
Brian masuk ke dalam kamar untuk merapikan barang-barangnya yang akan di bawa pulang. Dia melihat figura yang terpasang rapi di dinding kamar dengan menampilkan gambar sepasang pengantin. Foto pernikahan yang masih terpajang dengan status mereka yang sudah tergadai dan beberapa foto wanita si pemilik kamar yang kini tengah terbaring koma di rumah sakit.
Bayangan akan perdebatan yang terjadi setiap hari dengan Aara kembali berputar di memorinya. Percekcokan yang tanpa di sadari tak hanya membuat dia tertekan tetapi Aara pun merasakan hal yang sama. Terlebih kondisi Aara yang diam-diam menahan sakit.
"Maaf...." Kembali Brian mengucapkan kata maaf. Brian tak lepas dari rasa bersalah tetapi tak juga menyalahkan takdir hidupnya yang telah digariskan.
Brian melihat ranjang yang masih rapi, ranjang tempatnya tertidur setiap malam bersama wanita yang tidak ia cintai. Ranjang yang menjadi saksi sikap dingin keduanya tanpa ada kemesraan ataupun sapaan lembut setiap pagi dan malam hari.
Brian melangkah mendekat, dia duduk dipinggir ranjang dengan meraih beberapa helai rambut yang ada di bagian tempat Aara tidur. Bodohnya dia tidak menyadari jika Aara mengenakan rambut palsu setiap hari. Brian tidak membayangkan jika setiap malam Aara akan kepanasan karena harus tetap mengenakan rambut palsunya. Sedangkan rambut asli Aara terus rontok hingga kini tak lagi tersisa.
Kamar ini akan menjadi kenangan yang tak akan terlupakan, kenangan dia yang sempat singgah dalam hubungan yang saling menyakiti.
Brian beranjak dari sana dan segera membereskan barang-barangnya kemudian keluar kamar dengan kembali memperhatikan sebentar setiap sudut kamar itu lalu segera pergi dari sana.
Brian tersenyum saat dia keluar dari kamar, Lily telah menunggunya di depan pintu kamarnya. Dia segera melangkah dengan menarik koper dan berdiri di hadapan Lily.
"Nungguin Kakak?"
"Hhmm.... Hati-hati! besok sudah mulai bekerja?"
"Sudah, kamu juga hati-hati ya! Kabari Kakak jika butuh sesuatu dan jangan lupa kabari Kakak setiap ada perkembangan dari anak-anak kita." Brian mengusap perut Lily kemudian bersimpuh di depan perut Lily.
"Hai anak-anak Ayah! Ayah pulang dulu ya, kalian jangan nakal dan membuat Bunda sulit. Suatu saat kita akan bersama setelah kalian lahir ke dunia. Doakan Ayah bisa dengan cepat menyelesaikan semua masalah yang ada."
Brian mengecup perut Lily berulangkali kemudian kembali berdiri menatap Lily dengan senyum hangat yang terus terukir.
"Kakak pulang ya!" Brian mengecup kening Lily dan memperhatikan wajah Lily. Brian menunggu sebentar siapa tau Lily akan kembali berbicara atau setidaknya memberi tanda sayang sebelum dia pulang. Tapi setelah beberapa saat menunggu, ternyata Lily hanya diam. Brian pun segera meraih koper dan pergi dari sana.
__ADS_1
"Kak!" panggil Lily, menghentikan langkah Brian yang akan menuruni tangga. Brian menoleh ke belakang, betapa terkejutnya dia melihat Lily tiba-tiba melangkah panjang dan memeluk tubuhnya.
Brian pun membalas pelukan Lily, sempat mengejutkan tetapi membuat bahagia. Brian mengecup pipi Lily berulangkali.
Lily tidak banyak bicara, tapi sikapnya membuat Brian tau jika Lily sangat berat melihatnya meninggalkan rumah ini.
"Kakak akan sering main ke sini. Jangan putus berdoa untuk hubungan kita. Semoga ada jalan untuk kita cepat bersama. Karena jujur, Kakak ingin kamu cepat menjadi istri Kakak. Kakak juga ingin ada yang mengurus dan menemani Kakak tidur. Seperti Rafkha dan Tiara." Brian merenggangkan pelukannya dan mencolek hidung Lily membuat wajah Lily merona.
"Jangan berjalan seperti tadi! Kamu bawa dua nyawa di dalam sana dan kaku sukses buat jantung Kakak hampir copot tau nggak? Kalo kepleset gimana, hhmm?"
"Kakak lebay, kan ada Kak Brian, superhero Lily!"
Keduanya saling tertawa kecil, tetapi tawa Brian tiba-tiba menghilang saat dia merasakan kecupan di pipinya. Brian segera menoleh ke arah Lily, namun dengan cepat wanita hamil itu membalikkan tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam kamar.
Brian mengusap pipinya, senyumnya kembali mengembang dengan hati berbunga-bunga.
"Mulai berani kamu sayang, kayaknya bakalan lampu hijau. Siap ngegas gue setelah ini." Seperti ada semangat baru untuk Brian melalui hari-hari yang tak mudah dia lalui. Meski dia harus kembali di sibukkan dengan pekerjaan dan akan jarang bertemu dengan Lily, tetapi setidaknya hati aman karena Lily mulai memberikan sinyal-sinyal positif untuknya.
Sudah satu Minggu setelah kepulangan Brian, keduanya tidak saling bertemu, laki-laki itu seperti mulai ingkar. Tidak ada kabar dan tidak ada batang hidungnya datang ke rumah. Lily resah menunggu setiap hari, bahkan kemana-mana wanita itu tidak melepas ponselnya dari genggaman.
Lily pun selama seminggu ini tidak mencari tau kabar Brian. Lily tidak mau mengirim pesan lebih dulu. Alhasil dia hanya bisa uring-uringan setiap malam. Seperti malam ini, Lily tampak tidak bersemangat untuk makan malam, dia yang sudah mulai biasa makan tanpa di tunggu Brian biasanya bisa menghabiskan banyak makanan. Tetapi sejak tadi Lily hanya mengaduk-aduk makanannya dengan wajah lesu.
"Kalo rindu itu bilang bukan di tahan!" ucap seseorang yang berdiri di belakang Lily. Wanita itu hafal betul siapa pemilik dari suara itu. Dengan cepat Lily menoleh ke belakang dan melihat Brian yang berdiri dengan masih mengenakan pakaian kerja.
"Ngapain kesini? Masih ingat jalan ke rumah ini?" ketus Lily dengan menatap sengit pria yang kini justru tersenyum miring menatapnya.
"Di telpon Mommy, katanya ada yang meriang makanya aku kesini. Ya kan Dad, ijin buat kejutan ya Dad," ucap Brian, kemudian di beri anggukan oleh Daddy Raihan. Sedangkan Mommy sejak tadi hanya diam mengulum senyum. Memang beliau yang meminta Brian untuk datang di sela kesibukannya. Ternyata Brian memang sibuk dan selalu lembur hingga tidak sempat datang menengok putrinya.
__ADS_1
"Siapa yang meriang? Tidak ada yang sakit, jangan ngarang jadi orang!"
"Ini bumil yang tengah hamil anak-anakku, dia meriang kata Mommy. Merindukan duda tersayang!" Brian merapikan jasnya dengan bangga.
"Gayanya macam bos saja!" celetuk Lily dengan bersidekap dada. Dia melihat Brian dengan berpenampilan beda, sekarang lebih terlihat seperti Kakak dan Daddynya yang jika ke kantor selalu mengenakan jas.
"Memang Bos, asli bukan kw!" jawab Brian dengan menggelengkan kepala, dia pikir akan di sambut dengan pelukan, ternyata Lily terlihat sangat kesal. Brian sadar, mungkin Lily marah karena dirinya tidak mengabari dan mengunjungi.
Brian segera mencium tangan Daddy dan Mommy, kemudian mengulurkan tangannya ke arah Lily tetapi wanita itu hanya melirik tanpa peduli. Agaknya Brian harus kembali bersabar, mood bumil sedang hancur dan butuh bujuk rayu.
"Mom, sepertinya Mommy salah. Benar kata Lily, ngapain Brian kesini. Ternyata memang tidak ada yang merindukan Brian Mom, jadi Brian pulang saja ya. Brian capek sekali setelah seminggu lembur-lemburan."
Lily semakin cemberut dengan memajukan bibirnya, bukannya merayu malah pamit pulang. Sungguh tidak peka sekali pria itu. Lily menatap sengit Brian yang mulai beranjak dari duduknya.
"Kakak pulang ya." Brian mengacak gemas rambut Lily kemudian segera melangkah mundur.
"Pulanglah, jangan harap ada pernikahan di antara kita. Loe Gue end!"
Mommy dan Daddy serta Brian hampir saja tertawa mendengar ucapan Lily dengan gayanya yang menggemaskan. Terlebih Lily segera menggigit paha ayam dengan lahap seperti sedang melupakan rasa kekesalannya.
"Aduh...," rintih Lily saat merasakan tendangan kencang dari dalam perutnya.
"Lily kamu tidak apa-apa Nak?" tanya Mommy dengan khawatir. Begitupun dengan Daddy dan Brian yang memperhatikan Lily. Bahkan Brian kini sudah duduk bersimpuh di lantai dan mengusap perut Lily dengan lembut.
"Ini tendangannya kencang sekali Mom," keluh Lily.
Brian mengulum senyum setelah tau alasan Lily mengaduh. Agaknya kedua anaknya protes karena sang Bunda yang jual mahal dan mengusir Ayahnya.
__ADS_1
Mommy dan Daddy pun bernafas lega karena Lily baik-baik saja.
"Jangan mengusir Ayahnya jika kamu tidak ingin di tendang kedua putra mu!" ucap Daddy membuat Lily menundukkan kepala menahan malu.