
HAPPY READING TEMAN-TEMAN 😍.
Mereka pergi ke hotel tempat di laksanakan nya resepsi pernikahan. Asyifa dan Malik berada dalam satu mobil bersama dengan keempat temannya lebih tepat nya saudara sekarang.
Dengan posisi Reyyan sebagai pengemudi dan Bima duduk disebelah Reyyan, di kursi tengah Asyifa dan Malik, dan kursi belakang Danish dengan Revan.
"Itu muka manyun terus ntar tambah jelek loh" ucap Reyyan yang melirik ke belakang tempat di mana Syifa berada.
"Temen kamu nih ngeselin banget" gerutu Syifa.
"Kakak Syifa lagi ada tamu ya marah-marah mulu dari tadi" saut Revan.
"Beneran Syi?, nggak dapet dong ntar malam" ledek Danish membuat yang lain tertawa.
"Puasa kamu bro, malang nya" saut Bima.
"Ledek aja terus" kesal Malik.
Perjalanan yang menempuh jarak yang lumayan jauh membuat Asyifa mengantuk.
Asyifa tidak peduli dengan celoteh mereka dan memilih memejamkan matanya. Malik menoleh ke arah Syifa dan mendapati istri nya itu tertidur pun menorehkan senyuman.
💢💢💢💢
Mereka sampai di hotel tapi Syifa masih nyaman dengan tidurnya, Malik yang tidak tega untuk membangunkan sang istri akhirnya dia berinisiatif untuk menggendong nya.
Asyifa yang pulas pun pasrah saja saat tubuhnya diangkat oleh sang suami.
"Resepsi nya masih belum mulai bro, sudah nggak sabaran ya" ledek Danish.
"Berisik" ucap Malik sewot.
Mereka tergelak, senang sekali menggoda pengantin baru itu. Malik tidak peduli dengan ledekan mereka yang menurutnya begitu menjengkelkan, dia pun membawa Asyifa ke dalam kamar mereka.
Annisa yang menyaksikan kejahilan para keponakannya itu hanya menggelengkan kepalanya, seulas senyuman terukir di wajah cantiknya. Malik yang membawa Asyifa terus saja memandang wajah cantik istrinya itu, dia hampir tak percaya sekarang ini dia sudah resmi menjadi suami gadis yang sangat dia cintai itu.
__ADS_1
Senyuman di wajah tampannya itu tak luntur sampai Asyifa terbangun di saat akan masuk.
"Eh eh eh,,, mau apa kamu!, lepasin, turunkan aku, kamu jangan macam-macam ya" seru Asyifa dengan memberontak membuat Malik kewalahan.
Hampir saja Asyifa terjatuh bila Malik tidak menangkapnya kembali, Asyifa menatap lekat wajah Malik begitupun sebaliknya. Cukup lama mereka saling berpandangan.
Hingga suara daheman dari petugas service room yang membuat mereka memutus pandangan itu. Mereka saling mengalihkan pandangan mereka. Semuan merah di pipi mereka sangat ketara.
"Maaf" ucap Malik. "Tadi kamu tertidur, aku nggak tega membangunkan kamu jadi aku menggendong kamu hingga ke kamar" sambungnya.
Asyifa malu, dia sudah salah sangka pada suaminya itu. "Maaf" saut Syifa.
Malik mengambil kunci kamarnya yang berupa card dan menempelkannya di pintu, dia membuka pintunya dan mempersilahkan Asyifa masuk terlebih dahulu.
Asyifa mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dia merasa takjub dengan kemewahan kamarnya itu, desain yang elegan namun manis tidak banyak aksesoris yang digunakan untuk menghias kamar itu membuat Asyifa nyaman.
Asyifa membuka tirai yang menutup jendela kamar hotelnya, pemandangan kota yang padat terlihat begitu indah dari atas sana. Asyifa menghirup udara dalam-dalam dengan memejamkan matanya.
Malik menghampiri dia dan ikut berdiri di sampingnya, matanya menatap lekat wajah Asyifa yang memejamkan mata. Seulas senyuman terukir, kemudian dia mengalihkan pandangannya ke depan.
"Kamu tahu bagaimana rasanya saat aku datang di acara yang seharusnya acara itu diperuntukkan untuk aku dan kamu, meskipun kenyataannya yang menikah dengan kamu itu aku, tapi tetap saja rasa frustasi ku tidak hilang" sambungnya.
"Maaf Syi, karena aku tidak jujur sama kamu sebelum nya" ucap Malik.
Asyifa memejamkan erat matanya, dia juga merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan, dia sadar bahwa dia salah. Namun karena ego yang mengalahkan akal sehatnya membuat dia enggan untuk meminta maaf terlebih dahulu. sebenarnya dia menyesal karena dia tidak mendengarkan penjelasan dari Malik dan jika saja tidak ada rencana yang saudaranya buat, mungkin dia sekarang tidak bersanding dengan Malik.
"Tidak ada kata-kata yang akan kamu ucapkan Syi?" tanya Malik.
"Tidak ada" ketus Syifa. " Aku masih marah sama kamu" jawabnya kemudian.
"Baiklah jika kamu tidak mau meminta maaf sama aku tidak apa-apa tidak ada masalah" pasrah Malik.
"Kita istirahat aja yuk" ajak Malik.
"Kamu istirahat aja aku mau keluar bentar" ujar Syifa.
__ADS_1
Asyifa keluar dari kamar nya, Malik masih menatap punggung Asyifa sebelum pintu tertutup. Dia menghela nafas panjang.
💢💢💢💢
Asyifa mengetuk kamar Annisa, setelah beberapa saat pintu terbuka dan menampilkan Annisa sang Bunda.
Asyifa masuk ke dalam, Annisa terheran dengan putrinya itu. "Ada apa sayang?" tanya nya.
Asyifa duduk di sofa. "Bun aku mau ngomong sesuatu boleh nggak?" Syifa meminta izin.
Annisa mendekati putrinya itu dan duduk di sampingnya. "ngomong aja Bunda dengerin" izin nya.
"Gini Bun, aku harus apa ya?, aku nggak tahu aku harus bersikap apa sama Malik. Aku bingung Bun, aku masih marah sama dia tapi aku juga salah aku akuin aku salah" ujar Syifa.
"Aku tahu aku salah, tapi aku tidak tahu harus memulai dari mana untuk meminta maaf" sambung nya.
Anisa sedikit terdiam dan menatap putrinya itu kemudian tersenyum. "Bunda mau nanya, bagaimana dengan hati kamu nak, apa kamu memaafkannya jangan pentingkan ego sayang, kamu nggak akan seperti ini terus kan, kamu baru saja menjadi istrinya, kamu nantinya akan hidup dengannya apa kamu akan terus marah dengan dia?" tanya Annisa.
"Tidak bukan, kamu harus membuka hati kamu sayang, kamu tidak boleh selamanya seperti itu, kamu sudah dewasa kamu bisa menentukan pilihan kamu sendiri, kamu itu anak yang pintar sayang, kamu tahu apa yang dimaksud kan Bunda bukan?" tanyanya lagi.
Asyifa terlihat terdiam sejenak, berpikir apa yang akan dia lakukan kepada suaminya itu. Saat ia mendapatkan jawaban, dia tersenyum dan memeluk sang Bunda. "terima kasih Bun, Bunda adalah yang terbaik" ucap Syifa.
Anisa balik memeluk putrinya itu dan mengelus punggungnya pelan sembari tersenyum. Setelah beberapa saat berpelukan Anisa mengurai pelukannya itu terlebih dahulu. "Pergilah temui suamimu, minta ridhonya maafkanlah dia, buka lah hati kamu sayang, semua akan baik-baik saja" nasehat Bunda.
Asyifa mengangguk dan beranjak dari duduknya. "Terima kasih Bun" Anisa mengangguk mengiyakan.
Asyifa keluar kamar Annisa untuk kembali ke kamar nya. Annisa tersenyum menatap punggung Asyifa sebelum pintu tertutup.
Sepanjang koridor, Asyifa sesekali mengulas senyuman. Sebuah kata-kata dia rangkai untuk meminta maaf kepada Malik.
Saat Asyifa membuka pintu kamarnya tiba-tiba Asyifa berteriak. "Aaaa...."
JANGAN LUPA KLIK LIKE COMMENT DAN JUGA VOTE NYA YA TEMAN-TEMAN 😊.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE😅.
__ADS_1