LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 117


__ADS_3

Hari keberangkatan Lily dan Brian honeymoon ke Bali sudah di depan mata. Besok pagi keduanya menitipkan Lian dan Brilly di rumah utama.


Sejak tadi Lily tak singgah dari kamar kedua putranya. Hati ibu dua anak itu begitu sedih akan berpisah selama seminggu dengan buah hati yang selama ini selalu berada di dekatnya.


"Jangan rewel ya anak-anak Bunda! Bunda nggak lama, nanti pulang dari sana kalian Bunda belikan oleh-oleh dan kita akan jalan-jalan bersama dengan Ayah."


Brian tersenyum haru melihat Lily begitu sedih meninggalkan kedua putranya. Namun, demi membahagiakan dan mewujudkan impian Lily, Brian harus tetap mengajak istrinya meski hanya pergi ke Bali.


Brian tau, sejak dulu sebelum mereka akhirnya dekat. Lily memimpikan menjadi ratu semalam dan honeymoon setelah menikah. Dia tau dari adiknya yang dulu sempat dekat dengan Tiara dan Lily, juga Aara.


Brian mendekati sang istri dan juga kedua anaknya. Dia mengusap lengan Lily dengan lembut dan mengecup kening wanita itu.


"Jangan sedih, mereka akan baik-baik saja!"


Tatapan teduh dari Brian begitu menenangkan, hingga Lily pun berusaha untuk tersenyum. Dengan manja Lily merangkul lengan Brian dan menyandarkan kepalanya.


"Ayo Kak!"


"Mau kemana?"


"Bobo," jawab Lily manja.


"Anak-anak aman?" tanya Brian lagi.


"Aman, sudah nyenyak. Aku saja yang berbicara sendiri tanpa jawaban." Lily tertawa kecil, memang Lily sejak tadi mengajak bicara kedua putranya yang telah terlelap. Padahal andai mereka bangun pun, tetap saja Lily tak mendapat jawaban karena bayinya yang belum bisa berbicara.


Brian tertawa melihat tingkah Lily yang menggemaskan. Brian mencubi pipi dan mengajak istrinya segera ke kamar.


Pagi ini, Lily hampir saja menangis di depan teras dengan melambaikan tangan. Dia akan masuk ke dalam mobil setelah menitipkan kedua anaknya pada Aara dan Wahyu, calon iparnya itu pagi-pagi sudah datang demi membantu calon istri merawat ponakannya.

__ADS_1


"Udah sana! Jangan lama-lama lihatnya, nanti yang ada kamu batal berangkat!" seru Aara yang meminta sang adik segera masuk ke dalam mobil.


Brian pun segera merangkul pundak sang istri dan memintanya masuk.


"Ayo Sayang, pesawatnya satu jam lagi berangkat. Nanti sampai di sana kita Vidio call mereka ya?"


Lily menganggukan kepala dengan tatapan send, ia melangkah masuk ke dalam mobil. Tangannya kembali melambai saat mobil perlahan melaju keluar gerbang.


"Kak, jangan di buat nangis anak-anak Lily ya!" seru Lily.


"Dasar Lily!" Aara hanya tersenyum melihat mobil yang sudah menjauh. "Ayo kita masuk, kasian kembar sepertinya mengantuk!" ajak Aara pada Wahyu. Pria itu pun segera mengekor di belakang Aara dengan menggendong Brilly.


"Mau diberi susu sekarang?" tanya Wahyu yang ikut duduk di samping Aara. Keduanya kompak menimang bayi mungil yang sedang ditinggal kedua orang tuanya honeymoon.


"Iya, sepertinya mereka haus. Tuh lihat! Lian mencari sesuatu di dada aku."


Wahyu menoleh dan memperhatikan Lian yang membuka mulut dan mencari sumber ASI. Dia mengulum senyum lalu melihat wajah Aara yang merona.


Aara menatap Wahyu dengan mata menyipit. Pria ini sungguh meresahkan sekali, apa dia lupa jika pernah melakukan hal yang sama dan akhirnya hampir kebablasan.


"Jangan ngadi-ngadi ya Sayang!" ucap Aara dengan menatap sengit tetapi Wahyu tau Aara sedang menahan malu karena wajahnya tak dapat dibohongi.


Aara segera merebahkan Lian di samping Wahyu, dan melangkah menuju dapur untuk menghangatkan ASI yang telah Lily simpan tadi.


"Mau kemana Sayang?" seru Wahyu yang melihat Aara melangkah menjauh.


"Siapkan ASI, tunggu situ dulu! Jagain mereka nanti kamu aku buatkan susu coklat hangat!" ucap Aara dengan meninggikan suara.


"Jangan lupa sambil dijambak ya minumnya Sayang!" seru Wahyu lagi, dia suka menggoda Aara. Terlebih jika melihat Aara merajuk, wajahnya semakin membuat Wahyu gemas. Aara tak menyahut lalu fokus dengan tujuannya.

__ADS_1


Wanita itu kembali dengan membawa nampan yang berisi jus mangga, susu coklat hangat dan tidak ketinggalan dua botol susu untuk kedua keponakannya.


"Nah, ini dia..." Aara meletakkan nampan itu di atas meja dan kembali memangku Lian.


"Ayo diminum!" Aara memberikan botol susu pada Wahyu untuk diberikan ke Brilly dan dia pun mulai memberikan Lian susunya.


Wahyu memberikan susu pada Brilly dengan mata melirik ke arah jus dan susu di atas meja. "Itu buat siapa Sayang?" tanya Wahyu yang kembali fokus menatap wajah Brilly.


"Oh itu, tadi kan aku sudah bilang akan membuatkan kamu susu coklat. Nah jusnya buat aku," jawab Aara dengan tersenyum manis menatap ke arah Lian. Dia begitu serius melihat wajah bayi itu yang sangat lahap meminum susunya.


"Tuh pintar, minum jus biar asi lancar dan aku bisa meminum terus susu coklatnya," ucap Wahyu dengan kata-kata yang ambigu.


"Mulai dech..." Aara melirik wajah Wahyu dengan mengerucutkan bibirnya sedangkan pria itu menahan tawa melihat wajah kesal Aara.


Setelah kedua bayi itu tertidur pulas, Aara dan Wahyu membawa keduanya menuju kamar Aara. Untuk seminggu ini Aara tidur ada yang menemani. Kedua ponakannya akan mengisi malam sepinya dan mewujudkan impiannya dulu untuk bisa mengasuh anak Lily. Meski Aara tak pernah mengungkit hal itu lagi, tetapi Aara sangat bahagia saat Lily ingin menitipkan kedua bayi itu padanya.


Semalam saja Aara sudah browsing-browsing mencari tau cara merawat bayi agar tidak salah merawatnya. Aara tersenyum lega melihat kedua bayi gembul itu tengah tertidur lelap. Bahkan Aara sudah mengganti spreinya karena ia ingin kedua bayi itu nyaman.


"Akhirnya, mereka tidur. Sekarang giliran kita yang tidur," ucap Wahyu kemudian mengecup pipi Aara.


"Kamu mau tidur? Capek ya momong mereka?" tanya Aara yang sedang memberi sekat guling agar keduanya tidak terjatuh ke lantai.


"Lumayan, tapi melihat wajah kamu yang bahagia gitu capeknya hilang. Turun yuk! Mau minum susu, tadi masih ada. Sayang-sayang keburu dingin." Wahyu menggenggam tangan Aara dan mengajak wanita itu turun ke ruang keluarga.


"Mommy dan Daddy pulang jam berapa? Nanti aku pamit ya kalau mereka sudah pulang."


"Mungkin sore, tadi sich pamitnya cuma sebentar mau ke rumah Tiara tapi jam segini aja belum pulang. Pasti Mommy betah main dengan cucunya. Soalnya kata Mommy, anaknya Tiara sudah bisa duduk dan bermain gitu, gemesin kan?" Wajah Aara begitu berbinar menceritakan tentang ponakannya. Sama halnya saat tadi menimang anak Lily. Hal itu membuat Wahyu tersenyum getir. Ada rasa tak tega menyelimuti hatinya.


"Kita pun nanti akan punya anak. Setelah Lily dan Brian pulang. Aku akan mengajak kedua orang tuaku melamarmu," ucap Wahyu serius.

__ADS_1


"Kamu yakin?"


"Percaya sama aku, aku setia sama kamu."


__ADS_2