
Brian semakin mengeratkan rahangnya, niat hati ingin bertanggung jawab namun terhalang dengan Aara yang tak membiarkan dirinya mengutarakan maksud dan menjelaskan tentang apa yang terjadi. Dan karena Aara juga Lily semakin terpojok dan tak di untungkan sama sekali. Terlebih ayah mertuanya justru menyetujui saran dari Aara tanpa memikirkan bagaimana perasaan Lily.
"Gue nggak setuju, bayi ini anak gue!" ucap Lily tidak terima, dia sudah mengalah demi sang kakak namun tanpa hati kakaknya merebut semuanya tanpa sisa. Lily memberanikan diri mengutarakan keberatannya.
"Kelak bayi itu akan jadi anak gue!" jawab Aara tegas.
"Tapi gue ibunya!" sahut Lily tak kalah tegas. Keduanya saling menatap dengan tatapan tak ingin mengalah, begitu tajam dengan perasaan berbeda.
Lily tak menyangka setelah selesai kuliah hubungan dia dengan sang kakak tiba-tiba berubah. Aara yang bar-bar tapi kemana-mana selalu ingin bersama, Aara pun begitu dekat dengannya bahkan selalu menempatkan Lily sebagai teman curhat. Kini seperti memasang bendera peperangan. Ntah apa salahnya, atau memang ini balasan akan dirinya yang tega telah diam-diam berkhianat dengan Kakak ipar.
Namun kenapa Aara begitu tega, tanpa memikirkan Lily Aara membuat keadaan dirinya semakin terjepit dan merasa saat ini Aara lah yang paling jahat. Bahkan dirinya yang selalu mengedepankan perasaan sang kakak dari pada kepentingan diri sendiri.
"Tapi kamu belum menikah Lily! Daddy setuju dengan Aara. Ini pun demi kebaikan kamu juga. Apa kamu mau di bully semua teman-teman kamu karena hamil tanpa suami?"
__ADS_1
Lily membuang muka, hatinya hancur tanpa bisa berkata apapun. Daddy nya lebih berpihak pada Aara dan menyetujui apa yang Aara ucapkan. Tak memandang dari segi dirinya yang begitu kecewa dengan keputusan yang sangat tak menguntungkan.
"Sayang....."
"Sakit Mom...." Lily segera berlari menuju kamar, tak ada gunanya ia masih berdiri di sana. Sadar akan dirinya yang sangat merugikan, Lily lebih baik mundur dan membiarkan mereka sesuka hati mengatur hidupnya.
Brian menatap nanar punggung Lily yang semakin menjauh. Rasa kecewa Lily sama seperti apa yang ia rasakan. Tatapan matanya kini beralih ke Aara yang masih menatap kepergian Lily dengan tatapan penuh arti. Matanya mendadak sayu namun seperti menyembunyikan sesuatu yang tidak semua tau.
Brian segara menarik tangan Aara untuk masuk ke dalam kamar. Brian tak peduli jika sikapnya membuat kedua mertuanya tak berkenan. Yang jelas saat ini ia ingin menanyakan maksud dari apa yang Aara utarakan tadi.
Brian menatap nyalang Aara yang kini tengah mengeluh sakit karena akibat tarikan tangannya, pergelangan tangan Aara nampak memerah. Dia segera mengunci pintu dan melangkah mendekat hingga Aara perlahan mundur ke belakang.
"Loe marah?" tanya Aara dengan sikapnya yang berani.
__ADS_1
"Apa maksud loe tadi?" tanya Brian tanpa mengulur waktu. Ia butuh penjelasan dan alasan Aara ingin mengangkat anak, bayi yang Lily kandung.
Aara tak segera menjawab, senyumannya terkesan meremehkan namun tatapan mata Aara tak terlihat takut. Langkahnya pun kini berhenti dan wajahnya seperti menantang Brian yang dia tau begitu emosi.
"Loe harusnya terimakasih sama gue! Dengan ini loe nggak akan kehilangan anak loe!" Aara berucap dengan mendorong sebelah dada Brian dengan jari telunjuknya.
Kedua mata Brian membola, dia tak menyangka jika Aara tau. Apa mungkin Wahyu yang memberitahu, tapi lancang sekali dia hingga memberitahu pada Aara sedangkan Lily mati-matian menutupi agar kakaknya tidak sakit hati. Atau justru Aara selama ini tau apa yang telah terjadi.
"Loe..."
"Siapa lagi kalo bukan anak loe Brian? gue tau hubungan kalian dan mustahil jika itu anak dari Wahyu atau pria lain! Tapi jangan loe pikir gue iba dengan Lily yang menutupi dan tak ada niat buat merusak rumah tangga kita!"
"Loe jahat Aara! loe tau tapi loe tega nyakitin dia padahal Lily sejak awal benar-benar menjaga perasaan loe!" Brian tak menyangka Aara benar-benar tega, bahkan Brian tak mengerti jalan pikiran Aara. Sejak sering ilang-ilangan sikap Aara berubah. Menjadi tidak peduli perasaan orang lain dan egois. Dia pun tak pernah minta ijin meski Brian sudah menjadi suaminya, masih sering melarikan diri dari kantor bahkan pulang larut dengan alasan yang tak jelas. Dan membuat repot Brian yang harus mencari alasan di depan Daddy dan Mommy.
__ADS_1
"Kenapa kalo gue jahat? loe nggak suka? tapi memang loe nggak suka sama gue kan? terus untuk apa gue harus menjadi baik? sedangkan loe aja nggak pernah melihat gue ada Brian! Anak yang Lily kandung akan tetap menjadi anak gue sekalipun loe menolak! Lagian Lily nggak akan merasa kehilangan! Jadi loe tutup hati loe yang lemah itu dan bersikaplah baik pada istri loe!" Celetuk Aara dengan mata yang sudah memerah. Dia segera masuk ke kamar mandi sebelum air matanya menetes di depan Brian.