
Lily bernafas lega setelah melihat Brian keluar dari kamarnya. Bukan tega tetapi karena, pria itu sangatlah meresahkan. Lily memilih untuk beristirahat setelah pengalaman pertama yang menguras tenaga dan air mata hingga, sulitnya menyusui kedua buah hati. Dia begitu lelah dan tak membutuhkan waktu yang lama, kini Lily terlelap begitu nyenyak.
Brian yang berdiri di depan pintu enggan untuk pergi, dia mengintip Lily dari luar dan kembali masuk setelah memastikan Lily sudah tertidur. Brian masuk kembali dengan mengendap-endap. Dia tidak ingin mengganggu Lily dan kedua putranya. Brian sendiri begitu lelah, lelah tenaga, perasaan dan lelah menahan si Joni yang masih tegang.
"Gue bawa tidur kalo loe nggak tidur juga, bangun-bangun gue ajak ngamar loe!" gumam Brian dengan kesal. Dia merebahkan tubuhnya di atas sofa dan mulai memejamkan mata.
Mereka tertidur dengan pulas, Ayah, Bunda dan kedua bayi kembar. Nampak begitu damai terlelap sampai malam menyapa. Lily terbangun lebih dulu setelah mendengar suara pintu terbuka. Ternyata Mommy dan Daddy yang datang. Perlahan Lily berusaha untuk duduk dan bersandar di bantal.
"Sudah bangun? Makan dulu ya! Tadi mereka rewel nggak Sayang? Mommy lama karena Tiara mendadak telepon dan meminta tolong untuk datang. Tiara masuk angin, mungkin karena sering bangun tengah malam atau kakakmu yang mulai meresahkan."
Mendengar ucapan mommy membuat Lily teringat akan Brian yang tadi pun mulai membuat gelisah. Beruntung belum menikah, masih aman tidak mendapat gangguan. Namun, sedih juga jika setelah pulang ke rumah, tidak ada suami yang menemani saat sibuk bangun malam untuk menyusui.
Lily melirik ke arah sofa, dia melihat Brian begitu nyenyak. Kasihan juga jika di lihat saat posisi terlelap begini. Lily yakin Brian pasti sangat lelah apa lagi baru pulang dari luar kota dan besok pagi harus kembali bekerja.
"Rewel Mom, susunya keluar dikit. Jadi mereka rewel karena tidak sabaran. Terus rasanya kok sakit sekali ya Mom, perih, nggak nyaman. Ini aja berasa seperti gimana gitu," keluh Lily dengan memejamkan dan membuang nafas berat.
"Sabar! Nanti jika sudah terbiasa juga nggak sakit lagi. Namanya juga lidah anak, beda sama lidah bapaknya."
Lily tercengang mendengar ucapan mommy, dia menolah ke arah Daddy yang hanya menggelengkan kepala tanpa berkomentar. Daddy lebih memilih untuk memperhatikan kedua cucu kembarnya dari pada ikut bicara.
"Mommy ini, ada-ada saja," sahut Lily.
"Ya memang begitu, ini Mommy sudah buatkan sayur katuk dan Mommy juga belikan kapsul katuk agar ASI nya deras seperti air terjun. Menyusui bayi laki-laki itu harus sabar, mereka kuat minumnya."
Lily menganggukkan kepala kemudian membuka mulut menerima suapan demi suapan dari Mommy.
Tepat pukul delapan malam Brian baru terjaga. Brian menoleh ke arah Daddy yang kini sedang menikmati kopi kemudian melihat Mommy sedang menggantikan popok, dan Lily yang serius memperhatikan setiap gerakan Mommy.
__ADS_1
"Dad, kopinya masih ada?" tanya Brian. Dia sangat membutuhkan kopi karena matanya yang masih berat walaupun, sudah menghabiskan waktu tiga jam untuk beristirahat.
"Ada, Daddy letakkan di samping dispenser itu. Buatlah! Daddy tau kamu masih ngantuk. Besok stay di kantor atau ke luar kota lagi?" tanya Daddy memperhatikan Brian.
"Di kantor Dad, ya sudah Brian buat dulu," jawab Brian kemudian melangkah menuju kamar mandi ingin mencuci muka lalu, membuat kopi untuk menghilangkan rasa kantuknya.
Lily hanya diam memperhatikan Brian sekilas kemudian, kembali fokus dengan Mommy yang sibuk mengurus kedua putranya.
"Kalo masih ngantuk pulanglah Brian! Biar Mommy dan Daddy yang menemani Lily di sini." Mommy tidak tega melihat wajah Brian yang terlihat lelah.
"Tenang saja Mom, nanti Brian tidur lagi jika kondisi aman. Mommy dan Daddy saja yang beristirahat di rumah. Brian sudah sangat merepotkan kalian," sesal Brian.
"Tidak merepotkan, Mommy mengerti kondisi kalian. Daddy juga tidak keberatan, Lily aman sama Mommy dan Daddy. Kamu besok masih kerja kan? Jaga kesehatan kamu karena sebentar lagi tugasmu semakin banyak. Lihat saja anak Mommy belum bisa menggantikan popok !" sindir Mommy dengan melirik ke arah Lily.
Lily hanya merengut tidak menanggapi, biarkan saja di sindir karena ucapan Mommy benar adanya.
Brian tersenyum kemudian mendekati Lily dengan memegang secangkir kopi. Dia mendekati wajahnya dengan wajah Lily dan memperhatikan Lily dari dekat. Namun Lily enggan menoleh dan berpura-pura tidak tahu.
Lily terperangah, mendadak pipinya merona. Haruskah les privat dalam belajar mengurus bayi? Sungguh Brian membuatnya menjadi tambah tidak fokus dalam belajar.
"Setelah Lily bisa bergerak lebih bebas, pasti Lily bisa Mom," ucapnya membela diri. Terlihat begitu mudah, di bolak balik rapi dan dia yakin pasti bisa. Seperti yang ia lihat, Mommy begitu mudah menggantikan pakaian dan popok si kecil.
"Harus bisa, Mommy juga dulu masih harus banyak belajar, lama-lama ya bisa sendiri. Tenang, ada Mommy!" Mommy mengedipkan sebelah matanya lalu meminta Lily untuk segera menyusui bayi pertamanya.
"Di ganjal bantal Sayang agar tidak kejauhan, itu tempat keluarnya asi bukan karet yang bisa di tarik-ulur sampai bawah begitu!" celetuk Mommy, beliau mengajarkan Lily cara menyusui bayi agar lebih mudah. Pantas saja tadi begitu sulit dia lakukan.
"Ngomong-ngomong cucu Mommy siapa namanya?"
__ADS_1
Lily tidak langsung menjawab, dia melirik ke arah Brian yang kebetulan sedang menoleh ke arahnya. Mommy pun mengikuti arah pandang Lily yang berhenti di Brian. Beliau mengerti jika Lily memasrahkan masalah nama kedua putranya kepada Brian.
"Siapa nama mereka Brian?" tanya Mommy kepada Brian.
Brian nampak berpikir namun, matanya tidak beralih dari wajah cantik yang sedang menyusui. Kali ini dia tidak lagi bisa nakal karena bagian atas sudah di tutupi oleh Lily dan juga ada Mommy serta Daddy di sana.
"Yang pertama , Brilly Pamungkas dan yang kedua, Lian Pamungkas. Gabungan dari nama aku dan Lily Mom. Jika digabungkan menjadi brilian karena mereka sangatlah berharga. Bagaimana? Apa Mommy dan Daddy setuju?" tanya Brian dengan menoleh ke arah Mommy dan Daddy secara bergantian.
"Apapun itu, selagi baik Daddy setuju. Semoga menjadi anak Sholeh," jawab Daddy dengan penuh harapan.
"Aamiin..." Mommy, Brian dan Lily pun mengaminkan dengan harapan yang sama.
Setelah selesai menyusui keduanya, Lily meminta Brian untuk pulang. Dia tidak tega melihat Brian nanti malam akan begadang. Lily pun sudah membayangkan jika hanya berdua, yang ada kejadian meresahkan tadi kembali terulang.
"Sayang, ini tanggung jawab Kakak. Masak di limpahkan ke Mommy dan Daddy. Kasian mereka, selalu direpotkan oleh kita," jelas Brian. Dia kekeh ingin tetap menemani Lily dan meminta Mommy dan Daddy untuk pulang ke rumah.
Lily pun akhirnya menyerah dan mengangguk pasrah. Dia melirik Mommy dan Daddy sedang bersandar di sofa dengan memainkan ponsel masing-masing.
"Mom, Dad, kalian bisa pulang, biar Lily di sini dengan Kak Brian tetapi, besok pagi Mommy segera datang ya. Kan Kak Brian mau bekerja."
"Yakin Brian kamu bisa jika Mommy tinggal pulang?" tanya Mommy memastikan karena jika dengan putrinya beliau belum percaya. Apa lagi Lily yang masih banyak belajar untuk bergerak pasca operasi.
"Iya Mom, belajar lagi nanti. Besok pagi juga Mamah dan Papah akan datang. Kebetulan tadi pagi mereka berangkat ke luar kota dan baru saja mengabari jika mereka baru sampai di rumah. Jadi belum bisa datang ke sini sekarang."
"Baiklah, biar saja orang tuamu istirahat. Mereka sudah tua tetapi masih rajin. Jangan aja setelah ini nambah anak lagi! Bisa-bisa nanti anak mereka bermain dengan cucunya," sahut Daddy, sekalinya bicara mengandung arti yang begitu dalam. Mommy pun hanya menggelengkan kepala dengan mengangkat alis.
"Padahal sendirinya juga masih rajin, lihat saja di rumah. Pasti minta!"
__ADS_1
Brian hanya mengulum senyum mendengar perkataan Daddy. Dia melirik ke arah Lily kemudian mengedipkan sebelah matanya membuat wanita itu bergidik ngeri.
"Dasar pria-pria meresahkan!"