Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
103.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Hati ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuk Yasmin dan Aditya.


Karena jari ini adalah hari di mana mereka berdua akan melangsungkan pernikahan mereka. Meskipun hanya proses ijab qobul saja, namun tetap saja proses persiapan nya sangat begitu sempurna.


Annisa menunggu untuk merias Yasmin. Namun di dalam kamar mandi Yasmin terus menatap dirinya di cermin dengan senyum miris. Mengabaikan panggilan dan ketukan pintu yang terus-menerus di ketuk.


"Mama buka pintunya, Mama sudah selesai belum? Sudah ditungguin sama Bunda nih!" seru Bian.


Yasmin menetralkan ekspresinya kemudian dia membuka pintu kamar mandi dan tersenyum mendapati sang putra semata wayangnya telah berdiri dihadapannya.


"Mama nggak apa-apa kan? Kok mukanya pucat?" tanya Bian khawatir.


"Mama enggak apa-apa kok, mungkin cuma grogi saat," jelas Yasmin.


"Beneran Mama nggak apa-apa? Kita ke Dokter dulu saja yuk!" ajak Bian.


Bian memegang lengan mamanya dan hendak menuntunnya untuk keluar ruangan, namun dicegah oleh Yasmin. "Mama enggak apa-apa sayang, Mama cuma grogi saja kok. Kamu tenang saja ya, ayo kita temui Bunda kamu." Kata Yasmin.


Meskipun ada keraguan di dalam diri Bian, namun pemuda itu tetap menurut dan menuntun mamanya untuk menemui Annisa.


Annisa tersenyum, dia mengambil alih tangan Yasmin dan mendudukkannya di depan meja rias. Annisa mulai merias wajah ayu Yasmin dengan telaten.


Bukan karena mereka tidak mampu menyewa perias profesional, namun ini adalah permintaan Yasmin.


"Nis?" panggil Yasmin lirih.


"Hum?" jawab Annisa yang tangan nya terus fokus pada kegiatan merias nya. "Ada apa?" tanya nya.


"Maafin aku," Yasmin meneteskan air mata nya. Annisa mengernyit bingung, "kenapa meminta maaf?" bingung Annisa.


"Maafin Aku karena kesalahan Aku waktu dulu." Air mata Yasmin sudah tidak dapat terbendung lagi.


Annisa menghela nafas, "mau berapa kali mau meminta maaf sama Aku Yas, bukan kah kini Kau sudah menjadi Adik Aku?" tanya nya.

__ADS_1


"Benarkah Kamu sudah ikhlas dengan hal itu?" tanya Yasmin sekali lagi. Annisa mengangguk dengan mantap mengiyakan.


"Jika begitu, apakah Aku bisa meminta sesuatu padamu Kakak?" izin nya. Meski ragu, Annisa tetap mengangguk. "Apa yang Kamu ingin kan?" tanya nya.


Yasmin mengisyaratkan supaya Annisa lebih mendekat. Yasmin membisikkan sesuatu yang membuat Annisa terpaku.


"Kenapa Kamu bilang seperti itu?!" marah Annisa. Yasmin mengatupkan kedua telapak tangan nya memohon.


"Aku mohon!" pinta Yasmin. "Bagaimana mungkin Aku harus melakukan hal itu?!" marah Annisa lagi.


Belum sempat Annisa mengucapkan kata-kata nya lagi, seseorang membuka pintu yang adalah Bian, yang tadi dia sempat keluar.


"Mama, Bunda sudah selesai kah? Penghulu sudah datang." Ucap Bian.


Annisa mengangguk mengiyakan dan dia menyelesaikan riasannya pada Yasmin tanpa mengucapkan sesuatu pun membuat Yasmin merasa tidak enak


"Sudah selesai, ayo keluar," kata Annisa.


Annisa membalikkan badan hendak ke kamar mandi, namun tangannya dicekal oleh Yasmin. "Aku mohon jika engkau adalah Kakak ku, aku hanya ingin kau melakukan hal itu. Anggap saja itu permintaan terakhirku."Yasmin memohon.


"Kamu itu bicara apa sih! Enggak baik Kamu ngomong seperti itu! Aku nggak mau melakukan hal itu, kamu tahu apa yang terjadi bahkan sangat tahu kenapa harus seperti itu!" marah Annisa.


"Kamu memintaku untuk melakukan hal yang tidak mungkin aku lakukan!" ucap Annisa yang telah menetralkan suara nya.


Setelah mengatakan hal itu, Yasmin melepaskan tangan nya yang membiarkan Annisa melakukan niatnya.


Setelah selesai dengan semuanya, Yasmin dan juga Annisa keluar dari kamar dan menuju ruang tengah untuk menemui semua keluarganya. Semua tersenyum melihat dua wanita itu.


Yasmin mendudukkan dirinya di samping Aditya. Aditya tersenyum melihat mantan istrinya yang akan menjadi istrinya kembali.


Mungkin rasanya tidak seperti rasa pada Annisa, namun semakin mengenal Yasmin yang sekarang, dia semakin mengenal hal lain pada diri Yasmin.


Acara dilanjutkan dengan mengucapkan ijab qobul yang akan mengikat kedua insan itu kembali lagi menjadi pasangan suami istri.


Suara lantang dari Aditya pun mengakhiri sebuah ketegangan di wajah Yasmin mau pun Aditya.

__ADS_1


Proses ijab kabul kedua pengantin itu berjalan dengan sangat lancar. Mereka saling menyematkan cincin sebagai lambang ikatan mereka.


Namun, saat Yasmin mencium tangan Aditya. Aditya mengernyit bingung karena Yasmin begitu sangat lama menciumnya. Dan saat tangan satunya Aditya mengucapkan pucuk kepala Yasmin, Yasmin limbung dan jatuh ke samping di pangkuan Annisa yang kebetulan ada di belakang kedua mempelai. Semua orang panik melihat pengantin wanita itu dengan darah yang mengalir dari hidung.


"Ya Allah! Yasmin Kamu kenapa?!" seru Annisa panik. Aditya hanya terpaku melihat tangannya yang ada Setetes darah yang mengotori tangannya, dia tersadar saat semua orang berseru panik.


Aditya dengan sigap menggendong Yasmin yang sekarang menjadi istrinya itu untuk dibawanya ke rumah sakit.


Mereka ikut diikuti mengantar Yasmin karena acara itu hanya dihadiri keluarga saja dan juga merasa panik.


Suasana semakin panik di dalam mobil, Annisa dengan panik menepuk-nepuk pelan pipi Yasmin untuk menyadarkannya. Namun hal itu tetap saja tidak mendapatkan respon dari wanita itu.


Setelah 10 menit perjalanan dari rumah ke rumah sakit karena dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


Seperti halnya orang panik lainnya, Aditya memanggil dokter dan juga perawat untuk membantunya membawa istrinya ke unit gawat darurat.


Mereka menunggu di depan ruangan itu. Annisa terpaku terdiam dengan pikirannya yang begitu kacau, mengingat terakhir kali dia berbicara dengan Yasmin sebelum proses ijab kabul itu yang memintanya untuk melakukan hal yang tidak mungkin dia lakukan.


Dua jam kemudian dokter keluar dan mengatakan kan hal yang tidak ingin mereka dengar. bian begitu tegang, kekhawatirannya begitu terlihat di wajah tampannya.


Matanya memerah seakan menahan tangis yang sebentar lagi akan meledak.


Aditya merangkul sang putra mencoba untuk menenangkan. Aditya juga bingung harus seperti apa dia merespon hal ini, dia begitu sedih dan juga bingung kenapa hal ini harus terjadi.


Bian terus saja mematung seakan memproses Apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya diam dengan pandangan yang kosong di dekapan sang ayah.


"Kamu tenang Nak, semua akan baik-baik saja," kata itu lagi-lagi yang dapat diucapkan kan orang yang sedang menenangkan seperti halnya Aditya kepada putranya.


Mereka tidak tau apa yang dirasakan, seperti apa rasanya jika mendengar seseorang yang kita sayangi kini dalam keadaan yang tidak menentu.


Bian melepaskan pelukannya dari sang ayah, dia menatap Annisa dan seketika itu air mata nya tumpah. Annisa memeluk Bian dengan air mata yang mengalir juga.


Asyifa ikut meneteskan air mata nya. Dia begitu sedih melihat adik nya itu begitu terpuruk. Yang lain nya hanya menghela nafas lelah mereka. Bingung juga harus berbuat apa. Hanya do'a saja yang bisa mereka panjatkan untuk kesembuhan Yasmin.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.

__ADS_1


__ADS_2