
HAPPY READING MAN-TEMAN π.
Seseorang itu datang tak sendiri, dia membawa anak kecil yang lucu. Anak kecil itu berlari menuju Bima. Pemuda itu dengan refleks merentangkan tangannya dan mengendong anak kecil itu.
"Om tampan kenapa di sini?" tanya nya.
"Om lagi jenguk teman Om, Chacha ngapain di sini?" tanya Bima balik.
"Chacha mau jenguk Tante baik yang nolongin Chacha kemarin," celoteh nya.
Iya, dia Chacha. Dan yang bersama nya tentu saja Nazira. Perempuan cantik yang mampu membuat Bima memikirkan nya akhir-akhir ini.
"Tante yang mana?" tanya Bima. "Itu Tante yang sedang tiduran." Chacha menunjuk Adelia yang terseyum.
Semua menoleh arah tunjuk Chacha. Chacha meminta turun dan menghampiri Adelia. Dia cium punggung tangan nya.
"Jadi nama kamu Chacha, sayang?" tanya Adelia gemas. "Iya Tante, aku Chacha, dan itu Ibu aku, Nama nya Nazira." Chacha memperkenalkan Ibu nya dengan lancar.
"Maaf yah, saya baru bisa menjenguk. Dan maaf karena anak saya, anda jadi terluka seperti ini," sesal Nazira.
"Nggak apa-apa kok, itu kecelakaan." Adel menjawab dengan sedikit lemah.
"Maaf sekali lagi, dan terimakasih, saya sangat berterima kasih atas pertolongan Mba nya, karena jika Mba nya nggak menolong anak saya, mungkin anak saya yang ada di ranjang itu." Nazira begitu tak enak dengan hal yang menimpa Adelia. Dia sudah tau jika Adelia keguguran karena insiden ini.
Adelia mengangguk. Meski sedih, tapi hal itu murni kecelakaan, tidak seharusnya juga saling menyalahkan. Mungkin karena takdir nya harus mengalami hal seperti ini.
Asyifa menoleh melihat Nazira, namun sudut mata nya menangkap Bima yang berekspresi lain dari biasa nya. Dia jadi teringat kejadian tempo hari yang mengakibatkan Bima tidak tepat waktu. 'Jadi ini anak itu?, pantas saja Bima begitu menyayangi nya, ternyata memang anak ini buat siapa saja gemas dengan tingkah nya.' gumam Asyifa menelisik.
'Tapi, seperti nya ada yang lain dari biasanya,' lanjut nya masih menatap Bima.
"Chacha cantik deh, umur Chacha berapa?" tanya Syifa.
Chacha menoleh dan tersenyum. "Chacha umur lima tahun Tante cantik, Tante cantik deh sama kayak Ibu," celotehan Chacha membuat semakin hangat suasana di ruangan itu.
__ADS_1
"Chacha datang sama Ibu saja?, Ayah nya kemana?" tanya Asyifa.
"Emmm ,,, Ayah Chacha sudah sama Allah, sama Bunda juga." Chacha menjawab dengan suara yang sedikit sedih.
Mereka tertegun dengan penuturan Chacha, Asyifa jadi merasa bersalah, niat ingin mencari tau tapi yang di dapat nya malah penuturan yang membuat hati anak kecil itu mengingat kembali rasa sakit di tinggal orang yang dia sayang.
"Oh iya, Tante cantik sedang hamil yah, sama dong kayak Bunda, Bunda juga lagi hamil adik, tapi adik di bawa sama Ayah sama Bunda, Chacha mau ikut, tapi kata Bunda sama Ibu saja di sini," ucap Chacha sedih.
Nazira yang melihat Chacha sedih langsung menghampiri dan menggendong nya.
Asyifa berkaca-kaca, "maafin Tante ya sayang, Tante nggak sengaja," ucap Syifa menyesal.
Chacha menoleh dari gendongan Nazira. "Chacha nggak apa-apa kok. Kata Ibu, Chacha anak yang kuat, dan Bunda, Ayah, sama Adik, sudah bahagia di sana," lanjut nya lagi.
Tidak ada air mata dari Chacha, bahkan dia cepat sekali mengubah ekspresi dari sedih ke bahagia guna membuat Asyifa tak merasa bersalah. Anak sekecil itu sudah berfikiran begitu dewasa nya, membuat siapa saja yang melihatnya merasa miris dan juga kagum.
Adelia tersentuh dengan ucapan Chacha yang begitu dewasa itu, ' kasihan sekali dia. Harus merasakan apa yang seharusnya tidak dia rasakan di usia nya yang masih sangat kecil', dia mengusap kembali perut nya yang sudah tak ada kehidupan di sana.
' semoga kita bisa bertemu kembali nak ' gumam Adel lirih dalam hati.
Chacha mengangguk semangat. "Om tampan suapin Chacha yah," pinta nya dengan sumringah. Bima tersenyum dan mengangguk.
Malik mengusap lengan sang istri menenangkan. "Ayo kita makan," ajak Malik menggandeng tangan Syifa.
Mereka memakan makanan mereka dengan bahagia nya, celoteh dari Chacha menambah hangat suasana makan mereka. Adel tersenyum bahagia. Dia serasa di kelilingi oleh orang-orang yang menyayangi nya.
π’π’π’π’
"Mama, hari ini beneran mau anterin Bian kah?, aku mau ke rumah Bunda Nisa." Bian yang sedang mengikat sepatu nya itu bertanya, sebab baru kali ini Yasmin ingin ikut menemui Annisa.
Yasmin menghampiri putra semata wayangnya itu dan duduk di samping nya. "Yakin, kenapa harus nggak yakin?"
"Oke, aku suka!" seru Bian semangat dan memeluk sang Mama dan di balas oleh nya.
__ADS_1
Mereka pun berangkat, sesaat mereka keluar dari apartemen, Aditya sudah berada di depan pintu apartemen.
Aditya yang hendak mengetuk pintu pun mengurungkan niatnya melihat kedua orang beda usia itu keluar.
"Ayah!" seru Bian sumringah.
"Hai Boy, sudah siap?" tanya nya. Bian mengangguk dan menoleh ke belakang melihat Mama nya yang tertegun.
"Oh iya Yah, Mama ikut juga yah?" Bian dengan semangat memberitahu.
Aditya menatap heran pada Yasmin, tidak biasa nya dia ikut, meski tak pernah mengatakan dia menolak ajakan ataupun mengajukan diri untuk ikut, tapi hal ini lumayan mengejutkan, dia mengajukan diri untuk ikut setelah sekian lama dia keluar dari penjara.
"Ayah?!" seru Bian mengagetkan sang Ayah yang masih tertegun. "Eh iya nak, Kenapa?" tanya nya setelah tersadar dari ketertegunan nya.
"Mama boleh ikut kan?" tanya anak remaja itu lagi.
"Bo ,,, boleh" jawab nya sedikit ragu. Melihat respon dari Bian membuat Aditya tersenyum, bahagia sekali putra nya itu.
Tanpa menunggu lama lagi, mereka akhirnya berangkat dengan mobil Aditya.
Di dalam mobil, Bian terus saja berceloteh. Tidak biasa nya juga anak itu begitu bersemangat nya menceritakan apa yang terjadi di sekolah nya. Apa mungkin saja karena suasana hati nya sedang gembira?. Aditya dan Yasmin sesekali menanggapi.
Setelah berkendara lebih kurang dua puluh menit, kini mobil Aditya memasuki pekarangan rumah Annisa.
Bian langsung berlari menghampiri Amier, anak itu begitu menjadi seorang anak-anak seusia Amier jika bersama nya walaupun perbedaan usia antara mereka cukup jauh, tapi hal itu tidak menampakkan perbedaan usia jika mereka sedang bersama.
Annisa, Nenek, Malik, dan Asyifa yang sedang duduk bersantai di taman depan itu pun menoleh dan melihat Aditya dan juga Yasmin yang keluar dari mobil hampir bersamaan.
Nenek dan Annisa saling pandang, sedikit terkejut juga. Namun tak lama dengan keterkejutan mereka, mereka menyambut datangnya mereka dengan senang hati.
TINGGALKAN JEJAK KALIAN YAH MAN-TEMAN JANGAN JADI SIDERπ π .
KOMEN NEXT SUDAH CUKUP UNTUK AUTHOR UNTUK MENGETAHUI KALIAN MENIKMATI TULISAN SAYA DAN MENJADI SEMANGAT UNTUK SAYA.
__ADS_1
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE ππ.