LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 76


__ADS_3

Brian mengerutkan keningnya saat melihat ada Gibran di kamar Aara, entah sejak kapan pria itu datang. Mungkin, bersamaan dengan keluarganya yang berkunjung untuk menjenguk Tiara yang telah melahirkan. Berarti dapat di pastikan kedua orang tua Aara pun tau jika dia tidak tidur di kamar Aara.


"Mau kemana, Brian?" tanya Aara saat melihat Brian mengambil jaket dan kunci mobil.


"Gue mau jemput Lily, loe udah ada temannya kan?" tanya Brian sambil melirik ke arah Gibran.


Gibran pun hanya tersenyum mendengar ucapan Brian, dia lebih memilih fokus dengan ponselnya dari pada melihat drama di antara mantan suami istri itu.


"Hhmm... Hati-hati! Nanti ajak Lily kesini, gue mau bicara sama adik gue."


Brian menatap Aara sejenak, ada yang aneh dari sikap Aara. Semalam Aara begitu berbinar saat melihatnya, meski tak banyak komunikasi namun, sikap Aara mendadak terlihat berbeda siang ini.


"Mungkin nanti setelah menjenguk Lily," jawab Brian, pria itu segera meninggalkan kamar Aara dan meluncur ke kediaman Baratajaya. Tidak lupa Brian mengirim pesan terlebih dahulu pada Lily, agar wanita itu tidak berangkat sendiri atau menerima tumpangan dari orang lain.


"Kakak jemput sekarang, jangan kemana-mana dan jangan ikut siapa-siapa! Tunggu 20 menit lagi Kakak sampai di sana, oke!"


Dengan cepat Brian melajukan mobilnya, dia takut Wahyu tidak mendengarkan dan nekat untuk tetap menjemput Lily.


...****************...


"Apa benar gue udah menjadi janda sekarang?" tanya Aara dengan pandangan lurus ke depan.


"Hhmm... Loe lupa kalo loe sendiri yang meminta Brian untuk menjatuhkan talak untuk loe setelah meminta maaf pada Lily?" tanya Gibran, dia meletakkan ponselnya ke saku celana kemudian bersidekap dada menatap Aara yang termenung dengan tatapan sendu.


"Kenapa? loe menyesal?" tanya Gibran lagi, melihat mata lentik meneteskan air mata, Gibran menyimpulkan jika Aara gundah gulana saat ini. Mungkin karena masih sayang atau ada sesuatu yang dia pikirkan perkara cinta atau malah di luar dari itu.

__ADS_1


Hati Aara mendadak perih, jiwanya seakan ingin mati, dan jantungnya mendadak berhenti beberapa detik. Tadi Wahyu datang menjelaskan akan hubungannya dengan Brian, sebenarnya Wahyu tidak menjelaskan dengan detail namun bayangan akan kejadian terakhir sebelum dia koma sekelebatan hadir. Ingatan itu muncul dan menyadarkan dirinya jika yang ia lakukan semalam salah. Tanpa sadar Aara menyakiti hati Lily kembali, pantas saja sang adik nampak sendu saat dirinya memilih untuk memeluk Brian. Dia melakukan itu karena memang dirinya sangat merindukan Brian. Orang yang dia cari saat membuka mata pun adalah Brian, bukan kedua orangtuanya ataupun Kakak dan adiknya.


Dia tidak sadar jika telah menyakiti hati Lily, dan tidak ingat jika hubungannya dengan Brian telah berakhir.


"Ikhlasin Ra! Biarkan Lily bahagia, dia korban dan hatinya bukan baja yang bisa di banting kapan saja. Kasih kesempatan untuk mereka, lagian Brian juga nggak cinta sama loe. Mau sampai kapan loe mempertahankan pria yang nggak ada perasaan apa-apa sama loe?"


"Dalam perkara hidup, loe itu beruntung, loe hampir mati, bahkan semua keluarga sudah mengikhlaskan loe jika memang umur loe nggak panjang lagi. Dan asal loe tau, orang yang paling terpukul dengan keadaan loe itu Lily, adik loe sendiri! Adik yang selama ini selalu mengalah,bahkan dia sempat melarang Brian untuk menjatuhkan talak. Semua dia lakukan cuma buat loe!"


Bulir air mata itu semakin deras, sesak sekali dadanya mendengar serangkaian kalimat yang Gibran ucapkan. Dirinya sudah sadar dan tambah sadar lagi setelah mendengar kebenaran yang Gibran berikan. Tiada kata yang bisa mewakili hatinya saat ini. Kecewa, menyesal, hancur, sedih dan bersyukur.


Gibran menggenggam tangan Aara, dia menatap intens pipi tirus yang basah. Mata membesar karena tulang tengkorak yang begitu terlihat. Genggaman tangan Brian pun tidak sekuat sebelumnya, merasakan jemari yang berbalut kulit sungguh membuat Gibran prihatin.


"Kita nggak tau umur orang Ra, ntah gue dulu atau loe dulu yang bakal di kubur. Kita nggak tau takdir orang, hari ini sehat belum tentu besok masih kuat. Bisa jadi malah pulang terus di bacain tahlil. Tapi selagi masih ada kesempatan, gue harap loe bisa lepas semua yang mengganjal di hati loe. Ikhlaskan yang memang perlu loe ikhlasin."


"Gue emang gokil, tapi masalah hidup dan mati gue pikir-pikir. Gue emang suka mainin cewek, dosa gue berlipat-lipat, tapi itu kan mereka yang mau. Toh gue bayar pake emas dan berlian. Gue nggak pernah nyakitin wanita, justru mereka yang untung. Mereka butuh uang gue butuh kepuasan, sekalian penjajakan dalam memilih yang mana yang baik. Tapi bukan berarti gue nggak ada niat buat cari yang serius. Gue juga mau di cintai. Sama halnya kayak loe! Emangnya di sisa umur loe, loe nggak mau ngerasain di cintai laki-laki?"


Aara termenung sendirian, setelah Gibran pamit untuk menjenguk Tiara, kini Aara hanya diam memikirkan hidupnya. Tangan Aara terangkat melihat pemandangan yang tak seperti dulu. Kemudian meraba wajahnya yang terasa tulang saja. Aara pun teringat akan vonis yang di layangkan oleh Dokter tentang hidupnya yang sudah tidak lama lagi.


"Ya Tuhan... Apa benar aku sembuh? Di saat semua orang meragukan bahkan tenaga medis pun putus asa. Aku justru bangun tanpa di paksa. Tapi entah mengapa aku merasa ini hanya sementara. Apa kah setalah hanya kesempatan yang Engkau berikan untuk menyelesaikan hidupku?" Aara mengusap air matanya, dia memilih untuk memejamkan mata dan menenangkan pikiran. Kepalanya begitu sakit mencoba terus berpikir, terlebih belum lama memory nya kembali. Serasa ingin pecah saja kepalanya saat ini.


...****************...


Lily beranjak dari duduknya saat mobil Brian sampai di halaman. Dia ingin segera masuk ke dalam mobil dan pergi ke rumah sakit. Sebenarnya sebelum Brian mengirim pesan. Lily sudah berniat memesan taksi.


Kabar jika Tiara melahirkan membuat kedua orangtuanya bergegas kembali ke rumah sakit dan terpaksa harus meninggalkan Lily di rumah sendiri. Terlebih Lily pun baru terlelap, tubuhnya masih sangat lemas sekali untuk bergerak cepat mempersiapkan diri. Jadilah dia pergi setelah benar-benar mengumpulkan energi.

__ADS_1


"Buru-buru sekali? Padahal Kakak mau minta di buatkan kopi dulu sama kamu." Brian menoleh ke samping, tepat saat Lily tiba-tiba masuk, padahal dia ingin turun tetapi agaknya Lily sangat buru-buru.


"Ingin cepat melihat ponakan Kak." Lily memasang sabuk pengaman tanpa memperdulikan Brian yang ingin turun dan minum.


Brian menghela nafas panjang dan kembali melajukan mobilnya. Di jalan tidak ada banyak perbincangan karena Lily yang terus diam dengan menoleh ke arah luar. Brian yang mengerti alasan dari berubahnya sikap Lily, dengan sengaja mengusap lembut kepala Lily dan turun ke tangan wanita itu lalu menggenggamnya.


"Jangan di jadikan beban Sayang! Kita tidak tau jalan Tuhan!" lirih Brian. Namun, Lily enggan untuk sekedar menoleh, tapi Brian tau jika Lily mengisap air matanya dengan cepat.


Sampai di rumah sakit, Lily segera melangkah menuju kamar Tiara. Dia segera masuk di saat keluarga sudah mulai berkurang, mungkin Mommy dan Daddy saat ini sedang ada di kamar Kakaknya. Sedangkan disini hanya ada Tante Erna dan Tante Cika, calon ibu mertuanya. Itupun jika takdir memihak pada keduanya dan akhirnya menikah.


Selamat ya Ra..."


"Lily..." Tiara memeluk erat tubuh adik iparnya yang kini datang dengan langkah pelan. Tak ada kata yang mampu terucap hanya air mata yang kini menyertai pertemuan keduanya.


"Tampan, hay ponakan aunty! sehat ya sayang. Kalau sudah besar kita main bersama." Dengan menyurut air mata Lily mengangkat tubuh keponakannya dan menimang dengan sayang.


Pemandangan itu pun tak luput dari pandangan kedua pria yang kini tengah menatap dengan perasaan yang berbeda.


"Semoga semua berjalan lancar dan kelak Lily mendapatkan pria yang bertanggung jawab."


Brian hanya bisa menghela nafas berat tanpa berkomentar dan memilih untuk menyapa Tiara.


"Hay Ra...Akhirnya jadi Ibu, selamat ya," sapa Brian kemudian beralih menoleh ke arah bayi yang kini berada di dalam gendongan Lily.


"Makasih Kak, sebentar lagi juga Lily menyusul dan

__ADS_1


kalian akan menjadi orang tua baru."


Lily tidak menjawab apapun, dia lebih memilih memfokuskan diri melihat bayi mungil yang begitu tampan ini. Hanya Brian yang tetap mengaminkan meski dengan hati yang gamang.


__ADS_2