
HAPPY READING MAN-TEMAN 😁.
Malik dan Asyifa berlari sepanjang koridor Rumah Sakit menuju UGD setelah mendapatkan informasi dari resepsionis.
Bahkan Asyifa hampir saja terjatuh jika Malik tidak menangkap nya dengan sigap. Tidak ada jawaban hanya air mata nya saja yang mewakili kesedihannya.
Setelah mereka sampai, Asyifa langsung menghampiri Annisa sang Bunda yang sudah menangis tersedu. "Bagaimana keadaan nya Bun?" tanya Syifa tak sabar. Ada nada bergetar di suara nya.
Annisa menggeleng tak tau. "Dokter belum keluar dari tadi." Asyifa memeluk Bunda nya dan ikut menangis meski jarang. Ada yang lebih terpukul dari nya, ada yang lebih harus di kuat kan dari nya.
Malik menghampiri Reyyan yang sudah ada di sana bersama sang istri. "Bagaimana bisa seperti ini bro?" tanya Malik khawatir.
"Kita juga nggak tau. Aku dapat kabar sudah ada di sini semua. Aku mau tanya sama Tante Nisa tapi momen nya seperti nya belum tepat." saut Reyyan. "Ya sudah, nanti aku tanya sendiri saja." Malik menepuk pundak Reyyan dan berjalan menghampiri Annisa dan juga Asyifa.
"Bunda tenang dulu yah, semua akan baik-baik saja oke?" Naik mencoba menenangkan.
"Bagaimana Bunda bisa tenang! anak Bunda sedang di dalam ruang operasi dan Bunda belum tau keadaan nya sekarang!" Annisa menjawab dengan sedikit menaikkan nada bicara nya.
"Malik tau jika Bunda khawatir, tapi Bunda nggak bisa seperti ini yang hanya menangis kan, kita berdo'a supaya Ameer baik-baik saja yh? tenang kan diri Bunda, Ameer sekarang butuh doa' kita Bun," ucapan lembut dari Malik membuat Annisa tersadar dari kecemasan nya.
Annisa diam dari tangis nya yang tersedu, tak lagi menangis hanya rapalan doa' saja yang dia lakukan. Meski sesekali dia mengusap air mata nya yang terjatuh.
Dokter keluar dari ruangan operasi dan menghampiri mereka. "Pasien sudah melewati masa kritis nya, hanya saja karena benturan keras akibat kecelakaan mungkin saja jika pasien sadar, akan melupakan siapa dirinya. Dan keluarga pasien saya harap kerjasama nya untuk selalu ada di dekat pasien," ucap dokter dan berlalu pergi.
💢💢💢💢
"Masih belum sadar Bun?" tanya Malik. Annisa menoleh. "Belum, sudah tiga hari tapi Ameer ngga buka mata juga," saut nya.
__ADS_1
Malik membuang nafas kasar. "Bunda pulang dulu saja istirahat, nanti Malik yang jagain Ameer. Malik nggak mau Bunda sakit." Malik memegang pundak Annisa.
"Bunda nggak mau pulang Malik." Annisa menggeleng. "Bunda mau kalau Bunda itu sakit terus nggak bisa jagain Ameer? enggak kan?!" Annisa menggeleng lagi. "Jadi Malik mohon sama Bunda untuk istirahat yah, Malik mohon".
Annisa mengangguk pada akhirnya. "Ya sudah, Bunda pulang. Kalau ada apa-apa hubungi Bunda yah." Annisa beranjak dari duduknya dan keluar, tapi sebelum menjangkau gagang pintu, Annisa limbung dan terjatuh.
"Bunda!" teriak Malik dan menghampiri mertua nya itu. "Bun! bangun Bun!" Malik menepuk pipi Annisa namun tak kunjung tersadar.
"Tolong!" teriak Malik. Reyyan saat itu sedang berjalan mendengar teriakkan dari kamar inap Ameer pun langsung berlari menghampiri.
"Ya Allah Tante!" seru Reyyan panik. "Panggil dokter sekarang Rey!" pinta Malik. "O ,,, oke!" Reyyan langsung berlari dan memanggil dokter.
Tak lama Reyyan kembali dengan membawa dokter serta suster. "Tolong bawa ke dalam," dokter menunjuk ruangan di sebelah ruangan Ameer. Dia langsung menindak lanjuti Annisa.
"Bagaimana dok?" tanya Malik khawatir. "Ibu Annisa hanya stress dan kurang istirahat saja," penuturan dokter melegakan Malik dan juga Reyyan.
"Bagaimana aku harus mengatakan pada Asyifa jika sudah begini." Malik meraup wajah nya sendiri dengan kasar karena frustasi.
Di satu sisi adik ipar nya belum tersadar dari koma nya, dan sekarang ibu mertua nya juga ikut tidak sadarkan diri karena kelelahan.
"Nanti aku yang akan menghubungi Syifa." Reyyan mengajukan diri. "Tidak, nanti aku saja." saut Malik. "Ya sudah," jawab Reyyan kemudian.
💢💢💢💢
Malik tengah berdiri di depan pintu kamar nya, dia ragu untuk mengetuk apa lagi membuka nya. Bingung dengan respon yang di berikan sang istri jika mendengar berita Annisa yang tengah jatuh sakit karena kelelahan.
"Ya Allah, aku harus bagaimana?" bingung Malik. Bukan apa-apa, posisi Asyifa kini sedang menyusui dua putra sekaligus, dia takut berita ini akan mempengaruhi nya. Ya, tentu saja akan mempengaruhi nya. Tapi jika tidak di beritahu, dia akan kecewa.
__ADS_1
Dan rasa kecewanya Asyifa akan susah untuk mendapatkan kepercayaan nya kembali. "Ah sudahlah! ayolah Malik beranikan diri mu!" seru Malik menyemangati diri nya sendiri.
Dia menarik nafas dalam-dalam dan hendak membuka pintu namun sebelum terbuka, pintu itu sudah terbuka dengan sendirinya membuat dia kaget. "Mas sudah pulang? kok cepat, Bunda mana?" tanya Asyifa beruntun dan mencari keberadaan sang Bunda membuat Malik kelabakan.
"Bu ,,, bunda di Rumah Sakit. Iya, di Rumah Sakit." Malik menjawab dengan gagap.
Asyifa mengerutkan keningnya bingung. "Kok Bunda nggak pulang? katanya kamu mau gantiin Bunda?" tanya nya.
"I ,,, itu Yang, Bu ,,, bunda lagi di rawat," suara Malik semakin kecil. Asyifa terdiam. Detik kemudian dia masuk lagi ke dalam kamar dan membuka lemari nya.
"Mau apa kamu Yang?" tanya Malik khawatir. "Mau ke Bunda." Asyifa masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaian nya.
Malik terus mengetuk pintu kamar mandi namun tak ada sahutan. Asyifa keluar dan hendak keluar dari kamar nya. Malik menarik tangan Asyifa membuat wanita itu menghentikan langkahnya. "Kamu mau kemana?" tanya Malik geram.
"Aku mau ketemu sama Bunda!" seru Asyifa, setetes air mata nya terjatuh. Malik terdiam tak menjawab.
"Aku mau mastiin keadaan Bunda Malik! lepaskan tangan aku!" seru nya.
"Kamu mau meninggalkan kedua putra kamu di sini?!" teriak Malik geram. Asyifa terhenyak mendengar suara tinggi Malik.
Salim dan Salman ikut menangis kencang mendengar suara sang Ayah. Malik melirik kedua putra nya yang menangis kemudian kembali memandangi wajah Asyifa yang basah akan air mata.
Malik membawa Asyifa ke dalam pelukan nya. "Tolong sayang, ngertiin keadaan. Sekarang bukan untuk egois, kamu sekarang sudah punya bayi, dan bukan cuma satu tapi dua. Mereka butuh kamu sayang," Malik mencoba untuk membujuk sang istri.
Asyifa menangis tersedu. "Maafkan aku Mas, hiks ,,, hiks ,,," tangis Asyifa membuat hati Malik sakit. Tapi ini bukan salah siapapun, yang harus di pikirkan hanya kesembuhan kedua orang yang mereka sayangi.
"Nanti Mas bilang ke Mama untuk kesini yah, supaya bisa ada yang gantian menjaga Bunda dan Ameer." Malik menenangkan. Asyifa mengangguk mengiyakan. Ayah dua anak itu menghembuskan nafas lega.
__ADS_1
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍😍.