
HAPPY READING MAN-TEMAN π.
Malik terus saja membolak-balik kan tubuh nya di atas tempat tidur. Dia begitu gusar mengingat hal yang terjadi di waktu sore tadi.
Dia tidak bisa tidur sama sekali. Bayangan itu selalu menghantui nya. Bagaimana lelaki itu nanti nya bisa meluluhkan hati seorang Asyifa?, di tambah lagi dia lebih dulu mengenal keluarga nya dari pada dirinya sendiri, pikir nya.
Yang membuat Malik tak suka itu mengapa lelaki itu menatap Asyifa dengan tatapan yang begitu mengagumi. Memang lah Asyifa itu terlalu mempesona tidak heran bila banyak orang menyukai nya.Dari kesopanan dan juga sifat nya yang begitu di sukai meski satu yang belum bisa di rubah yaitu sifat dingin nya. Namun meskipun begitu tidak mengurangi pesona dari diri nya.
Tapi yang membuat dia gusar itu, apakah dia bisa bersaing dengan nya?, mengingat dari status pekerjaan lelaki itu lebih mapan, dan di bandingkan dengan nya yang hanya status mahasiswa itu dia merasa tidak bisa di bandingkan dengan lelaki itu. Ada sih usaha yang dia kelola, tapi dia begitu minder jika di bandingkan dengan orang itu.
Malik membalikkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar nya. Dia tersenyum bila mengingat wajah cantik Asyifa.
"Mengapa kamu begitu membuat diriku penasaran Syi, aku belum pernah sepenasaran ini pada seorang wanita, mengapa kamu membuat aku hampir gila" monolog nya.
"Mengapa pemuda itu menatap mu begitu lekat membuatku cemburu, meski kita tidak ada ikatan apapun, tapi aku begitu tak rela membiarkan mu di perhatikan seperti itu" lanjutnya.
"Aaarrgghhh.. Aku harus bagaimana ini" tanya nya pada diri sendiri dengan frustasi.
"Ah sudahlah liat ntar saja, aku tidur saja dari pada telat ke rumah Syifa" ucap nya lagi sebelum dia memejamkan mata nya meskipun susah namun lama kelamaan dia tertidur juga.
π’π’π’π’
Keesokan harinya, Bian sudah di depan rumah Annisa. Dia tidak datang sendiri namun dengan Ayah nya karena hari ini hari libur jadi Aditya mengantar Bian untuk main ke rumah Annisa.
Hari ini rumah Annisa begitu ramai, karena adanya syukuran milad dari Amier, semua keluarga berkumpul di sini. Rumah itu begitu riuh dengan suara cucu dari keluarga Al-Husein.
Bian dan juga Aditya langsung masuk karena pintu yang terbuka. Bian sudah berlari dan menghampiri saudara nya.
"Curang, kamu curang Amier!" seru Adiba.
"Aku nggak curang ya maaf, kamu yang terlalu gampang di temukan" saut Amier gak mau kalah.
"Kamu yang curang, masa di suruh jaga malah makan terus nggak tutup mata lagi, kan curang nama nya" protes Alia.
"Bagaimana mau makan kalau tutup mata!" seru Amier.
"Pokok nya kamu jaga lagi, kita nggak mau tau!" Adiba berseru dengan kesal.
"Nggak bisa gitu dong!" Amier ikut kesal.
__ADS_1
"Ada apaan nih?" tanya Bian yang baru saja datang menginterupsi perdebatan mereka.
Seketika mereka berhenti berdebat dan menengok ke arah suara. Adiba begitu berbinar melihat Bian datang. Amier menghampiri kakak nya itu dan merangkul bahu nya mengajak dia bermain game.
Karena tinggi Amier dan Bian tidak terlalu jauh, jadi dia mudah untuk merangkul bahu saudara nya itu.
"Amier curang!" Adiba dan Alia berteriak secara bersamaan melihat saudara nya itu pergi tak memperdulikan mereka.
Reyyan, Asyifa,dan juga Malik menggeleng kan kepala mereka hampir bersamaan.
Aditya menghampiri mereka guna menyapa putri nya. Hubungan mereka semakin kesini semakin baik. Tidak ada lagi permusuhan di antara mereka. Hubungan mereka layak nya seperti orang tua dan anak namun kecanggungan masih ada di tengah-tengah mereka.
Tidak seperti Zidan yang begitu spesial di hati Asyifa. Aditya seperti layak nya saudara saja meski terkadang kenyamanan sudah ada namun tidak mampu menutupi kekecewaan yang terjadi di masa lampau, apa lagi kejadian itu telah di ketahui oleh Asyifa karena dia mendesak Annisa untuk menceritakan detail nya.
"Pagi sayang" sapa Aditya.
Asyifa mendongak dan tersenyum
"Ayah, Ayah datang" Asyifa menyapa balik.
"Tentu, Ayah sangat rindu pada putri Ayah yang cantik ini" ucap nya tersenyum senang dan memeluk putri nya itu.
"Ini, siapa?" tanya Aditya penasaran.
"Saya Reyyan Om, Om masih ingat sama aku kan?" tanya Reyyan menyalimi Aditya.
"Oh Reyyan, wah nambah ganteng saja kamu" puji Aditya membuat Reyyan sedikit tersipu.
"Dan ini siapa?" tanya nya lagi.
"Saya Malik Om, teman nya Reyyan waktu di Jepang" ujar nya memperkenalkan diri.
"Oh temannya Reyyan, kirain" ucap Aditya ambigu.
"Kirain apa ya Om?" tanya Malik penasaran.
"Oh nggak apa-apa, nama nya sama kayak nama belakang Om" ujarnya tersenyum.
Saat mereka sedang berbincang, suara seorang pemuda menginterupsi.
__ADS_1
"Pagi" sapa nya, membuat mereka mendongak menatap orang itu.
Dia Bima, Annisa mengundang nya juga untuk ikut meramaikan acara itu.
Ekspresi mereka berbeda-beda. Dari Aditya yang mengernyit bingung, Reyyan yang terkekeh, Malik yang kesal, dan juga Asyifa yang cuek.
Aditya mengalihkan perhatian nya dan melihat setiap ekspresi wajah para anak muda itu satu persatu. Dari ekspresi mereka Aditya sedikit bingung, tapi kemudian dia mengerti. Aditya tersenyum ' memang putri ku selalu mempesona sama seperti Bunda nya ' batinnya berucap.
Acara berlangsung dengan lancar, banyak teman-teman dari Amier yang datang. Annisa sengaja mengundang mereka untuk ikut mendoa'kan Amier. Acara tersebut sangat ramai karena yang datang anak-anak semua.
Dari game dan pembagian bingkisan membuat suasana menjadi semakin meriah.
π’π’π’π’
Acara di lanjutkan sampai malam. Setelah sholat isya, mereka menggelar acara barbeque. Semua masih di kediaman Annisa tidak ada yang pulang tak terkecuali Malik dan Bima.
Asyifa sedang membersihkan selada, dia mendongak saat ada seseorang yang duduk di depan nya. "Mau aku bantuin" kata Bima yang duduk di depan Syifa.
"Nggak perlu" ujar Asyifa.
Bima menghela nafas panjang ' susah sekali mendekati nya ' batinnya.
Dari tempat pemanggangan Reyyan melihat temannya yang mengipasi dengan asal pun menoleh pada si empunya. Dia berdecak dan menegakkan kepalanya mengikuti arah pandang sang teman dengan berdecak pinggang.
Dia menyunggingkan senyuman.
Ada aroma kecemburuan di sini ' gumamnya.
" Tukang kipas ngipasin nya kemana sih" sindir Reyyan. Hal itu sontak membuat Malik menoleh.
"Semangat berjuang kawan, perjuangan mu masih panjang" Reyyan menepuk pundak Malik dan tersenyum.
Reyyan membawa piring yang berisi daging panggang yang sudah matang ke tengah-tengah keluarga nya.
"Daging panggang sudah siap" teriak nya dengan penuh gaya.
Malik melihat punggung temannya itu dan Asyifa yang sedang di ajak bicara oleh Bima secara bergantian.
" Tunggu aku Syi" gumam nya dan tersenyum semangat. Dia melanjutkan kipasan nya dengan penuh semangat.
__ADS_1
TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN MAN- TEMANπ.