Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
21.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Annisa begitu khawatir dengan keadaan Syifa saat ini, Reyyan sempat melaporkan apa yang terjadi pada saudara nya itu.


Annisa sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah besar Al-Husein mertua nya, untuk menjemput Asyifa, putri nya.


Dia langsung berlari masuk saat dirinya sudah sampai di kediaman itu.


"Assalamualaikum" sapa Annisa terburu-buru.


"Wa'alaikumusalam, Tante sudah datang" ucap Reyyan menyambut.


"Dimana Syifa, Rey?" Annisa menanyakan dengan tak sabar. Reyyan mengarahkan pandangan nya ke kamar yang di tempati oleh Syifa.


Setelah mendapat jawaban, dia langsung saja menghampiri putrinya itu.


Saat pintu kamar terbuka, pemandangan yang di tangkap oleh Annisa begitu menyayat hati.


Putri nya sedang meringkuk di atas ranjang yang dulu nya di tempati oleh Syifa waktu mereka menginap disini. Wanita itu mendekat dan melihat sang putri mengusap-usap foto yang sangat dia kenal.


"Sayang" panggil Annisa sembari mengusap kepala sang putri.


Tidak ada jawaban dari nya, hanya tetesan air mata yang mengalir di matanya. Annisa duduk di samping Syifa, meski dirinya juga merasakan hal yang sama, tapi putrinya itu lebih sengsara dari nya.


"Mau sampai kapan kamu memendam semua itu sayang?, kamu ada Bunda yang siap jadi sandaran kamu waktu kamu sedih" tutur Annisa lembut dengan mengusap air mata sang putri.


"Aku nggak mau Bunda ikut sedih juga" ujar Syifa sesegukan. Air mata nya masih menetes membasahi pipinya nya.


Annisa menghela nafas berat. "Melihat kamu seperti ini lebih membuat Bunda sedih nak, bahkan menderita" ucap nya juga meneteskan air mata, dia segera menghapus nya supaya tidak terlihat oleh Syifa.


Asyifa menengok Bunda nya itu dan menjatuhkan kepalanya di pangkuan Bunda.


"Kangen Ayah Bun, hiks.." ucap Syifa lirih.


"Bunda juga kangen, tapi kita doa'kan Ayah yah, Ayah akan selalu ada di dalam hati kita sayang, dia selalu bersama kita" Annisa memberi nasihat.


Selama kepergian Ayah nya, Syifa tidak sekalipun menceritakan apa yang dia rasakan, dia selalu diam dan menjadi dingin pada orang lain, pada keluarga nya pun tidak banyak berbicara seperti Asyifa yang dulu.


"Ayah juga bilang seperti itu" adunya.


"Kapan?" tanya Annisa penasaran.


"Tadi pas aku tidur" jawabnya polos.


"Jangan menyakiti diri kamu sendiri sayang, Ayah sangat sayang sama Syifa, bukti nya Ayah mengingat kan Syifa kan" Annisa sebenarnya ingin sekali menangis, sekuat tenaga dia tahan supaya tidak menjatuhkan air mata nya.

__ADS_1


Sebesar apapun anak itu, bila sudah di hadapan Bunda nya, dia selalu seperti anak kecil.


"Ya sudah kamu tidur ya, sudah malem" ucap Bunda nya mengalihkan.


"Peluk Bun" Annisa tersenyum dan merentangkan kedua tangannya menyambut.


Syifa menghambur memeluk sang Bunda, dia hirup dalam-dalam aroma yang begitu menenangkan diri nya.


Keluarga mereka melihat dari ambang pintu pun ikut bersedih juga menyaksikan apa yang di lihat mereka. Sebegitu tersiksa nya mereka karena belum merelakan kepergian Zidan.


Setelah melihat kedua nya memejamkan mata nya, mereka membubarkan diri mereka masing-masing.


💢💢💢💢


Annisa menutup pintu dan berlalu ke dapur untuk mengambil air minum. Dia dan Syifa menginap di sini karena tidak memungkinkan untuk nya membawa putrinya itu untuk pulang.


Dia duduk dan menuangkan air ke dalam gelas dan meminumnya, dia terlihat melamun.


"Belum tidur?" tanya Naura menghampiri, dia mengambil gelas dan meletakkan nya di depan Annisa, Annisa menuangkan air yang tadi dia ambil ke gelas Kakak ipar nya itu.


"Terimakasih" ucap nya.


"Enggak kerasa ya, sudah enam tahun saja Zid ninggalin kita" kata Naura tersenyum miris.


"Iya, umur nggak ada yang tahu" Annisa menghirup nafas panjang. "Tapi, aku kasian sama Syifa Kak, dia sampai sekarang belum bisa mengikhlaskan kepergian Ayah nya" lanjutnya menunduk.


"Maksud nya?" Annisa tak mengerti.


"Gini loh Nis, aku lihat si Syifa itu kayak kurang pergaulan deh, jadi nggak ada yang bisa buat dia mengalihkan perhatian nya dari rasa sedihnya dia" ujar nya.


"Kan Kakak tahu gimana Syifa"


"Ya iya, tapi masa nggak ada satupun sih?"


Annisa berfikir, tapi suara Reyyan yang menjawab membuat kedua wanita itu menengok ke belakang.


"Malik sama Danish bisa Tan!" seru nya dari belakang. Dia mendudukan dirinya di kursi samping Naura.


"Malik?" Annisa sedikit berfikir, sejurus dengan itu, Annisa mengingat dan dia melebarkan matanya seraya mengingat sesuatu.


"Waktu kita pergi ke kebun binatang Syifa terus tersenyum Tan, aku rasa karena adanya mereka deh, dan juga nggak biasa nya juga Syifa bisa langsung akrab dengan seseorang, jangan kan laki-laki, perempuan saja hampir tidak ada" jelas Reyyan yang di angguki oleh mereka.


Mereka pun mulai mendiskusikan sesuatu, mereka tidak ingin salah satu dari keluarga nya terus saja bersedih dan seperti kehilangan hidup nya.


Bahagia nya Asyifa mempunyai mereka, tapi karena kesedihan nya membuat dia lupa dan tidak bisa melihat kasih sayang dan juga kepedulian mereka terhadap dirinya.

__ADS_1


💢💢💢💢


Annisa membuka gorden kamar yang di tempati oleh Syifa, membuat si empunya mengernyit karena silau.


"Pagi sayang nya Bunda?!" seru Annisa tersenyum menyapa.


"Pagi Bun" ucap Syifa sembari mendudukkan dirinya.


Kejadian ini seperti tidak asing bagi nya, di kamar yang sama ini, Bunda nya itu selalu seperti itu bila membangun kan nya.


"Minum dulu sayang" ujar Bunda menyodorkan gelas berisi air putih dan di terima oleh putrinya itu dengan tersenyum.


"Ada yang nyariin di bawah"


"Siapa Bun?" tanya nya dan meminum air nya lagi.


"Malik sama Danish" jawab nya membuat Asyifa tertegun.


"Kenapa?"


"Enggak apa-apa" Annisa menatap putri nya yang gugup sedikit curiga.


"Sudah sana mandi biar seger" ujar Nisa beranjak dari duduknya dan mengusap kepala Asyifa sebelum dia pergi.


Asyifa berfikir, mau apa mereka kesini?.


Dia beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuh nya.


Sedangkan Malik dan Danish sudah duduk di sofa ruang tamu, setelah Reyyan menceritakan tentang Asyifa, mereka pun setuju membantu untuk mengembalikan senyuman manis dari Asyifa.


Terlihat Syifa turun dari lantai atas. Tapi dia tidak berjalan ke ruang tamu untuk menemui tamu nya itu. Dia malah berbelok ke dapur.


Gadis itu mendudukan dirinya di kursi meja makan dan menyantap roti yang ada di piring Adiba, membuat yang punya menekuk mukanya kesal.


"Sama calon Kakak ipar nggak boleh pelit" bisik Syifa membuat Diba tersipu.


"Loh sayang, kok temen kamu nggak di ajakin makan bareng"


"Salah sendiri kenapa mereka bertamu pagi-pagi begini" cuek Syifa membuat mereka yang berada di ruang makan itu menahan tawa mereka.


Ya ampun, jutek nya belum sembuh juga, batin mereka.


LAGI BANYAK VIRUS, SELALU JAGA KESEHATAN YAH MAN-TEMAN.


JANGAN PANIK, SELALU JAGA KESEHATAN YAH.

__ADS_1


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.


__ADS_2