Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
37.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 😊.


"Mau aku ini!" jawabnya dengan pukulan menghantam wajah tampan Malik yang sudah lebam dan sekarang setitik darah mengalir di hidung nya.


Malik jatuh tersungkur. Dia tersenyum miris dan mengusap darah yang mengalir di hidung nya itu.


Sebelum Bima ke kediaman Malik, dia sudah memerintahkan kepada anak buahnya untuk mencari tau apa yang terjadi pada Syifa sejam yang lalu, dan informasi dari bawahan nya itu membuat Bima geram, rasanya dia ingin membuat Malik membayar berkali-kali lipat rasa sakit yang Syifa rasakan.


"Bangun kamu!, kamu kalo gentle lawan sama aku bukan sama perempuan seperti Syifa!" marah Bima.


Malik mendengar nama Syifa di sebut jadi murung kembali. Dia menengadah menatap Bima.


"Bagaimana kamu tau tentang ini?" lirih Malik.


"Asal kamu tau, dia hampir saja celaka lebih parah bila bukan mobil yang terparkir yang dia tabrak!" bentak nya.


Malik membulatkan matanya, dia langsung bangkit dan memegang pundak Bima. "Bagaimana keadaan nya sekarang?!" tanya nya tak sabar.


Bima tersenyum miring. "Kamu gak ada hak lagi untuk bertanya keadaan nya, kamu sekarang kalah, mulai sekarang aku gak akan biarkan kamu merebut Syifa kembali. Camkan itu!" tukas Bima sebelum pergi.


Malik terdiam, pikiran nya berkecamuk, bagaimana keadaan Syifa sekarang dia tidak tau.


"Kamu puas?, aku dulu mengalah, aku serahkan Syifa untuk kamu miliki dan bahagiakan, kalo aku tau akan jadi seperti ini, aku gak akan lepasin Syifa Bang" seru Danish, sekian lama dia terdiam melihat amarah Bima yang meluap, sekarang gantian dirinya menyalahkan Malik.


Malik mengaku salah pada dirinya sendiri, namun bukan itu kejadian sebenarnya, mereka tak ada hak untuk menghakimi nya.


Danish pergi dengan motor nya meninggalkan Malik. Malik merebahkan tubuhnya di lantai dan menatap langit-langit.


"Aku harus bagaimana?" lirih Malik.


💢💢💢💢


Reyyan berkali-kali menggedor pintu kamar Asyifa, tapi pemilik kamar tersebut tidak ada tanda-tanda untuk membukakan pintu.


"Syi, buka dong" mohon Reyyan.


Bukan hanya Reyyan saja yang ada di depan kamar Syifa, tapi ada Bima dan juga Danish juga di sana.


"Syi, kalo kamu gak buka pintu, aku dobrak ya!" ancam Reyyan.


Bila dia tidak akan mendapat masalah jika dia mendobrak pintu kamar Syifa, sudah dari tadi dia bongkar. Tapi jika itu terjadi, maka tamat riwayatnya.


Lagi-lagi ancaman dari Reyyan tak kunjung membuat Asyifa takut.


"Oke, kalo kamu gak mau buka pintu terus kamu mau buat Bunda kamu nangis kayak gini terus?!" seru Reyyan kesal.


Tak lama Asyifa membuka pintu, dia menyipitkan matanya.

__ADS_1


"Berisik banget sih" gerutu Asyifa sembari masih menutup mulutnya karena menguap.


Mereka tercengang melihat Syifa seperti tak terjadi apa-apa.


Annisa berhambur memeluk putri nya itu. Syifa heran dengan tingkah sang Bunda.


"Ini ada apaan sih?" tanya Syifa heran.


"Kamu gak apa-apa Syi?" tanya heran Reyyan.


"Emang aku kenapa?" tanya nya.


"I, itu tentang Mal..ik?" tanya Reyyan takut-takut.


Asyifa menatap sepupu nya itu dingin. "Malik siapa?" tanya Syifa.


Semua nya bungkam, tak terkecuali Annisa. Yang Reyyan dan Annisa takutkan terjadi, bahkan Bima dan juga Danish ikut tercengang.


"Aku gak kenal yang namanya Malik, dan aku juga gak mau denger nama itu" ucap Syifa penuh penekanan.


Mereka terdiam, lebih baik tak mengucapkan apapun lagi dari pada harus membangkitkan sifat Asyifa yang lalu.


"Oh, oke kita gak ngomong lagi, kamu belum makan kan, ayo kita makan" Reyyan berucap lagi.


Asyifa mengangguk dan berjalan mendahului mereka bersama sang Bunda.


Setelah makan malam, mereka duduk di ruang tamu.


"Kalian ada perlu apa kesini?" tanya Syifa pada ketiga pemuda itu.


"Kita mau minta penjelasan tentang yang tadi sore Syi?" Reyyan menjawab dengan mata yang melas.


"Nggak ada penjelasan, dan hal itu tidak perlu kalian tau dan juga jangan ingin tau" ucap Asyifa dingin.


Reyyan dan yang lainnya meringis ngeri, ya ampun, sifat Asyifa kembali lagi.


"Baiklah, kita gak akan bahas hal itu lagi iya kan Rey, Dan" final Bima yang di angguki ragu oleh kedua pemuda itu.


💢💢💢💢


Malik terus saja menelpon nomer Asyifa, tapi tak ada jawaban dari si penelepon. Malik frustasi, sudah sejak seminggu yang lalu dia tidak dapat menemui, jangankan menemui, menelpon saja tidak di angkat nya.


"Arrgghh.... Kenapa Syi, kenapa?, kenapa kamu gak mau dengar penjelasan aku Syi?" frustasi Malik.


Danish menghembuskan nafas kasar, sekarang dia berada di ambang pintu melihat saudara sepupu nya itu seperti orang gila saja. Wajah yang tampan kini tidak terlihat lagi.


Danish mengambil ponsel nya di dalam saku dan menelpon seseorang, ntah siapa yang dia hubungi, begitu misterius.

__ADS_1


Sembari berjalan ke luar dia mengobrol dengan yang dia telepon itu. "Baiklah aku tunggu, jangan lupa hubungi dia" final Danish.


Dia menjalankan motor nya menuju tempat yang dia janjikan pada orang yang dia telepon itu.


Di sisi lain, Syifa duduk di pinggiran ranjang nya.


Annisa menghampiri putri nya itu yang membelakangi nya, wanita itu memegang pundak sang putri mengelus dengan lembut.


Syifa menoleh dan tersenyum. Raut wajah kesedihan yang sedari tadi muncul kini dia sembunyikan.


"Kamu yakin dengan pilihan kamu sayang?" tanya Annisa.


Asyifa sejenak terdiam kemudian tersenyum. "Asyifa yakin kok Bun, Bunda jangan khawatir ya, Asyifa akan baik-baik aja oke" jawab Syifa, meskipun masih tidak percaya, namun Annisa tetap mengikuti keputusan sang putri.


Annisa menghembuskan nafas lelah. "Ya sudah ayo" ajak nya.


Mereka berdua keluar kamar dan juga bertemu dengan orang tua dari Bima.


Asyifa menyalami keduanya kemudian ikut duduk di tengah-tengah mereka.


Bima tersenyum begitu manis malam ini, akhirnya sebentar lagi apa yang ingin dia miliki akhirnya akan jadi milik nya juga.


"Cantik banget sih kamu nak?" puji Mama Bima senang.


"Terimakasih Tante" ucap Asyifa sedikit tersenyum.


Pembicaraan berlanjut. Di acara pertemuan ini ada juga Aditya sebagai orang tua kandung.


💢💢💢💢


Bima terus saja tersenyum bahagia di depan gadis yang sudah dia lamar secara resmi itu.


Mereka sekarang duduk di gazebo kolam renang.


"Kamu sehat kan?" tanya Syifa menghilangkan kecanggungan di antara mereka.


Bima mengangguk dan tersenyum manis. "Kenapa emang nya?" tanya nya kemudian.


"Senyum-senyum gak jelas" cibir Syifa.


Bukannya marah, tapi pemuda itu malah tertawa. "Ya ampun, manis banget sih calon istriku ini" ucap nya membuat Asyifa jengah.


NAH, NAH, NAH KAN KAN HAYOO...🤣🤣.


GIMANA, GIMANA?😊.


VOTE YANG BANYAK YAH MAN-TEMAN 😁.

__ADS_1


__ADS_2