MAFIA BERDARAH DINGIN

MAFIA BERDARAH DINGIN
Niat jahat Willy


__ADS_3

"Andaikan dapat orangnya pasti mati di tangan Ketua"ujar Leon


"Apa kau ada mencurigai siapa salah satu dari mereka?" tanya Nick


"Tidak, mereka semua sudah seperti saudara, aku tidak mencurigai siapa pun, aku hanya berharap tidak ada pengkhianat dalam kumpulan kita, jika tidak aku akan sedih."jelas Leon dengan khawatir


"Hati manusia tidak bisa di tebak, mereka bisa di beli dengan uang"


"Maksud mu si kalajengking itu memberi uang?"


"Benar, dia menginginkan nyawa Ketua, berapa banyak uang pun pasti di bayarnya"


"Nick, jika memang ada pengkhianat di antara kumpulan kita bukankah itu lebih mudah untuk membunuh Ketua?"


"Tidak semudah itu, jika dia sanggup maka tidak mungkin muncul pembunuh bayaran lainnya."


"Benar juga, orang ini pasti saja sudah memahami ketua."


"Leon, jangan beritahu apa yang kita bahas hari ini ke orang lain, termasuk Sandro dan Licon."


"Baik aku mengerti."


Keesokan harinya


"Yivone" sapa pria yang menghampiri Yivone


"Willy"balas sapaan Yivone


"Pagi-pagi kamu mau ke mana?"


"Tidak, hanya ingin membeli sesuatu, aku pamit dulu ya." jawab Yivone yang berniat untuk mengelak


"Aarrght.."jeritan Willy yang menahan sakit di bagian perutnya


"Willy, ada apa dengan mu?"tanya Yivone yang mendekati Willy


"Mungkin masuk angin, perut ku tiba-tiba sakit. Yivone, bisa minta tolong pada mu menghantar aku ke kamar ku?"tanya Willy dengan menahan sakit


"Baiklah, mari aku bantu."jawab Yivone dengan memapah Willy tanpa curiga

__ADS_1


Klek...


"Baringlah dulu, aku panggilkan dokter."kata Yivone yang memapah Willy masuk ke kamarnya


"Tidak perlu, ini sudah biasa, terima kasih Yivone." ucap Willy yang sudah di atas ranjang


"Apa tidak perlu aku panggilkan dokter?"


"Tidak perlu, aku sudah ada obatnya, ini sudah biasa."jawab Willy dengan senyum


"Kalau begitu aku permisi dulu, kamu istirahat dan jangan banyak bergerak." ujar Yivone yang berdiri di samping ranjang


"Tunggu" seru Willy dengan menahan tangan Yivone


"Ada apa?" tanya Yivone dengan melepaskan tangannya dari pegangan Willy


"Yivone, jika aku mengatakan aku menyukai mu apa kau akan beri kesempataan pada ku?"


"Willy, jangan bercanda, bukankah kita berteman!"


"Aku tidak akan berteman dengan wanita yang tidak ku sukai, aku berharap kau beri aku kesempatan."ucap Willy yang turun dari ranjangnya


"Willy, aku sudah mempunyai tunangan, jadi ini tidak mungkin, aku pamit dulu dia sedang menunggu ku."ujar Yivone yanvg ingin menoleh ke arah pintu


"Apa?"tanya Yivone dengan membulatkan mata besarnya


"Tunangan mu! Ketua Mafia Wolf yang berdarah dingin dan tidak takut mati, dia adalah tunangan mu."


"Kau mengenalnya?"


"Siapa yang tidak mengenal nama ini, yang di kenal dan sangat kejam serta kegilaannya."ujar Willy yang menghampiri Yivone


"Lalu kenapa kau masih mengatakan kau menyukai ku? jika kau sudah tahu semuanya?"tanya Yivone yang berhadapan dengannya


"Aku mengetahuinya saat dia mencari mu di taman itu, oleh sebab itu aku baru tahu, tapi soal perasaan tidak bisa di pendam."


"Jika kau sudah tahu maka lain kali kita jangan bertemu lagi."jawab Yivone yang ingin berjalan ke arah pintu


"Tunggu"teriak Willy yang menarik lengan Yivone

__ADS_1


"Willy, biarkan aku pergi, jika aku lama dia akan mencari ku."ujar Yivone yang melepaskan tangan Willy


"Yivone, apa kau sudah mempertimbangkan dengan baik? hidup bersama pria yang hidupnya tidak menentu, dia adalah mafia yang memiliki banyak musuh walau di sisinya banyak anggota tapi yang namanya kematian itu tidak bisa kita tebak, apa kau yakin tidak takut bersamanya?"kata Willy dengan berusaha mencegat Yivone


"Aku tidak takut."jawab Yivone dengan singkat


"Musuhnya akan datang kapan pun dan di saat itu kau bisa melihat semua pertumpahan darah yang terjadi, kehidupannya bukan hanya menjaga mu tapi dia harus menjaga seluruh anggota Wolf. apa kau yakin cintanya pada mu itu adalah utama di bandingkan dengan Wolf?"


"Willy, sudah cukup. tidak perlu mengingatkan ku tentang itu."ujar Yivone yang ingin meninggalkan Willy akan tetapi langkahnya di hadang oleh Willy


"Yivone, pria seperti dia tidak akan mengutamakan diri mu, selain Wolf dia juga sering di dekati wanita cantik lainnya, apa kau yakin dia bisa setia pada mu? apa kau tahu kau adalah wanitanya yang ke berapa?"kata Willy dengan sengaja


"Willy, jangan ikut campur urusan ku, aku mengenalnya, dia bukan pria yang suka bermain wanita, aku tidak mau kita bertemu lagi, biarkan aku pergi." kata Yivone yang meninggalkan kamar Willy


"Mau lari dari ku maka akan ku buat pria itu yang mengusir mu, sebelum aku mati aku harus melakukan yang ku inginkan." gumam Willy dengan melihat cairan di botol kecil yang di keluarkan dari saku bajunya


Di saat Yivone yang berjalan dengan terburu-buru sambil menoleh ke belakang karena ingin mengelak dari Willy dia tertabrak seorang pria yang di hadapannya


"Aargght..." jeritan kecil Yivone karena kepalanya terhantuk tubuh pria yang di hadapannya


"Maaf aku tidak sengaja"ucap Yivone dengan memegang kepalanya tanpa melihat ke arah orang yang di tabrak tadi


"Ada apa dengan mu kenapa terburu-buru?"tanya orang yang di hadapannya


Saat mendengar suara itu Yivone lalu melihat ke arah orang yang di tabraknya tadi


"Jack" sapa Yivone dengan reaksi cemas karena dia takut jika Jack mengetahui kemunculan Willy


"Tidak, aku hanya? kenapa kau di luar?"tanya Yivone dengan mengelak


"Aku bosan di dalam, hanya ingin jalan keluar sebentar, ada apa dengan mu kenapa kau begitu cemas? apa ada yang ingin melukai mu?" tanya Jack dengan melihat sekeliling sana


"Tidak ada yang ingin melukai ku, bagaimana jika aku menemani mu?"


"Baiklah, bisa juga."jawab Jack dengan senyum


Lalu Yivone menemani Jack berjalan-jalan di sekitar sana, luka yang di alami Jack sudah semakin pulih hanya karena permintaan Yivone untuk merawat di rumah sakit Jack pun turuti keinginan tunangannya itu


"*K*enapa belakangan ini gadis ini selalu menutupi kebenaran saja, sebenarnya apa yang dia tutupi?" batin Jack dengan menatap heran ke arah Yivone yang berjalan di sampingnya

__ADS_1


Di saat mereka berjalan bersama, Willy sedang mengamati dari jauh dengan tatapan yang kejam


"*J*ack Anderson, seberapa cinta kau pada dia? aku penasaran, jika saja aku mendapatkannya maka apa yang akan kau lakukan, aku harus melakukan selagi mereka masih di rumah sakit, harap saja Nick si bocah itu tidak mengawasinya selama 24 jam, malam ini aku harus mencari kesempatan, Yivone Shin karena aku sudah mengatakan baik-baik tapi kau menolak ku, maka malam ini aku akan menyantap mu, setidaknya sebelum mati aku juga puas bisa membuat pria itu sakit hati."batin Willy yang melihat cairan di botol kecil yang di pegangannya


__ADS_2