LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 75


__ADS_3

Raihan dengan lembut menarik tangan Andini dan Lily untuk keluar dari ruangan, diikuti anggota keluarganya yang lain. Dengan cepat Bayu pun melangkah keluar kamar setelah sempat menepuk pundak Brian.


Mommy yang mengerti kegelisahan Lily segera memeluk putrinya untuk menenangkan. Beliau tau persis bagaimana perasaan Lily saat ini.


"Sabar ya Nak! Semoga Kak Aara bisa kembali pulih dan mengingat semuanya."


"Lily tidak apa kok Mom, hanya terkejut saja tetapi Lily paham akan kondisi Kak Aara saat ini."


Raihan yang melihat gurat kesedihan di wajah Lily pun hanya bisa menghela nafas berat dan mengusap kepala Lily.


"Sebenarnya bagaimana kondisi Aara saat ini Bay?" tanya Andika yang sejak tadi hanya diam.


"Ini yang mau gue omongin sama kalian semua, gue nggak ngerti apa yang sebenarnya terjadi. Tapi setelah gue dan beberapa dokter memeriksa keadaan Aara tadi, kita semua menyimpulkan jika Aara di nyatakan telah sembuh."


Semua tertegun mendengar ucapan Bayu, ada rasa tidak percaya di balik rasa syukur yang mereka rasakan. Aara yang dinyatakan sudah tidak bisa di sembuhkan, bahkan umur yang sudah tidak lama lagi. Tetiba sembuh dengan sel kanker yang benar-benar hilang entah kemana. Sungguh kuasa Allah yang sangat luar biasa.


"Lalu bagaimana dengan dia yang lupa akan statusnya dengan Brian?" tanya Raihan. Sebagai ayah jelas dia sangatlah bersyukur, tetapi bagaimana dengan nasib putri keduanya saat ini.


"Gue berharap Aara bisa dengan cepat mengingat semuanya. Menurut pengamatan gue, yang Aara lupa hanya kejadian saat kondisinya benar-benar dinyatakan menurun dan kritis. Berarti selain itu dia masih mengingatnya. Semoga di antara kita ada yang bisa mengingatkan. Namun, gue harap kita semua sabar menunggu waktu yang tepat untuk kembali berbicara dengan Aara."


Setelah menjelaskan kondisi Aara, Bayu melirik Lily kemudian, menoleh ke arah istrinya. Keduanya menghela nafas berat dengan mata Cika yang sudah berkaca-kaca.


"Lily, sabar dulu ya Nak! Om janji akan tetap mengusahakan agar Brian cepat menikahi kamu."


Lily tidak menjawab apapun, dia hanya bisa tersenyum getir menerima takdir yang terjadi.


Dari kejauhan Raihan melihat Rafkha tiba-tiba datang dengan langkah panjang. Setelah memastikan Tiara tertidur dengan nyenyak dan aman untuk di tinggal, dengan tergesa Rafkha kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Aara.


"Rafkha..."


"Bagaimana dengan keadaan Aara Dad? Kenapa kalian semua ada di luar?" tanya Rafkha heran melihat semua berdiri di depan kamar Aara.


"Aara sudah sadar, adik kamu dinyatakan sembuh total," jawab Raihan dengan tatapan teduh ke arah putra semata wayangnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah...Tapi kenapa Daddy dan Mommy, juga Lily..." Rafkha berpikir ada yang tidak beres saat ini, jika Aara sembuh seharusnya semua nampak bahagia. Tetapi binar kebahagiaan itu seperti tertutup dengan sesuatu yang membuat hati mereka berkabut. Sampai dimana Rafkha tidak mampu meneruskan pertanyaannya.


"Aara lupa jika Brian telah menjatuhkan talak padanya, dia belum mengingat kejadian terakhir kali sebelum dia dinyatakan koma," jelas Raihan dengan berat hati.


Rafkha menghela nafas berat, dia melangkah mendekati Lily dan memeluk erat adiknya. Sungguh di luar dugaan, di saat tawa itu mulai menghiasi wajah ayu Lily. Kini takdir justru dengan kejam merampas kembali tawanya hingga air mata pun enggan hadir. Lily hanya diam tanpa kata.


"Kakak harap loe kuat, lebih kuat lagi dari sebelumnya. Jika memang kalian berjodoh, takdir akan menyatukan kalian sesulit apapun jalannya."


Lily tak menjawab apapun, dadanya sesak mendengar ucapan Rafkha. Ingin menangis pun seakan tidak bisa. Mungkin air mata itu lelah untuk kembali menghujani wajah sendunya.


Sampai di rumah Lily sulit untuk memejamkan mata. Dia begitu gelisah, terlebih hawa panas yang mulai terasa di kehamilannya yang membesar. Bergerak ke kana dan kiri pun tidak leluasa. Hingga Lily memilih untuk keluar kamar dan duduk di balkon kamar.


Lily mendeesah lirih memikirkan takdir hidupnya yang sangat ekstrim. Rasanya dia ingin kembali menyerah, namun kedua putranya membutuhkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya. Andai dia menikah dengan yang lain pun belum tentu pria lain akan terima begitu saja. Terima akan statusnya yang masih lajang namun beranak dua. Keluarga pria itu pun belum tentu bisa menerima.


Lily mendadak dilema, mungkin dia memang di takdirkan hidup sendiri. Tak berpasangan tetapi memiliki anak kandung, layaknya ****** yang di tinggal kabur. Lily menghela nafas berat, di saat semua terlelap dirinya justru sibuk memikirkan jalan hidup.


"Salah apa aku ya Tuhan..."


Lily masuk ke dalam kamar setelah hatinya sedikit tenang dan gerahnya sudah hilang. Dia melirik ponselnya yang berdering. Di jam yang hampir pagi, masih saja ada yang menghubungi.


Lily segera mengangkat telpon dari Brian, hatinya bertanya-tanya, untuk apa pria itu menghubunginya jam segini? Apa dia tidak tidur? Atau ada kabar dari kakaknya?


"Halo Kak..."


"Kamu belum tidur?"


"Kakak juga, kenapa nggak tidur?"


"Mana bisa tidur jika hatiku resah memikirkan mu, Kakak yakin kamu juga begitu."


"Aku gerah Kak, ini mau tidur. Kakak tidur sana! Awas jangan ganggu kak Aara!"


"Aku di taman sekarang, nggak tenang satu kamar dengan wanita yang buka aku cinta."

__ADS_1


"Rayuannya di save dulu kak, aku ngantuk mau tidur."


"Vidio call ya sampai kamu tidur?"


"Nggak mau, mau buru tidur. Ya sudah ya, aku tidur duluan Kak."


Lily mematikan sambungan teleponnya. Tak biasanya dia bersikap demikian, mungkin karena hatinya kecewa. Namun, Lily terlalu munafik untuk mengakuinya.


Brian merebahkan tubuhnya di kursi taman setelah panggilannya di matikan secara sepihak. Dia menatap langit yang mendung. Selalu saja halangan datang di saat hati sudah ingin berlabuh dengan tujuan yang sama.


Di saat hari itu tiba, dimana Aara sadar dan dia bisa meminta Aara untuk menandatangani surat perceraian. Dia harus kembali kecewa melihat Aara melupakan hubungan mereka yang telah berakhir.


"Ck, anak gue udah mau lahir. Tapi masalah belum kunjung kelar, ya Tuhan...Sampai kapan?"


Brian memilih untuk tidur di kursi taman. Dia terbangun setelah mendengar seseorang memanggilnya. Dengan cepat Brian membuka mata, dia melihat Wahyu tengah duduk di hadapannya saat dengan tatapan datar.


"Udah siang masih tidur loe!"


"Ngapain loe disini?" tanya Brian, dia segera bangkit dari tidurnya dengan melirik jam di tangannya. Jarum jam menunjuk ke angka 10 dan dia begitu pulas sampai tidak tau jika matahari sudah hampir meninggi.


"Bos gue lagi ngurusin istrinya lahiran, gue kesini mau minta tanda tangan. Mendengar Aara juga sudah sadar dari koma, gue sekalian menjenguk dia. Aara nyariin loe! "


"Tunggu, tadi loe bilang apa? Tiara lahiran? Anaknya udah keluar?" tanya Brian memastikan.


"Udah, keluarga loe juga udah pada ngumpul tuh. Cuma Lily yang masih di rumah, ini gue di suruh Rafkha jemput dia."


Brian dengan cepat menoleh dengan tatapan menajam, dia tidak terima jika Lily di jemput oleh Wahyu.


"Balik sono loe ke kantor! tugas loe tuh kerja bukan ngurusin calon bini orang." ketus Brian, emosi sekali dirinya, baru bangun tidur harus mendengar pria lain ingin menjemput pujaan hatinya secara terang-terangan. "Nggak ada takut-takutnya ini orang." Brian menatap sengit wajah Wahyu yang kini seperti meledeknya.


"Bukannya loe mau rujuk? Kalo gue nggak salah dengar, tadi Aara malah masih anggap loe suaminya."


"Itu bukan urusan loe! Dan gue nggak suka loe deket-deket sama Lily! Jangan berani-berani loe jadi benalu di pagar rumah tetangga!" tegas Brian, namun hanya di tanggapi dengan senyum miring dari Wahyu.

__ADS_1


Brian pun segera pergi meninggalkan Wahyu sebelum dirinya kembali emosi dengan pria itu karena, untuk masalah Lily, Brian tidak pernah menganggap main-main.


__ADS_2