Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
Bonus.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Hari semakin larut, namun Annisa masih setia menunggu suami nya. Suami kedua? Atau bisa di bilang suami pertama nya.


Entahlah, yang jelas sekarang status mereka adalah suami dan istri.


Suara pendeteksi detak jantung saling bersahutan dengan lantunan ayat suci yang sangat merdu keluar dari mulut Annisa. Dia tak henti- hentinya melantunkan nya. Sembari sesekali dia mengusap air mata nya yang terjatuh secara berkala.


Di ruangan serba putih itu, terbaring sesosok laki-laki yang setahun belakangan ini mengisi kehidupan Annisa.


Dia adalah Aditya, suami Annisa saat ini. Sudah setahun ini Aditya lebih sering bolak-balik check up ke dokter yang merawat nya. Sudah dua tahun dirinya menderita sakit, dan kini tubuh nya tidak kuat lagi untuk bisa melawan sakit nya.


Annisa tidak tau jika suaminya itu menderita sakit. Suami nya itu tidak pernah menunjukkan sakit nya pada siapapun bahkan Bian yang selalu dekat dengan nya. Dan hal itu membuat Bian terpukul.


Baru beberapa bulan kepergian sang mama, kini dia harus menghadapi kenyataan pahit yang lain nya. Annisa sangat syok mendengar itu. Kejadian yang sama di alami nya belasan tahun yang lalu kini terjadi kembali.


Dia seperti orang bodoh yang tidak tau apapun hingga akhirnya dia tau saat keadaan sudah sangat mem-prihatinkan.


Pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan seorang pemuda yang tidak lain adalah Bian. Annisa menengok dan sedikit tersenyum.


"Bunda makan dulu yah, nanti Bunda sakit. Biar Bian yang jaga Ayah." Ucap Bian.


"Bagaimana Bunda bisa makan sayang," ucap Annisa memandang pilu wajah pucat dengan selang yang ada pada hidung nya.


Bian bersimpuh di depan ibu tiri nya itu dan memegang tangan nya. Dia membaringkan kepalanya di pangkuan sang bunda.


"Bunda harus makan, Bian nggak mau Bunda sakit. Bunda kan mau jagain Ayah." Bian meneteskan air mata nya hingga membuat punggung tangan bunda nya yang dia genggam basah.


"Bunda harus selalu sehat, Bian nggak mau kalau Bunda juga sakit nanti nya. Aku sudah kehilangan mama, dan sekarang Ayah terbaring di sini tanpa ada kejelasan kondisinya. Aku nggak mau melihat orang yang Aku sayang kenapa-napa." Isak lirih Bian.


"Kita do'akan sama-sama ya Sayang, Kita harus selalu berdoa." Annisa mengusap kepala Bian dengan sayang.


Bian mengangguk. "Ya sudah, Bunda keluar sebentar untuk makan yah," ucap Annisa dan Bian mengangguk. Pemuda itu bangkit dari ber-simpuh nya kemudian Annisa beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Annisa keluar ruangan dan menuju kantin rumah sakit, karena memang tidak di perbolehkan untuk makan di dalam ruangan.


selama wanita itu makan, hatinya tak begitu tenang. Dia begitu gusar dan kehilangan nafsu makannya.


Karena tidak bernafsu, dia pun menyudahi makan siang nya dan kembali ke ruangan dimana suaminya di rawat.


Annisa berjalan dengan langkah yang malas. Dia berkali-kali menghembuskan nafas lelah. Perhatian nya teralihkan pada dokter dan juga dua perawat yang berlari.


"Seperti nya ada yang gawat," gumam Annisa dengan tatapan yang tak lepas dari punggung mereka yang semakin hilang.


"Perasaan Aku jadi nggak enak." Annisa megang dada nya yang sedang gusar di dalam sana.


"Bunda!" seru Asyifa mengagetkan Amnisa yang datang dengan Malik dan juga kedua putra mereka.


"Kamu ini, mengagetkan saja!" Annisa hendak memukul lengan putri nya itu. Asyifa refleks menghindar di punggung suami nya.


"Maaf Bun," ucap Asyifa menyengir.


"Si kecil kemana?" tanya Annisa sembari celingukan mencari cucu perempuan nya.


Annisa membulatkan bibir nya mengerti.


Mereka berjalan dengan di iringi obrolan yang ringan, hingga langkah Annisa terhenti dengan mata yang fokus melihat satu titik di ikuti Asyifa dan yang lain nya.


Annisa buru-buru menghampiri putra nya dengan langkah yang sedikit lebih cepat. Asyifa Malik dan si kembar mengikuti.


Annisa memegang pundak Bian membuat si-empunya menoleh. Pemuda itu wajah nya penuh air mata yang mengalir. Dia rengkuh tubuh wanita paruh baya yang dia sebut bunda itu dengan erat.


"Kamu kenapa Nak?" tanya khawatir Annisa. "ayah Bun! ayah!" lirih nya penuh luka.


"Ayah kenapa, jelasin pada bunda!" Annisa mencoba tenang meskipun hati nya begitu bergejolak. Pikiran nya menuju hal yang tidak baik.


Dokter keluar dan menemui mereka. Bian melepaskan pelukannya dan menatap dokter seraya bertanya bagaimana?.

__ADS_1


Dokter menggelengkan kepalanya tanda hal buruk terjadi. Tangis mereka seketika pecah. Asyifa menangis memeluk suaminya dan Annisa yang di peluk Bian. Si kembar menengok orang dewasa di sekitar nya menangis pun ikut menangis dan paham apa yang terjadi saat ini.


"Kakek keren sudah nggak ada," pilu Salim dan memeluk Salman yang ikut menangis juga.


💢💢💢💢


"Tenang di sana mas, terimakasih atas segala nya." Annisa masih menghapus air mata yang sesekali jatuh.


Suami nya kini telah terkubur namun tidak dengan kenangan nya. Dia kini menjadi seorang single parent kembali setelah kepergian kedua suami nya.


Sakit dia rasa. Dia serasa ingin ikut menyusul mereka saja rasanya. Dia merasa sendiri kembali menjalani hidup di sisa usia nya.


Kini tak ada lagi sosok yang menjahilinya dan juga menjadi teman curhat nya. Kini teman sekaligus suami-suami nya sudah tak lagi di dunia ini. Dia hanya sendiri sekarang.


Sakit dia rasa saat mengingat perkataan Aditya dulu. 'Jangan memaksa untuk memberikan hak aku, karena aku juga tidak memaksa. Bukan aku tak mau, tapi aku tak memaksa.' Kata-kata itu selalu terngiang di kepala nya.


Di saat diri nya benar-benar kembali nyaman dengan nya seperti dahulu, tapi kenyamanan itu hanya tinggal kenangan saja dan akan dia kenang selama sisa hidupnya hingga maut memisahkan diri nya dengan dunia yang fana ini. Yang penuh dengan rasa sakit kecewa dan juga kebahagiaan.


Amier terus mengajak Bian untuk pulang namun Bian seperti nya tak ingin berniat untuk beranjak. Dia duduk diam di tengah menatap dua gundukan tanah yang ber-nisan itu yang tidak lain adalah makam kedua orang tua nya.


Dia merasa sendiri. Dia tak lagi merasa hidup. Rasa nya dia juga ingin menyusul mereka saja. Rasa nya batu kemarin dia bercanda dan bersenda gurau dengan mereka secara lengkap seperti dahulu di waktu kecil.


Kini hanya gundukan tanah itu yang tersisa membuktikan bahwa mereka telah tiada.


'Sakit ya Allah, sakit' batin Bian menjerit dengan air mata yang tak henti nya mengalir.


OKE MAN-TEMAN YANG MAU TAU CERITA DARI AMIER DAN BIAN, SILAHKAN BUKA KARYA AUTHOR BERJUDUL:


'I FINALY FOUND LOVE'


BARU EPS SATU SIH, HEHE....


NGGAK USAH PAKE SPOILER LANGSUNG AJAH YAH 🤭.

__ADS_1


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.


__ADS_2