Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
24.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


"Selamat makan" seru mereka.


Setelah lelah memanggang daging, akhirnya hidangan sudah bisa di sajikan dan di santap.


Malik mencuri pandang Asyifa yang sedang bercanda dengan sepupu nya itu. Asyifa cuek saja seperti tidak terjadi apapun.


Reyyan yang duduk di sebelah Malik menyikut perut teman nya itu dan berbisik.


"Jangan di lihatin terus, cepet di lamar terus nikah deh, biar halal" ledek Reyyan.


"Sudah" jawabnya tak sadar.


"Apa?!" seru Reyyan membuat seluruh keluarga nya menoleh padanya tak terkecuali Malik. Reyyan tersenyum canggung.


"Yang bener bro?" tanya Reyyan lagi tapi Malik mengernyit bingung.


"Kamu ngomong apaan sih?" Malik bingung, Reyyan memejamkan mata nya menahan kesal.


"Tahu ah, dasar aneh!" kesal nya masih dengan nada yang pelan.


"Kamu yang aneh" saut nya tak mau kalah.


Asyifa dan yang lainnya kembali dengan aktivitas makan nya setelah mendapat jawaban tidak apa-apa.


Malik kembali memandangi Syifa. Di dalam hati nya begitu heran, mengapa gadis itu tidak ada respon apapun setelah apa yang di ucapkan oleh nya beberapa jam tadi?.


Ya ampun, dia begitu bingung harus seperti apa mengungkapkan rasa nya kepada gadis itu. Dia jadi berkhayal jikalau dia membawa rombongan keluarga nya untuk melamar gadis itu, akan seperti apa respon yang dia berikan?, Malik jadi ingin tertawa.


"Makanan nya jangan di mainin nak Malik" ucapan Annisa mengagetkan Malik.


Dia tau jika Malik sedari tadi mencuri pandang ke putrinya dan juga hanya memainkan makanan nya. Jadi dia mengalihkan perhatian nya untuk tidak terlalu menatap putrinya itu.


Malik tersenyum canggung. Danish tertawa tertahan melihat reaksi saudara nya itu.

__ADS_1


"Makanya jangan terlalu di pandang, emak nya kan jadi nggak terima" ledek Danish, Malik mencebikkan bibir nya.


Karena merasa bersalah juga, akhirnya dia terdiam tak menanggapi ledekan dari saudara nya itu.


Mereka melanjutkan makannya hingga semua tandas di lahap mereka.


💢💢💢💢


Semua sedang berkumpul di taman depan, Asyifa dan anak-anak yang lain dari dalam membawa beberapa plastik berisi kembang api yang tadi siang Syifa beli.


"Ya ampun sayang, itu banyak banget mau buat apa?" tanya Nisa heran.


"Buat di nyalain Bun, masa mau di jual lagi" jawab nya sembari meletakkan kembang api di atas meja.


"Ya iya, tapi kenapa banyak banget begitu beli nya" bukannya menjawab pertanyaan sang Bunda, Asyifa malah menyengir polos.


"Biarin saja lah Nis, yang penting cucu Mama bahagia, lagipula sudah di beli ini" saut Mama Risma, Annisa hanya menghela nafas saja.


Asyifa memegangi salah satu ujung dari kembang api itu dan Reyyan menyalahkan sumbu nya. Raut bahagia sangat terlihat di wajah Syifa, dan cucu-cucu Al-Husein yang lain melihat kembang api yang meletus di langit.


Satu panggilan tidak di jawab, dan saat ke lima kali nya karena Malik yang kesal saat dia memfokuskan kamera nya pada Asyifa selalu berdering, pada akhirnya dia mengangkat dan dengan ketus menjawab si penelepon.


Terlihat Malik mengerutkan keningnya, suara dari si penelepon dia kenal bahkan sangat kenal. Namun keengganan nya untuk menanggapi pun dia akhirnya memutuskan sambungan telepon itu.


Dia membuang nafas kasar, mengapa harus sekarang orang itu muncul di saat dirinya sudah rela untuk melepaskan nya, batin nya bertanya dengan heran.


Tak mau larut dalam memikirkan hal itu, akhirnya dia ikut bergabung dengan mereka untuk bersenang-senang.


💢💢💢💢


Di kampus, Syifa duduk di bawah pohon dengan buku di tangannya. Dia membalik-balikan buku nya lembar demi lembar untuk dia baca.


Malik menghampiri dan langsung duduk di depannya dengan menopang dagu. Asyifa mendongak dan memutar bola matanya bosan.


Malik menyengir polos melihat respon dari Syifa. "Ngapain?" tanya nya.

__ADS_1


"Kamu mending ke dokter mata deh, mata kamu bermasalah soalnya!" ketus Syifa dan mengalihkan pandangan ke buku nya kembali.


Malik terkekeh. " Bagaimana?" tanya nya lagi.


Asyifa mendongak kembali. "Apa nya?"


"Jawaban dari pertanyaan aku yang semalem itu" ujar Malik.


"Tak ada jawaban!" jawab nya singkat.


"Syi, aku serius dengan apa yang aku bicarakan kemarin, bisa tidak kamu pertimbangkan?" tanya nya memohon.


"Maaf aku harus pergi, nggak baik kelamaan ngobrol sama bukan mahramnya" ucap Syifa dan beranjak dari duduknya meninggalkan Malik yang terdiam.


Terdiam dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum di jawab oleh nya. Dia menyandarkan kepalanya di batang pohon dan sesekali memejamkan mata nya. "Aku harus membuktikan apa lagi sama kamu Syi, kasih tau aku apa yang harus aku penuhi untuk bisa bersanding dengan mu" lirih Malik memandangi langit yang cerah namun tidak dengan hati nya.


Di tempat lain, tepat nya di perpustakaan, Asyifa duduk di bangku yang paling ujung guna mencari ketenangan. Dia mengambil kotak yang di berikan pada nya oleh Malik.


Dia jadi teringat perkataan Malik saat memberikan benda itu,


"Aku tadi liat kamu terus memandangi pasangan yang sedang memilih cincin di toko perhiasan di dekat pasar waktu kita mau pulang, dan aku membeli ini sebagai hadiah untuk kamu" ucap Malik membuat Asyifa terdiam.


"Aku tidak membeli cincin seperti pemuda itu membelikan untuk calon istri nya mungkin, tapi aku ingin membelikan kamu kalung ini sebagai hadiah, ini murni hasil dari kerja aku, aku mohon jangan di tolak ataupun di kembalikan, nanti bila di izin kan, aku akan membeli cincin untuk melamar kamu yang lebih bagus dari ini" sambung nya.


Ucapan dari Malik selalu melintas di otak nya, dan sejurus itu juga perkataan Bunda nya pun ikut terlintas.


"Bunda tidak melarang bila Syifa mau sama dia, kamu jauh lebih tau apa yang ada di dalam hati kamu dan apa yang kamu rasakan, bila kamu ingin menguji dia, boleh saja asal jangan menyakiti dia" pesan nya.


Gadis itu sedikit tersenyum, dia menghela nafas lelah dan memasukkan kotak itu ke tas nya kembali. Memulai membaca lagi untuk mengalihkan perhatian pada hal yang belum pasti itu, karena dia belum sepenuhnya yakin akan hal itu.


Entah lah dia juga tidak tau harus bersikap seperti apa, dia belum ada keyakinan untuk memulai sebuah hubungan yang mungkin saja bisa membuat dia terluka.


Entah sampai kapan dia akan seperti itu, namun satu yang pasti. Bila hal itu terjadi, mungkin dia sudah menyiapkan diri untuk menerima hal itu, sampai saat itu tiba, dia akan membuka hati nya untuk orang yang dia sukai.


NO COMMENT, KALIAN LUAR BIASA 😁😁.

__ADS_1


__ADS_2