
"Lily!"
Tiara segera mengejar Lily hingga membuat langkah wanita itu terhenti. Setelah Lily masuk Wahyu pun segera pamit pulang. Apa lagi tatapan Rafkha yang masih begitu tajam membuat Wahyu malas berlama-lama.
"Jangan lari!" titah Lily dengan bibir merengut. Tiara pun segera melambatkan jalannya, ia lupa jika kini sedang berbadan dua.
"Jangan manyun! Udah makan belum? gue buat asinan seger banget. Loe mau nggak? di jamin bikin ngiler!" Tiara tersenyum dengan menaik turunkan alisnya, ia tau Lily tak akan mau. Karena memang ia tidak suka dengan kuahnya yang terkesan asam dan pedas. Sengaja meledek biar Lily tambah kesal.
"Makan aja sendiri!" celetuk Lily, kemudian ia segera berbalik meninggalkan. Berjalan menuju kamar tamu dengan menggeret kopernya. Niat hati ia akan mandi lanjut bersih-bersih.
"Abis mandi lanjut ke meja makan ya adikku yang manis, gue tunggu! Kakak loe udah kelaparan nih!" seru Tiara yang tak lagi mengikuti langkah Lily. Lily pun hanya mengacungkan jempol ke atas tanpa bersuara. Dan langsung segera masuk ke dalam kamar.
Lily menghempaskan tubuhnya ke ranjang, lelah sekali ia rasa, kepalanya pun sedikit berat. Setelah tenang langkahnya gontai menuju kamar mandi. Malas ia rasakan, ingin terus rebahan tapi perut terasa lapar.
"Nggak enak banget dech ini badan rasanya..." Keluh Lily kemudian segera keluar kamar menuju ruang makan. Di sana sudah ada Rafkha dan Tiara yang sedang sibuk menekuni piringnya yang terisi menu makan malam. Melangkah mendekati dan ikut bergabung juga.
"Makan Ly, jangan cuma di liatin doank! Loe nggak cocok sama masakan gue?" tanya Tiara yang kini mengamati Lily di tengah makannya. Dia merasa heran, padahal yang di masak adalah makanan kesukaan Lily juga tapi kenapa seperti tak berselera.
"Mendadak nggak nafsu gue!" Ucapan Lily menghentikan gerakan tangan Rafkha. Pria itu menatap heran wajah Lily yang terlihat sedikit pucat. Di tambah lagi Lily yang kini malah menyendok asinan dan mengisi mangkuk yang telah di sediakan oleh Tiara.
"Loe yakin?" tanya Tiara yang merasa Lily beda.
"Kenapa?" Bukan menjawab, Lily malah balik bertanya. Aneh memang jika di pikirkan, karena Lily yang memang tidak suka makanan itu dan tadi sempat menolak malah justru dengan santai menyendok lalu makan tanpa beban.
Tiara dan Rafkha tak lagi berkomentar, apa lagi setelah melihat Lily yang begitu lahap. Hingga tanpa sadar membuat keduanya saling menatap dan tercengang dengan isi mangkuk yang sudah tak tersisa.
__ADS_1
"Katanya nggak nafsu makan, tapi asinan semangkuk habis begitu. Loe kata nggak doyan, tapi makannya sampe nggak nafas."
Lily pun merasa heran sendiri, ia melihat mangkuknya dan menyendok lagi sendok yang masih tersisa kuah asinan. "Asem, pedes, tapi kok seger..." Lily mengernyitkan dahi menatap kuah asinan yang sudah habis. "Kok enak?" tanya Lily lagi menatap ke kedua orang yang berada di depannya.
"Makan nasi!" titah Rafkha yang takut jika Lily kenapa-kenapa. Apa lagi Lily yang memiliki riwayat penyakit magh, sudah pasti akan bermasalah jika makan sembarangan.
Lily melirik nasi, tapi tak ada daya tarik. Dan merasa enggan untuk menyantapnya. Dia menghela nafas berat kemudian menggelengkan kepala.
"Nggak nafsu!" Lily segera beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar.
"Loe udah kayak orang bunting jamet!" celetuk Tiara menghentikan langkah Lily dan mendebarkan jantungnya begitu cepat. Lily menunduk melihat ke arah perut, ntah mengapa ada rasa takut yang menggetarkan hatinya. Yang membuat kejadian malam panas bersama Brian kembali terputar jelas di ingatan.
Lily menggelengkan kepala dan kembali melangkah menuju kamar, hatinya begitu gelisah tapi berusaha untuk tetap tenang. "Nggak mungkin, saat itu gue nggak lagi masa subur." Lily menyakinkan dirinya sendiri jika apa yang ia takutkan akan terjadi.
"Badan gue kenapa sich, kok jadi begini...." Keluhnya kemudian duduk di depan cermin mengeringkan rambut yang masih basah. Ingin rasanya rebahan dan tidak berangkat ke kantor, tapi dia malas jika nantinya akan di interogasi oleh Rafkha dan Tiara.
Setelah rapi dengan pakaian kantor dan berias menutupi wajah pucat nya, kini Lily turun ke bawah bergabung untuk sarapan. Senyumnya mengembang saat Rafkha memperhatikan dia yang menggenggam tas di tangan.
"Sehat?"
Lily tersenyum mendengar pertanyaan sang Kakak, meski terkesan dingin tapi ia tau jika Rafkha perhatian. "Keliatannya?" tanyanya balik mengundang decakan di bibir Rafkha.
"Sehat Kak, Lily kan wonder women. Hatinya di banting-banting, di sobek-sobek, di giles-giles aja masih bisa ketawa. Ya nggak?" sahut Tiara.
"Loe kata gue bungkusan nasi Padang?"
__ADS_1
"Salah, kertas nasi uduk!" timpal Tiara lagi seraya terkekeh melihat reaksi Lily yang kembali kesal. Bagi Tiara, lebih baik begini dari pada diam memikirkan sesuatu yang tak akan lagi kembali. Dan hanya rugi yang ia dapati.
"Udah cepet sarapan, laki gue udah mau kelar tuh!"
Lily melihat menu sarapan pagi yang Tiara buat sendiri. Ada sandwich di atas piringnya, cukup menarik tapi ntah mengapa nafsu makan Lily kurang baik.
Lily menarik nafas dalam dan membuangnya dengan perlahan. Ia segera menarik gelas di hadapannya dan segera meminum sebelum mencicipi sarapannya.
Wajah Lily memerah menahan sesuatu, ia segara beranjak dari duduknya dan berlari menuju wastafel dapur. Susu yang biasa ia minum setiap pagi mendadak menimbulkan gejolak di perutnya. Rada muak menyeruak hingga ia tak dapat menahan sesuatu yang ingin keluar.
Huwek
Huwek
Lily memuntahkan isi perutnya, tak banyak karena semalam ia tidak makan makana berat tapi cukup membuatnya lemas. Keringat pun seketika bercucuran, hingga mulutnya terasa pahit.
Tiara dan Rafkha yang tadi cukup terkejut dengan pergerakan Lily yang tiba-tiba, segera melangkah menyusul. Tangan Tiara dengan cepat di genggam oleh Rafkha karena takut istrinya terjatuh.
"Loe kenapa sich Ly? gue tuh ngasih susu bukan racun!" celetuk Tiara yang tadi begitu panik hingga perut nya terasa begitu keram.
Lily tak menjawab, rasanya ia masih begitu mual. Membuka mulut pun enggan karena ia merasa tak sanggup jika kembali muntah. Tangan Lily berpegangan lengan Rafkha. Sang kakak yang hanya menatap diam dengan perlahan menuntun kedua wanita yang ia sayang kembali ke meja makan.
Lily menjauhkan gelas susu yang ia minum karena melihatnya saja membuat perut kembali bereaksi. Tak hanya itu, makanan yang ada di hadapannya ia geser juga karena yakin jika ia memakannya, reaksi yang sama akan terjadi. Dan semua yang Lily lakukan mengundang pertanyaan.
"Loe udah kayak orang mabok gegara buntung tau nggak Ly! asam lambung loe ngajak perang? makanya jangan kebanyakan makan asinan, gue yang pengen loe yang ngabisin."
__ADS_1