
Lily pun sudah siap dengan segala aksesoris dan riasan tipis yang menambah anggun penampilannya. Para team make up begitu memuji kecantikan Lily. Calon pengantin wanita itu terlihat sangat cantik, padahal sapuan make up tidaklah tebal tetapi pancaran inner beauty yang Lily miliki begitu terpancar.
"Mbak, saya pangling banget loh lihatnya. Cantik dan riasannya begitu menyatu dengan kulit," puji salah satu perias yang sedang mengemasi piranti make up nya.
"Makasih Mbak, ini berkat tangan-tangan terampil Mbak dan teman-teman yang lain. Semoga calon suami saya nggak kaget ya Mbak nanti lihatnya. Takut malah nggak ngenalin saya lagi," canda Lily.
"Kenal donk Mbak, apa lagi cantik begini. Ya sudah kami pamit dulu ya Mbak. Semoga acara lancar dan diberi kebahagiaan buat Mbak Lily dan suami."
"Aamiin, makasih banyak ya Mbak." Lily bersalaman dengan ramah pada ketiga orang penata rias yang membantunya sejak tadi.
Lily beranjak dari kursi rias, dia menelisik penampilannya. Menatap tak percaya dari pantulan cermin. Pakaian pengantin pilihan Brian telah membalut tubuh rampingnya. Terlihat pas di tubuh dan sedikit menggoda. Lily yang sedang dalam tahap menyusui tentunya membuat bagian dada terlihat lebih padat dan berisi. Beruntung tidak terlalu rendah hingga masih aman dan tak terlihat kulit dadanya terlalu dalam. Jika tidak bisa-bisa Brian akan marah, atau malah tidak tahan ingin menguncinya di dalam kamar.
Lily tersenyum saat sang Mommy datang menemuinya. Beliaulah orang yang berjasa telah membuat dirinya terlihat sangat mempesona. Lily segera melangkah mendekati Mommy yang begitu terpukau melihatnya.
"Cantik sekali anak Mommy, ini sich bukan lagi ratu sehari. Ck..Ck ...Di jamin Brian semakin klepek-klepek melihat kamu Sayang." Andini tidak menyangka Lily terlihat sangat memukau. Kerja kerasnya menjadwalkan perawatan dengan merogoh kocek yang tidak sedikit membuahkan hasil. Putrinya yang sebulan lalu habis melahirkan tak terlihat sudah memiliki anak dua. Bahkan Lily terlihat masih seperti gadis belia.
"Mommy bisa saja, ini berkat Mommy juga. Eh kedua jagoan Lily mana Mom? Lily kangen semalaman tidak bertemu mereka." Lily sangat merindukan Brilly dan Lian. Tadi pagi setelah mandi dia memompa ASI yang penuh karena dadanya hampir bengkak karena semalaman tidak menyusui.
"Tenang! Mereka aman dengan calon besan. Tadi Mommy bertemu calon Mamah mertuamu saat berjalan ingin kemari. Ya sudah Mommy sekalian menitipkan mereka karena ingin menjemput kamu. Acara sudah akan di mulai, Brian sudah datang sejak sepuluh menit yang lalu. Ayo kita turun!" ajak Mommy dengan membantu Lily untuk berjalan karena cukup repot dengan gaun pengantinnya yang panjang.
__ADS_1
"Harusnya ada Kak Aara di sini yang mendampingi aku, tetapi dia tidak bisa datang. Sedih sekali rasanya..." Raut wajah Lily mendadak sendu. Meskipun sudah mengikhlaskan Aara tidak datang, tetapi tetap saja sedihnya belum hilang.
"Sudah, jangan memikirkan apapun! Fokus dengan hari pernikahanmu! Aara sedang sibuk, nanti jika sudah libur pasti akan datang menemui kita." Mommy sebenernya juga sangat kecewa dan sedih karena Aara yang tidak bisa pulang. Namun, beliau mencoba mengerti dan mungkin setelah acara pernikahan dan honeymoon Lily dilaksanakan. Akan ada jadwal untuknya dan suami menjenguk Aara ke Amerika.
"Jangan tegang! Tanganmu dingin begini, tenang! ada Mommy dan Daddy di dekatmu nanti," ucap Andini mengingatkan karena ia merasakan tangan Lily di lengannya begitu dingin hingga menembus kebaya yang beliau pakai.
"Perdana Mom..."
"Memangnya setelah ini mau lagi?"
"Tentu tidak, sekali seumur hidup seperti judul lagu itu," jawab Lily.
Berulang kali Lily menarik nafas dan menghembuskan dengan perlahan agar tak terlihat tegang yang dapat mempengaruhi penampilannya.
"Sudah siap kan? Calon suamimu menunggu sejak tadi, tampak resah sekali, mungkin sudah terlalu merindukan hingga tak tahan rasanya," goda Erna mencairkan suasana. Dia tau Lily begitu tegang, wajah Lily terlihat pucat dan benar saja, saat dia meraih tangan Lily untuk dilingkarkan di lengannya, terasa dingin hingga ke kulit.
Lily tak menjawab, dia hanya mengulum senyum menanggapi candaan tantenya.
"Ayo senyum! kita masuk sekarang ya," perintah Mommy.
__ADS_1
Setelah sempat berhenti untuk memberi waktu pada Lily menetralkan degup jantungnya yang berpacu kencang. Kini Lily menyunggingkan senyum dan menganggukkan kepala, siap untuk melangkah masuk.
Banyak pasang mata, bahkan hampir semua tamu yang datang menatap kagum Lily dengan melontarkan banyak pujian. Mereka pun tidak heran jika Brian beralih mencintai adik ipar. Desas-desus itu pun pro kontra terdengar di telinga. Namun, Lily tidak peduli. Dia sudah menguatkan hati jika banyak tamu yang akan membully. Lily menganggap ini proses hidup yang harus ia jalani dengan baik. Tetap memberi senyum dan tidak terpengaruh karena mereka akan lelah jika sudah puas berbicara.
Tatapan mata Lily tertuju pada pria yang kini mulai beranjak dari duduknya dan menoleh dengan tatapan terkesima. Dapat Lily lihat Brian menganga melihatnya. Seminggu tak bertemu terlihat sekali pancaran kerinduan membara di mata keduanya. Lily pun mengakui, Brian terlihat lebih tampan dengan balutan jas berwarna broken white selaras dengan gaun pengantin yang ia pakai.
"Lihatlah! Bukan hanya para tamu, Brian pun sudah ingin meneteskan air liurnya melihat kecantikan kamu. Jika kini kamu berterimakasih pada Mommy. Setelah ini jangan sampai kamu menyalakan Mommy, jika Brian tidak memperbolehkan kamu keluar kamar!" bisik Andini membuat wajah Lily yang tadi sempat pucat, kini berubah merona.
"Mom, jangan menakutiku seperti itu!" lirih Lily tanpa menyurutkan senyum membuat sang Mommy menahan tawa begitupun dengan Tante Erna yang sejak tadi diam-diam menyimak.
Ketiganya menghentikan langkah saat Brian sudah mendekat dan mengulurkan tangannya. Perlahan Lily melepas genggaman kedua tangannya yang sejak tadi berada di lengan Mommy dan Tante Erna. Dia menyambut uluran tangan Brian dan menerima dengan senyum dan tatapan teduh.
Brian terharu, matanya berkaca saat dirinya bisa kembali menggenggam tangan Lily. Serasa mimpi namun ini yang ia tunggu-tunggu selama ini. Brian membantu Lily untuk melangkah dan duduk di kursi yang telah disediakan untuk pengantin wanita. Setelah aman, Brian segera duduk disebelahnya dengan hati berbunga-bunga.
"Bagaimana? Sudah siap? Sepertinya kedatangan pengantin wanita begitu membuat Masnya bersemangat ya? Terlihat sekali auranya langsung keluar. Tapi jangan keluar sekarang ya Mas Brian, nanti saja kalo sudah di kamar. Repot soalnya masih banyak tamu," ledek Pak penghulu membuat wajah Brian dan Lily semakin merona.
"Aman Pak, sudah siap," jawab Brian lantang dan segera meraih tangan Daddy dengan terburu-buru.
"Sabar Nak! Sepertinya sudah tidak tahan, jangan saja nanti para tamu undangan di suruh buru-buru pulang karena ingin cepat membawa istri masuk kamar!" ucap Pak penghulu membuat Papah Bayu, Daddy, Andika dan Rafkha menahan tawa.
__ADS_1
"Hei, anak soang. Jangan buat malu Papah!"
Lily pun semakin menundukkan kepala, malu sendiri dengan sikap Brian yang terkesan tidak sabar.