MAFIA BERDARAH DINGIN

MAFIA BERDARAH DINGIN
Jack menyesal


__ADS_3

Jack yang mendengar perkataan Tommy membuatnya menyesal atas perlakuan kasarnya pada gadis itu. Jack mengingat semula perkataan Yivone :


(Maksud mu aku murahan? apakah ini pandangan mu terhadap ku selama ini ?apakah karena aku tidak memiliki apa pun serta aku bukan wanita karir dan aku di sini demi hutang Paman ku, maka kau menganggapku wanita murahan?)


Jack mengingat kembali tangisan Yivone dan menggenggam kuat leher gadis itu membuatnya semakin menyesal dan mengeluarkan air mata karena merasa sakit di hati..


Tommy yang sedang menatap ke arah Jack merasa teman nya itu telah berubah. karena Jack tidak pernah menetes kan air mata selama 25 tahun


"Apa kau menyesal sehingga mata mu merah? Jack, selama ini kau hidup di dunia mafia tentu saja hidup mu itu di penuhi kekerasan, tapi Yivone beda dunia dengan mu, dia tidak bisa menerima perlakuan kasar mu karena dia yang dia butuh kan adalah kasih sayang, apa kau bisa memberikannya? tanya Tommy sambil menatap Jack yang diam seribu bahasa


"Tommy, lakukan semampu mu untuk menyembuhkannya, berapa biaya pun akan ku keluarkan, aku ingin dia hidup tanpa beban dan bahagia," Kata Jack dengan menatap ke arah Tommy


"Aku tahu, aku pasti akan melakukannya, tapi, Jack, ini bukan cuma aku tapi utama adalah diri mu, jangan pernah kasar pada dia lagi jika tidak seluruh harta mu juga tidak bisa menyembuhkannya.''jawab Tommy dengan tegas


"Percaya atau tidak aku akan mengujinya."lanjut Tommy dengan bangkit dari tempat duduknya


"Apa maksud mu?"


"Aku ingin buktikan pada mu jika perlakuan mu itu sudah salah, kita taruhan jika gadis itu pasti sangat takut pada mu , jika aku kalah aku traktir kau makan, jika aku menang maka berjanjilah jangan membuat nya trauma pada mu," Ujar Tommy yang meninggalkan ruangan itu


Tommy yang pergi meninggalkan ruangan dan kemudian di susul Jack yang mengikutinya..


Di saat ruang makan Yivone sudah menyiapkan makanan untuk Tommy..


"Yivone."sapa Tommy dengan senyum


"Dokter Tommy."balas Yivone dengan sopan


"Wah..Yivone apa ini untuk ku?"tanya Tommy yang duduk di kursi ruang makan


"Iya, silahkan."


"Baiklah, kalau begitu maka aku tidak segan lagi, tapi Yivone, temani aku di sini ya, aku lebih suka bicara di saat makan."kata Tommy dengan sengaja ingin mengajak bicara dengan Yivone


"Baik."


"Jangan segan dengan ku, panggil saja aku Tommy aku dan pria es itu adalah teman lama,"'kata Tommy sambil menyantap makanannya


"Baiklah, Tommy."


Di saat itu Jack berada di balik tembok ruang makan itu dan bisa mendengar semua perkataan dari mereka


"Yivone, apa kau senang tinggal di sini?"


"Aku...?"


"Iya, di sini sangat luas dan aman, apa kau menyukai nya?"


"Sini memang luas tapi sini bukan rumah ku,"jawab Yivone dengan polos


"Bukan rumah mu? ini adalah rumah pacar mu mana mungkin bukan rumah mu..?"


"Tapi ini tetap bukan rumah ku."


"Semua yang di miliki pria es itu adalah milik mu juga, kenapa Yivone berkata demikian.?"


"Karena semua ini bukan milik ku."


"Tapi pria es itu kan pacar mu..?"

__ADS_1


"Hanya sementara."


"Sementara maksud mu?"tanya Tommy dengan penasaran


"Aku di sini hanya melunasi hutang Paman ku, jadi aku bukan pacar aslinya dia"jawab Yivone dengan sopan


"Ah..ini...,jadi apakah Yivone menyukainya?"


Dengan pertanyaan Tommy ,Yivone hanya diam seribu bahasa karena dia merasa tidak layak untuk mencintai pria itu karena mendengar ucapan Jack yang menyakitkan baginya..


"Apakah Yivone takut padanya?" Tanya Tommy dengan ingin mengetahui pikiran gadis itu


"Iya, aku sangat takut padanya."


"Kenapa, apa dia memukul mu?"


"Tidak."


"Jadi kenapa Yivone takut padanya?"


"Karena dia sangat galak pada ku."


"Galak, iya dia memang galak tapi aku yakin satu hal, jika dia sangat menyukai mu."


"Dia tidak menyukai ku"


"Kenapa yivone berkata demikian?"


"Kata Papa ku, jika seorang pria mencintai seorang wanita maka pria itu hanya akan lembut padanya dan tidak pernah kasar pada wanita itu, dan juga pria itu tidak akan sanggup melihat wanitanya menangis."jawab Yivone dengan terus terang.


"Benar juga kata mu, pria es itu memang beku hati nya," kata Tommy dengan nada tinggi sambil menatap ke tembok ruangan itu karena tahu jika Jack ada di balik tembok itu


"Tidak, di sini tidak ada tempat untuk ku."


"Kenapa bisa begitu?"


"Karena suatu hari aku harus pergi setelah perjanjian berakhir."


"Jadi Yivone mau kemana?"


"Tidak tahu, mungkin ke sebuah tempat yang jauh, yang tidak ada orang tahu,"jawab Yivone sambil meminum air di gelasnya


"Apa Yivone ,tidak memiliki saudara lain?"


"Paman dan Kakak ku."


Lalu kenapa tidak pulang ke sana?"


"Sana juga bukan tempat ku," Jawab Yivone dengan sedih...


"Baiklah aku mengerti, begini saja bagaimana jika Yivone jadi asisten ku di rumah sakit bukankah lebih baik?"


"Asisten di rumah sakit?"


"Benar, apa kau mau?"


"Aku tidak bisa masuk rumah sakit."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Setiap aku masuk ke sana kepala ku tiba-tiba sakit."


"Kenapa begitu ?apa sudah pernah di periksa sama Dokter?"


"Belum, dulu saat Paman ku inap di rumah sakit aku menemani nya, tapi setiap aku ke sana kepala ku sakit sekali setiap kali aku harus manahan sakit jika ke sana."


"Kenapa Yivone tidak periksa ke Dokter saat itu?"


"Aku ada mengatakan ke Paman, tapi saat itu biaya Paman sangat banyak karena inap di rumah sakit maka nya dana nya macet dan tidak bisa lagi memanggil dokter untuk memeriksa ku."


"Kenapa bisa begitu, lalu kenapa di kemudian hari tidak periksa?"


"Setiap kali sakit kepala aku ada beritahu Paman ku, tapi Paman mengatakan pada ku jika keuangan lagi tidak bagus, oleh sebab itu aku tidak mengatakan lagi pada Paman."


"Dasar orang tua brengs*ek.," Gumam Tommy dengan kesal


"Ha?apa Tom?"


"Ah tidak..maksud ku adalah Paman mu tidak menjaga mu dengan baik makanya bisa begitu."


"Apakah kepala sering sakit walau tidak ke rumah sakit?"tanya Tommy


"Kadang kambuh tapi aku abaikan saja karena sudah biasa."


"Apa? jadi saat Yivone tinggal di sini apa pernah kambuh?"


"Pernah."


"Pernah ? apa Yivone tidak beritahu Jack?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Di saat itu dia di San Fransisco" Jawab Yivone dengan sedih karena mengingat Jack dengan wanita lain di kamar hotel


Tommy yang melihat reaksi Yivone penuh dengan kesedihan saat menjawab soalannya


"Lalu Yivone tidak beritahu Sandra atau Mark?


"Tidak, aku sudah terbiasa. aku tidak ingin membebani siapa pun, lagian ini adalah penyakit ku dari kecil jadi sudah biasa."


"Bagaimana jika aku yang memeriksa mu?


"Tidak perlu, aku tidak apa-apa."


"Yivone, ambil ini kartu ku, jika kau tidak sehat langsung hubungi aku." Kata Tommy yang memberikan kartu nama ke Yivone


"Baik. terima kasih."


"Sama-sama."


"Oh iya, leher mu masih merah bagaimana jika aku oleskan obat untuk mu?"tanya Tommy dengan sengaja membuat Jack cemburu


"Ha? tidak apa-apa aku sendiri sudah bisa."jawab Yivone dengan segan


"Ini obatnya mari biar aku bantu, sebagai tanda terima kasih karena sudah memasak untuk ku.'' Kata Tommy dengan sengaja dekat dengan Yivone


"Apa kau mau aku menghilangkan ke dua tangan mu itu?"tanya Jack dengan tatapan dingin ke arah Tommy yang sengaja membuatnya cemburu

__ADS_1


__ADS_2