LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 124


__ADS_3

"Jadi kapan akan diselenggarakan acara pernikahan kalian?" tanya Daddy Raihan pada calon menantunya.


Setelah acara lamaran diterima dengan baik oleh Aara dan keluarga. Kini saatnya mereka menentukan hari untuk acara pernikahan Wahyu dengan Aara.


Wahyu nampak berfikir tetapi Papahnya dengan cepat menjawab. "Lebih cepat lebih baik, saya pribadi ingin mereka cepat melangsungkan acara pernikahan besok atau lusa. Agar cepat sah!"


Semua yang menyimak nampak tercengang karena terkesan begitu terburu-buru, sedangkan belum ada persiapan apapun untuk acara pernikahan. Begitupun dengan Aara yang begitu terkejut dengan jawaban calon Papah mertuanya.


Aara tak menyangka jika begitu cepat pernikahan akan dilaksanakan. Wanita itu menoleh ke arah Wahyu yang juga masih diam termenung. Tidak ada pembicaraan sebelumnya, hanya yang Wahyu tau sang Papah memang meminta untuk di segerakan.


"Bagaimana Pak Raihan?" tanya Pak Budiman karena calon besan pun masih terdiam. Beliau bingung dengan keputusan Pak Budiman yang terlalu cepat.


Raihan menoleh ke arah putranya yang juga masih diam belum mau berkomentar, kemudian menoleh ke arah Aara yang tidak tau harus berkata apa. Sang istri pun hanya diam mengusap lengannya.

__ADS_1


"Untuk hal ini saya serahkan kepada calon pengantin saja karena, jujur saya sendiri bingung dan merasa ini terlalu terburu-buru. Jika memang mereka menyetujui, saya hanya bisa mendukung agar acara lancar."


Aara dan Wahyu saling menatap, hingga Wahyu menganggukkan kepala menyetujui setelah sang mamah berusaha meyakinkan.


"Baik Pah, acara pernikahan akan dilangsungkan lusa," jawab Wahyu yang akhirnya buka suara.


"Tidak perlu khawatir, masalah acara dan persiapan semuanya biar saya dan istri yang mengurusnya. Yang terpenting calon pengantin siap," sahut Pak Budiman dengan tersenyum lega. Beliau begitu berharap Wahyu cepat mengurus perusahaan dan menggantikan posisinya.


Setelah kesepakatan menemukan titik terang, kini orang tua Wahyu pamit pulang sedangkan Wahyu memilih untuk belakangan karena masih ingin berbicara pada Aara.


"Masih deg-degan, tinggal lusa aku sudah mendapat gelar nyonya Wahyu. Seakan mimpi, aku pikir masih beberapa bulan lagi untuk mempersiapkan semuanya. Ternyata, secepat ini kita akan menikah."


Wahyu mengulum senyum menatap Aara dengan mengusap surai hitam yang tertata indah. Dia pun merasakan apa yang Aara rasakan, beruntung tidak mendapat penolakan dari keluarga Baratajaya.

__ADS_1


"Tenang saja, kamu tinggal duduk diam dan terima beres, oke!" Wahyu mencoba menenangkan Aara agar tak terlalu memikirkan karena Wahyu yakin sang Mamah bisa menyiapkan semuanya dengan baik.


"Hhmm... Apa yang harus aku persiapkan?" tanya Aara dengan tatapan nakal.


"Tidak perlu menyiapkan apapun, karena aku mendapatkan janda kembang yang masih rapat dan belum pandai bergoyang." Wahyu mencubit pipi Aara hingga membuat wanita itu meringis kesakitan. Gemas sekali rasanya. Wahyu ingin cepat menikah dan memboyong Aara untuk tinggal di rumah yang diam-diam ia beli tanpa sepengetahuan siapapun.


"Aku tunggu di pelaminan ya," ucap Wahyu dengan mengedipkan sebelah mata. Dia segera pamit karena hari sudah hampir larut malam.


"Tidur yang nyenyak! Aku hanya butuh kamu sehat dan kuat menghadapi aku di ranjang." Ucapan penuh makna yang mendalam, bukan hanya sekedar urusan ranjang tetapi juga kesehatan.


Wahyu memang lebih mengutamakan kesehatan Aara. Meskipun sudah di vonis sembuh tetapi penyakit Aara yang dulu sangatlah serius. Jadi masih harus terus dipantau, terlebih sempat menjalar ke bagian organ vital lainnya.


Wahyu tau betul karena dialah yang berhadapan langsung dengan dokter di Amerika. Mukjizat itu memang ada, tetapi kesembuhan tidaklah mencapai 100%. Aara pun tau itu, hanya 80% dan dokter menganjurkan untuk menjaga makan, lebih menghindari makanan jungfood dan rajin berolahraga. Maka dari itu, Aara lebih suka masak sendiri karena memang itu lebih di anjurkan oleh dokternya di Amerika.

__ADS_1


"Ish apa sich, jangan menakutiku seperti itu!" ucap Aara dengan wajah merona.


"Nyatanya, kamu akan menjadi mangsaku nanti."


__ADS_2