"Mau Kakak bantu?" seru Brian dari sofa ruang tamu.


"Aku bisa sendiri Kak," jawab Lily dengan berseri dan memamerkan senyum.


Brian terus saja memperhatikan, dia menahan tawa saat melihat Lily kesulitan mengambil sendok karena letaknya yang berada di pojok. Sedangkan, perutnya sudah mentok dengan meja dapur.

__ADS_1


Brian buru-buru menghampiri untuk membantu, tapi cukup gemas melihat Lily yang hanya diam tanpa meminta pertolongan.


"Sini aku ambilkan, itu perut sudah terlalu besar Sayang, jangan di paksakan untuk melakukan hal yang sekiranya membuat kamu kesulitan! Kasihan mereka terbentur meja, kalo sampe benjol bagaimana Nduut?" goda Brian dengan menahan tawa.


"Kakak! Sudah berani ya panggil Lily Ndut!" Lily mencubit perut Brian dengan gemas.


"Auwh...Sakit Sayang! Ampun...Ampun...!" Kekesalan Lily berujung saling bercanda dan tertawa. Mereka begitu terlihat sangat bahagia dan tidak sadar jika Mommy dan Daddy tengah memperhatikan.


Mommy dan Daddy tersenyum melihat keduanya, mereka yang baru pulang dari rumah sakit setelah melihat perkembangan Aara, begitu lega saat sampai rumah disambut dengan tawa putrinya yang terlihat begitu senang.


"Meskipun kondisinya Aara membuat hati Mommy sedih tetapi, Mommy lega saat melihat Lily bisa tertawa lepas seperti ini."


Raihan merangkul pundak istrinya dan memeluk Lily dari samping. Dia pun merasakan hal yang sama, ikut bahagia melihat tawa Lily meskipun Raihan tau jika hati Lily tak sepenuhnya bahagia.


Putrinya menyibukkan diri dengan menggambar berbagai desain baju pengantin untuk mengalihkan segala pikirannya yang mengganggu kesehatan dan kandungan. Terlebih Brian tidak bisa selalu menemani dan Lily yang harus menjalani kehamilan tanpa seorang suami. Satu hal yang tidak mudah untuk seorang wanita. Raihan sebagai Ayah pun tidak bisa berbuat apa-apa karena, persyaratan dari Rafkha pun tidak bisa di abaikan.


Malam ini seperti biasa Lily begitu terlihat sangat lahap. Setelah kehadiran Brian tadi Lily tampak sumringah sekali, dan kebahagiaan itu menular ke Mommy dan Daddynya.


"Tidak apa-apa Mom, yang terpenting itu doanya saja." Lily tak keberatan akan itu, bisa kumpul saudara saja dia sudah sangat senang. Hanya saja dia kepikiran dengan Aara yang tidak bisa ikut berkumpul bersama dengan keluarga yang lain.


"Syukurlah, maafkan Mommy dan Daddy ya sayang. Ini demi kebaikan keluarga kita juga," ucap Mommy dengan tatapan sendu.


Lily tersenyum kemudian menggenggam tangan Mommy dan Daddy. Memang rasanya pasti berbeda dengan nasib wanita hamil yang berawal dengan cara yang baik. Anggap saja Lily tidak seberuntung mereka tetapi, Lily tidak menyesali karena dia begitu bersyukur masih bisa bertahan dan kuat ada di fase ini.


"Mommy, Daddy, jangan bersedih! Ini bukan salah Mommy dan Daddy karena, sejak awal Lily yang salah. Maafkan Lily yang membuat kalian merasa bersalah, Lily sudah sangat bahagia dan bersyukur ada di fase ini. Terlebih, dua jagoan Lily kelak akan menjadi teman dan pelindung untuk Lily. Membayangkannya saja sudah membuat Lily sangat bahagia jadi, apapun yang akan Mommy dan Daddy selenggarakan besok, Lily akan menerima dengan hati senang dan ikhlas."


Mommy beranjak dari duduknya dan segera memeluk Lily. Beliau benar-benar tidak menyangka Lily akan sedewasa ini dan menerima apapun yang terjadi lebih ikhlas lagi. Doa dan harap terlantun di kalbu. Berharap kelak Lily akan bahagia setelah melewati kehidupan yang tidak mudah ini.

__ADS_1


...****************...


Hari ini tepat dimana di adakan nya acara tujuh bulanan Lily. Mommy dan Daddy mengadakan di kediaman mereka dengan mengundang pemuka agama untuk memimpin doa dan mengundang keluarga terdekat. Tidak ada yang meriah karena semua bersifat tertutup tetapi, tidak luput dari rasa haru keluarga yang hadir.


Lily pun terlihat sangat cantik, setelah acara siraman wajah basah Lily terlihat begitu cerah. Brian sejak tadi tersenyum melihatnya. Senyuman terus terukir indah di wajahnya, hingga air mata Lily menetes di saat lantunan doa terdengar dengan begitu indah di telinga. Semua harapan Lily tumpahkan dengan tangan menengadah, semua pun ikut mengaminkan dengan khusyuk.


Setelah acara selesai, semua keluarga berkumpul di ruang makan. Andini sejak pagi sudah sibuk di dapur dengan di bantu oleh Erna yang pagi-pagi merepotkan Gibran karena, meminta di antar ke rumah adik iparnya. Mereka memasak banyak hidangan karena Andini ingin untuk masalah makanan meja makannya harus tetap meriah agar Lily senang.


"Ayo di makan! Bumil berdua nich ngobrol aja, ayo makan Sayang! Mommy dan Mamah Erna sudah capek-capek masak loh buat kalian." Mommy Andini sampai menyusul ke halaman belakang, di sana ada para anak muda yang sedang bercengkrama sedangkan para orang tua sudah menempati kursi di meja makan.


"Iya Mom," jawab Lily dan Tiara.


"Kak!" seru Lily dan Tiara berbarengan. Mereka meminta tolong pada kedua pria yang membuat perut mereka membesar. Perut Lily dan Tiara sama besarnya meskipun umur kandungan mereka berbeda. Dan itu membuat Lily sama repot nya dengan Tiara yang sebentar lagi ingin melahirkan.


"Berat Sayang..."


"Kak Brian!" Lily memukul lengan Brian dengan kencang membuat Brian meringis kesakitan.


"Galak banget Bundanya kembar," goda Brian.


"Lagian, aku berat dan gendut begini karena kamu ya Kak!" sewot Lily dengan bibir mengerucut membuat Brian menahan nafas.


"Bibirnya Sayang, harapan jangan menggoda!" ucap Brian dengan gemas. "Kamu makin cantik meskipun endut."


Lily sudah tidak ingin menimpali, dia menatap jengah dengan perlahan melangkah menuju ruang makan dengan di bantu oleh Brian.


Melihat banyaknya makanan di atas meja membuat mata Lily berbinar, rasanya tidak sabar ingin mencicipi semuanya. Sepertinya memang kedua anaknya membuat Lily ingin makan banyak.

__ADS_1


"Biasa aja Sayang, itu liur kamu hampir menetes."


Lagi-lagi Brian menggoda Lily, wanita hamil itu dengan cepat menoleh dan menatap tajam Brian yang tiada henti menggoda.


__ADS_2