Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
43.


__ADS_3

Asyifa masuk ke dalam kamarnya dan berteriak. "Aaaa...." detik selanjutnya Syifa tak sadarkan diri.


Dari arah kamar mandi Malik yang mendengar teriakan Asyifa langsung menghampiri Asyifa yang sudah tidak sadarkan diri. Dia menepuk pelan pipi istrinya itu tapi tak ada respon.


"Ulah siapa ini?" tanya Malik kepada adik-adik ipar nya itu.


Amier dan juga Bian mulai ketakutan, tidak hanya Amier dan Bian saja, ada juga Alia dan juga Adiba tak ketinggalan anak kedua dari Vita Rafa.


Tak menunggu waktu lagi, Malik mengangkat tubuh istrinya itu dan membaringkan di tempat tidur.


Dia menepuk pelan lagi pipi istrinya. "Syi bangun Syi" Malik menggosok telapak tangan Asyifa namun masih tetap tak ada respon.


Tak berapa lama Annisa dan yang lainnya masuk ke dalam kamar mereka karena mendengar keributan.


"Syifa kenapa Malik?" tanya Annisa khawatir.


Malik menggelengkan kepalanya tidak tahu, Bian maju. "Maafin kita Bun, kita nggak sengaja niatnya kita mau ngasih surprise sama Kak Syifa dan Kak Malik tapi malah jadi begini" sesal Bian dan anak-anak yang lain.


Reyyan masuk membawa minyak angin dan menyerahkannya kepada Annisa, Annisa dengan sigap menggosokkan minyak angin itu pada hidung putrinya.


Tak berapa lama Asyifa pun membuka matanya. Dia menyipitkan mata untuk menyesuaikan pandangannya.


"Kamu nggak apa-apa sayang, apa kita perlu ke Rumah Sakit?" khawatir Annisa.


"Syifa nggak apa-apa kok Bun, cuma pusing sedikit" ujar nya.


Reyyan menatap kelima anak-anak itu dengan tajam. " Berdiri di sana kalian" geram Reyyan.


kelima anak-anak itu menuruti apa yang dikatakan Reyyan, dengan lesu mereka berdiri di sudut ruangan.


Reyyan menghampiri mereka dan duduk di sofa. "Kenapa kalian berbuat seperti ini, kalian tahu kan kalau Kakak kalian itu takut sama hantu" kesal Reyyan.


"Maaf Kak, aku kira respon Kak Syifa nggak bakalan kayak gitu, kan biasanya cuma tutup muka doang" jelas Alia.


Reyyan menghembuskan nafas lelah. "Ya sudah kalian boleh pergi siap-siap untuk acara nanti malam, sebelum itu kalian meminta maaf pada Kakak Syifa dulu" final Reyyan.


Kelima anak-anak itu menghampiri Syifa yang sedang duduk di atas ranjangnya.


"Maafkan kita ya Kak kita nggak sengaja" ucap Bian dan di ikuti yang lainnya, Asyifa mengangguki.


Setelah mengucapkan permintaan maaf mereka, kelima anak-anak itu pun keluar dari kamar Syifa dan Malik menuju ke kamar mereka masing-masing.


Sepanjang koridor, mereka saling menyalahkan. "Kamu sih, ini semua tuh gara-gara kamu, kalau saja kita tidak ikutin ide konyol kamu pasti kejadiannya nggak akan kayak gini" gerutu Adiba menyalahkan Amier.

__ADS_1


"Kok jadi aku sih, kan aku cuma memberikan ide aku doang yang menyetujui kan kalian" saut Amier enteng.


"Pokok nya ini salah kamu titik!" geram Alia menimpali.


"Ya jangan nyalahin aku juga kali, kan kita ngerjain Kak Syifa bareng-bareng" kesal Amier.


"Stop!!" seru Bian. "Kalian nggak bisa ya, sehari saja kalau ketemu itu nggak usah berantem" lanjut nya.


" Hmm!" Adiba dan Amier saling membuang muka, Bian menggelengkan kepalanya.


"Terserah kalian lah aku mau siap-siap buat entar malam" final Bian dan meninggalkan keempat saudara nya itu.


Mereka berempat saling berpandangan dan detik kemudian mereka berlari menuju ke kamar masing-masing.


💢💢💢💢


Di kamar Asyifa, Malik terus memegang tangan nya. Bunda dan yang lainnya sudah kembali ke kamar masing-masing.


"Apa benar tidak usah memanggil dokter atau ke Rumah Sakit?" tanya Malik masih dengan kekhawatiran nya.


"Nggak usah berlebihan begitu, aku cuma kurang istirahat saja" jawab Asyifa.


"Ya sudah kamu istirahat dulu nanti kalau sudah jam nya aku bangunin" ucap Malik.


Malik melepaskan genggaman nya dan hendak berdiri namun Asyifa memegang lengan Malik membuat dia mengurungkan niatnya. Malik mendudukan dirinya lagi dan menatap sang istri yang menunduk.


Asyifa mendongakkan kepalanya dan menatap Malik kemudian menunduk kembali. "Maaf" lirih Asyifa.


"Hemm?" Malik memiringkan kepalanya kemudian tersenyum jahil.


"Boleh saja sih aku terima maaf dari kamu tapi..." ucap Malik menggantung.


Asyifa menegakkan kepalanya dan bertanya kelanjutan dari ucapan suaminya itu. "tapi?" tanya nya


Malik tersenyum penuh arti.


💢💢💢💢


Para tamu undangan sudah memenuhi ballroom hotel. Sedangkan kedua pengantin masih di dalam kamar rias mereka, Asyifa sedari tadi dia tidak mau berbicara dengan Malik.


Annisa menghampiri putrinya itu dan mengusap pelan bahunya. "Kenapa sih, masa pengantin cemberut terus?" tanya Annisa.


"Dia tuh Bun bikin aku kesel" seru Asyifa dengan menunjuk kearah Malik yang duduk di sofa sembari tersenyum polos.

__ADS_1


Annisa memandang Malik meminta penjelasan.


"Sebenarnya nggak ada apa-apa sih Bun, cuma Assyifa nya saja yang membesar-besarkan" jawab Malik santai.


Annisa menaikkan satu alisnya dan memandang kembali ke arah putrinya itu.


"Masa dia minta..." ucapan Asyifa menggantung membuat Annisa penasaran.


"Minta apa?" Annisa mengernyit bingung.


"Nggak ada apa-apa Bun" ucap Syifa gugup.


Malik yang sedari tadi memperhatikan ekspresi Syifa pun tergelak kencang membuat Annisa bertambah bingung.


"Ya sudah Bun ayo kita keluar, tinggalin saja itu orang aneh ketawa sendiri nggak jelas" ajak Syifa.


"Lah aku jangan ditinggal dong, terus kamu pasangannya sama siapa kalau aku nggak di ajak" seru Malik.


Asyifa tidak memperdulikannya dan menjulurkan lidah meledek. Annisa terkekeh, entah apa yang terjadi diantara mereka melihat mereka yang begitu akrab membuat hati Annisa tenang, putri nya telah kembali.


💢💢💢💢


Suara tepuk tangan dari para tamu memeriahkan suasana di dalam ballroom. Malik berjalan beriringan dengan Asyifa dengan Asyifa yang menggandeng lengan Malik.


Sungguh pasangan yang sangat serasi membuat siapa saja yang melihatnya begitu iri dengan mereka.


Bima yang melihat mereka, mengulas senyum. Melihat Asyifa wanita yang dia cintai begitu memancarkan kebahagiaan di wajahnya hatinya menghangat, pilihan yang dia putuskan telah benar.


Reyyan yang berdiri di samping Bima merangkul pundaknya menguatkan. Bima menoleh dan tersenyum seakan mengatakan dia baik-baik saja.


Annisa yang berdiri dekat pelaminan tersenyum bahagia, tiba-tiba bahunya ada yang mengelus, dia sedikit tersentak dan menoleh. Setitik air mata menetes dari pelupuk matanya.


"Putri kita begitu cantik. Dia sama seperti kamu sayang, dia juga sama manisnya seperti kamu, aku sangat bahagia bisa mengenal kamu dan menjadi bagian dari kehidupanmu" ucap dia.


"Apa kamu juga merasakan apa yang aku rasakan Ayah?" tanyanya


"Tentu saja, aku mencintaimu sayang" bayangan dari Zidan semakin memudar dan menghilang.


Annisa mengedarkan pandangannya mencari sesosok itu namun tak dapat dia temukan, Vita yang berdiri di sampingnya melihat Kakak iparnya itu seperti mencari sesuatu dia pun tahu, dia merangkul pundak Kakak ipar nya dan mengusap pelan punggungnya.


"Kau melihatnya lagi" tanya Vita. Annisa mengangguk membenarkan.


"Semua sudah berlalu Nis" ucapnya dan Anisa mengangguk lalu tersenyum.

__ADS_1


CIE YANG SALAH TEBAK MANA HAYO COMMENT 😅😅.


SALAM HANGAT DARI AUTHR KECE 😍.


__ADS_2