
Brian menelan salivanya melihat kulit dada Lily yang begitu putih menggoda. Ingin rasanya menyentuh namun baru ada niatan saja tiba-tiba tubuh Brian terdorong ke belakang. Lily mendorong tubuhnya bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. Beruntung Lily tepat waktu, jika tidak sudah pasti orang yang berada di luar lift akan berpikir macam-macam. Brian pun segera meraih tangan Lily dan membawanya keluar dari sana.
"Kakak nich." Kesal Lily saat keduanya sudah berjalan di koridor hotel.
"Kenapa?" tanya Brian santai.
"Meresahkan jiwa dan raga, tau tempat donk Kak!" Lily betul-betul dibuat geregetan dengan anak soang yang satu ini. Namun, Brian nampak santai saja seperti tak terjadi apa-apa hingga keduanya berhenti di depan kamar nomor 430.
"Jadi semalam kamu menginap di kamar ini?" tanya Brian menghentikan langkahnya sebelum masuk ke dalam. Brian menghela nafas berat setelah melihat Lily menganggukkan kepala. Dia yang semalam mencari kamar Lily kemana-mana dan ternyata kamar Lily berada di sebelah kamarnya.
Lily menoleh ke arah Brian dengan mengerutkan dahi. Dia bingung melihat Brian yang menoleh ke arah pintu kamar sebelah dan kamarnya berulang kali. Brian masih tidak percaya dan masih terus memastikan bahwa apa yang ia lihat itu benar.
"Gila, ini yang ngatur kebangetan sich. Kebangetan pinter sampai buat gue terkecoh." Tanpa Brian tau jika ini adalah kelakuan Mommy Andini. Mommy yang telah mengatur semuanya agar keduanya tak dapat bertemu tetapi yang Brian tak habis pikir adalah, kenapa justru membuat keduanya bertetangga kamar semalam.
Sebelum berganti pakaian Lily meminta untuk dirias terlebih dahulu karena dia menunggu kedua putranya datang untuk diberi ASI. Lily sudah merasa tidak nyaman sampai terasa sesak dan berat di dada.
"Halo anak-anak Bunda..."Lily begitu senang melihat sang Mommy datang dengan mendorong stroller berisi dua tempat untuk kedua putra kembarnya.
"Jangan lama-lama menyusuinya Sayang! Di luar sudah banyak tamu yang datang, dan jangan lupa makan dulu! Mommy tadi sudah meminta pihak dari hotel untuk membawakan makan untuk kalian.
"Iya Mom," jawab Brian dan juga Lily. Lily pun segera menyusui Brilly terlebih dahulu sedangkan Brian mendekap Lian dengan gemas mengurai kerinduan dengan kedua putranya.
Mommy memilih untuk kembali ke tempat acara untuk menemani suaminya makan siang dan menyambut tamu yang datang selagi kedua cucunya sedang di beri ASI oleh Lily.
__ADS_1
Brian menoleh ke arah Brilly yang begitu lahap menghisap sumber kehidupannya. Dia pun segera mendekat dan membisikkan sesuatu pada Lily.
Lily berusaha tidak menghiraukan bisikan Brian namun, pria itu sukses membuat wajah Lily kembali merona. Dengan cepat Lily meraih kain yang ada di dalam stroller untuk menutupi dadanya yang terbuka. Lily pikir setelah menikah aman saja menyusui di depan Brian yang sudah berstatus sebagai suami tetapi, ternyata dia salah. Brian semakin gencar menggoda dan membuatnya semakin gelisah.
Setelah kedua putranya kembali tertidur, kini Lily dan Brian bersiap untuk berganti kostum berikutnya dan segera kembali ke pelaminan. Mereka tidak lupa makan, Brian yakin tamu akan semakin banyak menjelang sore dan membuat mereka tak akan sempat melakukan apapun selain menyalami para tamu. Mommy pun sudah kembali ke kamar untuk menjemput kedua cucunya.
" Cepat kalian turun! Ada tamu penting Daddy datang, sepertinya klien besar dan kini sengaja menunggu kalian," ucap Mommy agar keduanya segera turun.
"Oke Mom, titip Brilly dan Lian ya Mom," ucap Brian kemudian meraih tangan Lily kemudian melangkah menuju lift. "Repot ya kalo punya orang tua terkenal dan kaya raya. Tamunya banyak banget, tapi ini nggak seperti yang pertama. Mommy dan Daddy seperti tak ingin rugi, ampun dech," keluh Brian yang hanya mendapatkan tatapan teduh dan senyuman dari Lily. Wajah Lily memang mampu menenangkan dirinya.
Brian membukakan pintu utama dan mempersilahkan Lily untuk masuk terlebih dahulu. Keduanya melangkah dengan di sambut oleh banyak pasang mata tamu yang baru hadir dan sengaja menunggu mereka dengan menikmati jamuan yang ada. Namun, baru saja beberapa langkah. Brian heran dengan Lily yang berhenti tiba-tiba. Dia menoleh ke arah Lily yang kini justru menitikkan air mata membuat Brian mendadak panik.
"Sayang..."
"Pantesan minta kunci rumah, jadi mereka datang," lirih Brian.
Brian kembali mengajak Lily mendekati orang yang kini tengah tersenyum menatap adiknya. Lily rasanya ingin segera berlari namun begitu sulit karena gaunnya yang menjuntai indah ke lantai.
"Kak Aara..." Lily segera memeluk Aara dengan terisak. "Jahat! Katanya nggak dateng tapi ternyata bohong," rengek Lily memeluk erat Aara.
"Kan kejutan, kalo bilang jujur bukan surprise namanya. Selamat ya adik gue, akhirnya kalian menikah. Gue bahagia lihatnya, adik gue makin cetar lagi. Makin kesini makin montok, makin menggoda, makin wow banget," ledek Aara membuat Lily tertawa disela tangisnya.
"Kakak juga sudah sehat lagi, seger dan padat berisi," ledek Lily juga.
__ADS_1
Keduanya dikejutkan dengan pelukan pria sedarah dengan mereka. Rafkha begitu terharu melihat keduanya saling berpelukan dan menitikkan air mata. Dia pun segera ikut bergabung dengan keduanya dengan perasaan lega.
"Bahagia terus adik-adik gue..."
Mereka pun menjadi sorotan para tamu hingga yang tadi sempat berpikir buruk dan membicarakan yang tidak-tidak, kini tampak diam dan tak lagi bersuara setelah melihat keakraban ketiga bersaudara itu.
Mereka melerai pelukannya, Aara mengusap air mata Lily dengan hati-hati. "Jangan nangis! Mommy pasti bayar MUA nggak murah, sayang aja kalo make up-nya luntur sia-sia."
Lily mengkibas-kibaskan tangannya di depan wajah dan menarik nafas dalam lalu mengeluarkan dengan perlahan. Lily menenangkan dirinya agar bisa menahan tangis bahagia.
Melihat itu, Brian menarik pinggul Lily dan berbisik di telinga wanita itu.
"Jangan menangis lagi Bunda, malu sama Brilly dan Lian." Lily tersenyum dengan menyurut air mata. Dia pun membersihkan hidungnya yang mulai meleleh.
"Cie... Jadi suami lagi, selamat ya. Jagain adik gue, btw kado sudah gue taro di kamar kalian. Kalo nggak salah sich kamar utama. Keren," ucap Aara dengan mengacungkan jempol membuat Lily mengerutkan keningnya.
Brian menendang kaki Wahyu namun dengan cepat Wahyu menghindar agar tidak kena. "Bini gue belum tau rumah itu, tapi loe berdua udah main masuk kamar gue!" sewot Brian.
"Ck, kalo nggak gitu itu kado bikin pengen tetangga loe berdua!" jawab Wahyu asal dan menoleh ke arah Lily. "Selamat ya calon adik ipar," ucapnya dengan meraih tangan Lily.
"Adik ipar?" lirih Lily. Tentang rumah dan kado saja Lily masih penasaran. Sekarang Wahyu menyebutkan dengan calon adik ipar.
"Setelah acara temuin gue!" titah Rafkha pada Wahyu sebelum akhirnya dia meraih tangan Aara dan membawa adiknya untuk kembali berkumpul dengan keluarga yang lain.
__ADS_1
"Giliran loe sekarang yang berhadapan dengan Rafkha, selamat mendapatkan tantangan baru." Brian menepuk pundak Wahyu kemudian meraih tangan Lily membawa sang istri naik ke pelaminan.