LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 98


__ADS_3

"Wahyu..." Aara melenguh menahan tangan Wahyu yang mulai membuka kancing piyamanya. Dia masih cukup waras untuk melanjutkan kegiatan panas yang mengasyikan.


Wahyu menghentikan gerakannya, mendongakkan kepala dengan mata yang berkabut gairah. Sudah mau sampai puncak gunung dan menikmati untuk yang pertama kali, harus terhenti karena si empunya menahan gerakannya.


Wahyu memasang wajah penuh permohonan membuat Aara serasa tidak tega. Namun, jika ingin melanjutkan dia pun takut sampai khilaf.


"Sabar," lirih Aara dengan lembut. Dia mengusap kepala Wahyu dengan sayang. Berharap Wahyu akan mengerti meskipun tidak munafik Aara pun sangat menginginkan hal yang memabukkan.


"Sedikit aja nggak boleh? Hanya mencicipi tidak lebih." Suara Wahyu terdengar serak dan berat. Dia seakan ingin mengamuk saja. Sebentar lagi sampai harus tertunda karena dihentikan di tengah jalan.


Melihat tatapan Wahyu dengan mata sayu membuat Aara luluh. Wanita itu menganggukkan kepala dan memberi kesempatan pada Wahyu untuk kembali melanjutkan aksinya.


Binar kebahagiaan terlihat jelas dari mata pria itu, tadi sayu kini begitu menuntut. Bahkan Aara begitu malu saat Wahyu kembali melihat dua aset berharganya dengan mata berbinar. Terlebih tubuhnya kini sudah kembali seperti dulu lagi. Padat, berisi, dan segar. Sungguh membuat iman Wahyu goyah.


Baru kali ini Wahyu merasa sangat menginginkan wanita hingga begitu dalam. Serasa sudah tidak sabar memiliki seutuhnya. Beda pada saat bersama Tiara dulu, mungkin karena cinta tak berbalas membuatnya tidak dapat mencurahkan segala rasa.


"Butuh vitamin buat besok pagi, kan mau jadi tukang angkut barangnya neng Aara. Jadi minum susu dulu biar kuat," ucap Wahyu merayu. Benar-benar Aara dibuat tak mampu lagi berucap. Aara membuang muka dengan wajah merona. Dapat ia rasakan kancingnya terbuka satu persatu dan hanya menyisakan kain pembungkus dada.


Mata Aara terpejam dengan lenguhan lirih yang ia tahan. Wahyu sudah mulai melancarkan aksinya. Menyesap dan memberi gelayar aneh yang menggelitik. Pandai sekali bujangan ini, atau begitukah pria, naluri lelakinya begitu pandai tanpa harus belajar.


"Wahyu..."

__ADS_1


Lagi-lagi Aara mengeluarkan suara manja yang membuat Wahyu semakin bergerak liar. Lidahnya seakan tak lelah bergerak hingga Aara di buat belingsatan.


Mata Wahyu semakin sayu, hisapannya menguat meninggalkan banyak jejak. Serasa tak ingin berhenti dan Wahyu yakin si Joni menginginkan lebih. Pusing kepala jika dia kembali berhenti di jalan. Melirik Aara yang yang begitu terbuai dengan mata terpejam.


"Boleh turun dikit nggak Sayang?" Wahyu serasa tak ikhlas menyudahi kegiatan mereka. Bahkan kini sudah menghabiskan waktu hampir satu jam hingga milik Aara terlihat membengkak karena hisapannya yang tak kunjung usai.


"Jangan ngadi-ngadi! Berhenti atau besok nggak jadi pulang?" Perlahan mata Aara terbuka, dia melirik ke bawah dan melihat Wahyu yang masih sibuk menyusu.


"Dikit aja nggak boleh?" tanya Wahyu penuh harap.


"Dikit terus dari tadi," protes Aara. "Jangan sampai loe buat anak gadis keluarga Baratajaya murka Yu!" ucap Aara tak lagi santai dengan menahan gairah yang meronta. Tubuhnya menginginkan lebih namun, hatinya ragu karena cap halal belum didapatkan. Memang dia harus segera pulang ke Indonesia, agar tidak terjerat pergaulan bebas.


Telinga Wahyu seakan tertutup, pria itu tidak mendengar peringatan Aara dan terus merusuh bergerak semakin turun. Aara pun tak lagi mengajukan protes, sepertinya Wahyu berhasil membuat wanita itu kembali terbuai dan masuk ke dalam permainannya.


"Wahyu..." Suara Aara tercekat berbarengan dengan suara bel yang berbunyi menyadarkan keduanya. Perlahan Aara membuka mata dengan hati bertanya-tanya, siapa gerangan bertamu di tengah malam seperti ini?


Aara hampir tidak memiliki teman di sini, dia pun tidak sedang memesan apapun, lalu siapa yang datang?


Jika Aara begitu memikirkan, berbeda dengan Wahyu yang justru kembali melancarkan aksinya. Aara pun kembali tidak tahan dan mulai memejamkan mata. Dia merasakan sentuhan yang semakin turun, tetapi lagi-lagi suara bel berbunyi membuat Aara gagal fokus. Janda kembang itu melirik ke bawah dengan gemas karena Wahyu yang begitu tidak peduli.


"Wahyu stop! Ada yang datang, enak banget apa sampe lupa daratan? Tadi bilangnya sedikit tapi makin tidak terkendali," protes Aara.

__ADS_1


Wahyu segera bangkit dengan mendengus kesal. Dia merutuki orang yang malam-malam bertamu tanpa malu. Padahal dirinya sendiri pun tamu di kamar Aara.


"Nanggung Yang kalo setengah-setengah, kayak lagi minum ditabok dari belakang. Keselek! Kalo kaum Adam tuh kentang nyebutnya." Wahyu mengusap kasar wajahnya dengan menghela nafas kasar. Dengan terpaksa dia turun dari ranjang dan tidak lupa menutupi tubuh Aara dengan selimut.


"Jangan ngaco dech! Udah lihat dulu siapa yang datang, kalo nggak penting lanjut tidur aja. Besok kita berangkat pagi loh!" ucap Aara mengingatkan, dalam hati dia bersyukur bisa keluar dari lingkaran nafsu. Aara pun berterimakasih sekali dengan orang yang mungkin masih menunggu di luar. Andai tidak ada suara bell berbunyi mungkin keduanya sudah menyatu berbagi peluh.


Wahyu menganggukkan kepala dan segera keluar kamar. Suara bell kembali lagi terdengar membuat Wahyu begitu geram. Namun, siapa sangka saat dia keluar dari kamar, ada dua orang berbadan kekar berpakaian rapi dengan memakai kemeja berdiri dengan gagah.


Wahyu menautkan kedua alisnya, heran dan bingung. Dia tidak kenal tetapi Wahyu yakin kedua orang itu ada keperluan penting. Di saat Wahyu akan menanyakan kepentingan mereka, justru Wahyu di berikan ponsel dengan layar bertuliskan "Bos".


"Apa maksudnya?" tanya Wahyu tidak mengerti.


"Bos kami ingin berbicara kepada anda. Silahkan!" Salah satu orang berkemeja putih itu kembali mendekati ponselnya pada Wahyu. Dengan ragu Wahyu pun meraih dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.


"Ha_"


"Balik kamar loe! Mau macem-macem sama adik gue? Di sana tuh udah tengah malam dan loe belum keluar-keluar dari tadi. Awas ya loe nyolong start duluan!"


Wahyu memijit pelipisnya, dia lupa jika di sini ada mata-mata calon Kakak ipar yang jelas membuat pergerakannya tidak sebebas yang ia bayangkan. Wahyu pun merutuki Rafkha yang bersikap begitu posesif.


"Iya gue balik. Berasa lagi pacaran sama bocah tau nggak! Loe nggak ada kerjaan apa? Ngelonin bini kek."

__ADS_1


Wahyu jelas sewot, dia yang sedang enak-enak di ganggu oleh Rafkha. Sudah terlanjur enak sampai lupa pesan dari pria itu. Wahyu menutup panggilan secara sepihak. Dia tidak perduli andai Rafkha akan murka. Justru seharusnya Rafkha berterimakasih padanya karena bisa membawa Aara pulang. Wahyu pun akan meminta imbalan restu karena sudah menjaga dan menggagalkan niat Aara bersekolah di Amerika.


"Lihat aja loe, gue minta dikawinin sama adik loe pokoknya." Wahyu menatap sengit kedua pria di hadapannya. Dia pun segera menutup pintu apartemen Aara dan segera masuk ke dalam kamarnya. Dengan kuat Wahyu menerobos di tengah-tengah kedua pria tadi, hingga tubuh keduanya oleng.


__ADS_2