Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
104.


__ADS_3

SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.


"Maafin Aku Nis," ucapan Aditya mengagetkan Annisa. Dia terburu-buru mengusap air mata nya yang terjatuh begitu deras nya.


"Mau apa Kamu kesini?" tanya nya dengan suara yang parau karena kebanyakan menangis.


Aditya bersimpuh di hadapan Annisa, bahkan bukan hanya di hadapan Annisa. Namun juga di hadapan makam Zidan.


Aditya melihat sekilas makam Zidan dan beralih menatap Annisa. "Aku tau Aku salah! Tapi Aku mohon untuk tidak Kamu menyiksa diri Kamu untuk terus saja duduk di sini dan meratapi nya."


Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Annisa. "Kamu boleh saja menyimpan cinta Kamu untuk nya, tapi Aku mohon untuk tidak terpuruk seperti ini! Aku merasakan sakit jika Kau seperti ini!" kata Aditya yang tak tega.


"Kita pulang yah! Kasihan Zidan jika Kamu terus saja menangis seperti ini. Aku yakin dia tidak ingin Kau menangis seperti ini. Kau boleh menghukum Aku semau Kamu, Aku ikhlas," kata Aditya yang semakin melembutkan suara nya.


"Kau sekarang adalah Istriku! Dan kewajiban Kamu itu menuruti apa yang di katakan oleh Suami Kamu." Aditya mencoba mengingatkan, bahwa Annisa kini sudah menjadi istri nya 'kembali'. Menurut nya, hal ini harus di katakan mengingat Annisa terus saja menangis.


Yah! Benar sekali, Annisa kini telah di nikahi kembali oleh Aditya.


🕳️🕳️🕳️🕳️


"Saudara yang bernama Annisa dan juga Aditya apakah ada?" tanya suster saat membuka pintu ruangan Yasmin.


Merasa nama mereka di panggil, mereka pun beranjak dari duduk mereka dan menghampiri suster. "Iya Saya Annisa Suster, ada apa?."


"Ibu di panggil pasien, silahkan masuk Bu." Suster itu mempersilahkan untuk masuk.


"Ayah, boleh Aku ikut?" tanya Bian meng-intruksi.


Aditya terseyum dan mengangguk. Akhirnya mereka ber-tiga masuk dan menemui Yasmin.


Dengan suara dan tenaga yang lemah, Yasmin membuka ventilator- nya.

__ADS_1


"Mas, terimakasih karena sudah mau menikahi Aku dengan rasa cinta yang tulus dari Kamu, akhirnya cinta Aku terbalaskan dengan Kamu menikahi Aku." Yasmin mengambil nafas panjang, nafas nya tersengal di karenakan menangis.


"Aku sungguh sangat bahagia, meskipun nanti nya tidak bisa bersama lagi dengan Kamu, dan tidak bisa memenuhi kewajiban Aku sebagai Istri, namun Aku mohon untuk menyimpan nama Aku di hati Kamu selama nya." Yasmin terseyum sembari meneteskan air mata nya.


Aditya terdiam sejenak, "Kamu itu ngomong apa sih, Kita akan sama-sama bersama nanti nya, Kamu harus cepat sembuh yah?" ucap Aditya.


Yasmin tersenyum dan beralih menatap wajah Annisa. Dia kembali tersenyum, "Nis, terimakasih karena telah memaafkan Aku, terimakasih telah menganggap Aku sebagai Adik Kamu." Annisa mengangguk dengan sedih.


"Aku mohon untuk Kalian bisa bersatu kembali. Maaf kan Aku yang telah memisahkan Kalian. Aku mohon, biarkan Aku tenang melihat Kalian bisa bersama kembali."


Aditya terdiam bingung harus menjawab apa. Begitu juga dengan Annisa. "Mas!" panggil Yasmin meminta jawaban.


Aditya menghela nafas panjang. "Baik lah, Aku akan melakukan nya," ucap nya. Yasmin tersenyum bahagia. "Terimakasih."


Di depan pintu, Bian menatap sedih dengan air mata nya yang sesekali terjatuh. Yasmin memanggil dan merentangkan kedua tangannya. Dengan langkah cepat Vian menghampiri sang Mama yang berbaring di ranjang pesakitan nya dengan lemah.


Bian memeluk sangat erat seperti enggan melepaskan nya. "Anak tampan Mama nggak boleh cengeng, Bian harus kuat sayang." Yasmin lagi-lagi menangis.


Yasmin terkekeh lemah. "Anak tampan Mama sudah dewasa sekarang, bilang sama calon menantu Mama kalau Mama begitu menyayangi nya." Suara Yasmin semakin melemah.


"Hiks! Hiks! Bian nggak mau bilang! Mama harus bilang sendiri!" rajuk Bian. Yasmin tersenyum dan mengusap lembut kepala sang putra.


Lama kelamaan, usapan Yasmin semakin melemah dan kemudian tangan itu tak lagi mengusap.


Suara pendeteksi detak jantung berbunyi nyaring, membuat Bian mengalihkan perhatian nya pada alat itu, dan melepaskan pelukannya. Kemudian menatap Yasmin yang sudah memejamkan mata dengan nafas yang sudah tak ada lagi pada tubuh nya.


"Mama?" lirih Bian, "Enggak! Enggak mungkin! Mama!" teriak Bian menggema di ruangan putih itu.


Asyifa dan yang lain mendengar teriakkan Bian pun masuk tanpa permisi. Asyifa syok melihat sang adik yang meraung melihat sang mama yang kini sudah tak bernyawa lagi.


🕳️🕳️🕳️🕳️

__ADS_1


"Kenapa Kamu menyetujui apa yang di pinta Yasmin! Kenapa? Apa kau tau Aku begitu merasa terbebani dengan Aku menikah dengan Kamu berarti Aku mengingkari janji Aku sama suami Aku!" marah Annisa.


"Aku tau! Tapi Aku hanya menjalankan apa yang di minta Yasmin di saat terakhir kali."


"Bagaimana dengan janji Aku pada suami Aku Mas! Bagaimana?" ucap Annisa dengan suara yang semakin melirih.


"Amier rasa ayah akan mengerti Bun," saut Amier yang berjalan dari arah belakang.


"Aku yakin ayah bisa mengerti. Bunda berhak bahagia Bun, Aku tau Bunda merasa kesepian saat Bunda di tinggal sama ayah." Amier semakin mendekat.


"Maafin Amier yang keras kepala Bun, Amier sadar kalau Bunda butuh sandaran, mungkin Amier akan seperti kakak yang akan meninggalkan Bunda dan rumah. Dan akan membangun rumah sendiri dengan kehidupan Amier nanti nya." Amier memeluk sang Bunda.


"Amier nggak mau Bunda merasa kesepian jika kita tidak ada. Aku tidak mau Bunda sedih lagi. Bunda berhak bahagia. Aku yakin ayah akan ikut bahagia dia sana melihat bidadari nya juga bahagia." Amier menambahkan.


Air mata mengalir lagi dengan deras. Apa yang akan dia ucapkan jika sudah seperti ini.


"Ya Allah, apa yang harus Aku lakukan sekarang?" lirih nya dalam hati.


💢💢💢💢


Bian masih saja merenung di kamar nya. Penampilan yang acak-acak seperti orang yang tak terurus. Sudah seminggu setelah kepergian sang mama, Bian terus saja mengurung diri di kamar.


Semua orang sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk nya.


Hari ini Asyifa pulang dari Bali karena ikut sang suami yang ada pekerjaan di sana dan tidak bisa di wakili. Ke-dua putra nya menangis meraung ingin ikut. Asyifa akhirnya mengalah dan ikut bersama Malik.


Asyifa kini berdiri di depan pintu kamar adik nya dan mengetuk pintu itu. "Bian! Ini Kakak. Ayo buka pintu nya. Kakak mau masuk." Asyifa berseru memanggil.


Tak ada jawaban dari panggilan Asyifa. Wanita itu menghembuskan nafas lelah. "Kalau Kamu tidak membuka pintu ini segera! Percaya atau tidak, Aku tidak akan menemui Kamu lagi! Dan jangan pernah lagi memanggil Aku Kakak!" seru Asyifa.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.

__ADS_1


VOTE LIKE COMMENT JANGAN LUPA OKE🤭.


__ADS_2