Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
96.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMANπŸ˜‚.


Sudah beberapa bulan ini Reyyan dan juga Adelia tinggal bersama Mommy dan Daddy- nya


Hari-hari Adelia kini tidak merasa sepi lagi, dia bahkan sudah mulai terbuka dengan ibu mertuanya. Wanita itu merasa disayangi, kasih sayang orang tuanya yang tidak di dapatkan dulu, kini dia dapatkan dari ibu mertuanya.


Dia merasa beruntung karena mereka Sangat terbuka padanya dan menerima dirinya apa adanya. "Bagaimana keadaan kamu hari ini sayang? ada cerita apa Mommy akan dengarkan," tanya Salsa.


Wanita paruh baya itu tidak ingin menantunya itu merasa kesepian bahkan sampai mengalami baby blues seperti halnya waktu itu.


Meskipun tidak banyak yang Adelia ceritakan, tapi hal itu masih lumayan daripada harus memendam nya sendiri.


"Aku baik-baik saja kok Mom, Mommy nggak usah khawatir. Aku sudah bisa menerima semuanya." Adelia terseyum.


Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Adelia, beberapa waktu yang lalu dia begitu tertekan karena rasa bersalahnya. Dia merasa dirinya yang menyebabkan kematian putra nya.


Entah sampai kapan dia akan merasa bersalah pada suaminya itu. Meskipun Reyyan tidak menampakan kekecewaannya kepada sang istri, tapi Adelia selalu merasa Reyyan belum ikhlas dengan kepergian putra nya.


Pernah satu malam Reyyan termenung di balkon kamar mereka, Reyyan terlihat melihat secarik kertas yang Adelia ketahui adalah hasil USG dirinya. Adelia merasa hatinya sangat sakit, dia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kebodohannya.


Tapi lama-kelamaan, dia memikirkan bahwa itu harus dirubah dan dia tidak mau kalah dengan keadaan. Tekadnya untuk kuat demi sang suami dan juga putrinya nya itu kini sangat terlihat dari cara nya menyayangi putri nya dan juga banyak tersenyum.


"Mommy sangat bangga padamu, kamu bisa melewati hal ini dengan baik. Jangan merasa sendirian lagi sayang, kita selalu ada untuk kamu." Salsa tersenyum sembari mengusap sayang puncak kepala sang menantu.


"Terimakasih Mom," ucap Adelia.


Di balik tembok pembatas, Reyyan melihat semua interaksi dua wanita yang sangat dia sayangi itu tersenyum. Setelah penyelidikan Reyyan tentang awal dari terjadi nya baby blues yang istrinya alami itu beberapa bulan lalu, membuat nya geram dan pelaku nya adalah mantan suami Adelia.


Dan sekarang mantan suami dari istri nya itu mendekam di jeruji besi karena laporan dari Reyyan dan juga kejahatan lain nya karena penipuan.


Kini yang dirinya fokus kan adalah kesembuhan Adelia. Mungkin sudah saat nya Reyyan meng-ikhlaskan kepergian kedua anak nya.


Iya, kehilangan dua anak bukan lah hal yang mudah. Tapi melihat kondisi yang di alami oleh istri nya itu cukup untuk membuat nya sadar jika sang istri jauh lebih merasakan hal yang lebih sakit dari nya, lebih menderita dari nya. Dia percaya akan ada hal manis setelah nya.


Reyyan menghampiri ketiga nya. "Wah ... Putri Papa sudah sangat wangi?" seru Reyyan saat sudah di depan mereka.

__ADS_1


Dia mengangkat dan mengambil alih Nabila dari tangan istri nya. Bercanda dan bergurau dengan bayi tiga bulan itu.


πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’


Di sebuah kafe, tepat nya di kafe Malik. Seorang pemuda dengan lihai nya memainkan cangkir dan membentuk sebuah gambar di atas cangkir tersebut. Seorang barista multitalenta jika pelanggan memanggil nya.


Karena kepiawaian-nya membuat bentuk unik membuat kafe semakin ramai saja dan juga di tambah wajah yang tampan mampu menghipnotis para anak remaja maupun siapapun terutama kaum hawa.


Tiga pasang mata menatap nya begitu heran dengan kepiawaian-nya. Mereka adalah Malik, Asyifa dan juga Amier. Tak lupa juga kedua jagoan yang kini menginjak usia hampir satu tahun itu.


"Dia belajar dari mana ya Yang? kenapa begitu lihai membuat nya?" tanya Malik heran tanpa menoleh pada istri nya.


"Dia memang suka menggambar, dan gambar nya memang sangat bagus. Tapi aku nggak tau dia bisa dengan cekatan nya meracik dan membuat kopi yang begitu menarik." Asyifa menjawab pertanyaan suami nya itu tanpa mengalihkan perhatian nya juga pada sang adik.


Benar. Dia Bian, adik laki-laki Asyifa. Pemuda yang sebentar lagi akan menginjak dunia perkuliahan itu, kini menjadi barista untuk mengisi waktu luang nya.


Masa ujian yang sudah berakhir membuat nya memiliki waktu yang senggang. Dan pilihan untuk mengisi ke-senggangan itu dengan menjadi barista di kafe milik ipar nya.


"Nambah omset penjualan yah Kak," timpal Amier sembari terkekeh.


Bian menghampiri mereka yang terlihat begitu asik nya mengobrol.


"Wah! seru banget kayak nya?!" seru Bian.


Mereka menoleh secara bersamaan. Mereka terkekeh.


"Idola baru kafe kita datang," ucap Amier sembari tertawa kecil.


"Idola apa nya? cuma gitu doang kok idola. Biasa itu mah, orang keren kan bnyak penggemar," balas Bian dengan sombong membuat Amier berdecih.


"Sombong!" ketus Amier. Bian tertawa melihat kekesalan Amier. Dia duduk di sebelah adik tirinya itu dan merangkul nya.


"Oh iya Kak, cewek sebanyak itu ada yang nyangkut di Kakak nggak?" tanya Amier menggoda.


"Nyangkut apaan? nyangkut layangan kah?" tanya Bian tertawa.

__ADS_1


Amier kesal dan menendang kaki Bian yang berada di bawah meja. Dengan cekatan Bian menghindar. Bian tertawa dan Amier kesal.


Kedua Kakak mereka menggelengkan kepalanya saja. Seperti biasa nya mereka akan selalu berselisih namun akan kembali akur seperti sedia kala.


Di saat mereka asik mengobrol, datang lah beberapa anak muda seusia Bian mendekat. Dengan malu-malu para gadis itu menghampiri meja mereka.


Mereka mengalihkan perhatian mereka karena suara yang sedikit berisik itu mengganggu pendengaran mereka.


"Ada apa Nona?" tanya Asyifa pada salah satu gadis yang di suruh maju oleh teman-temannya.


"A ,,, anu, i ,,, itu, aku mau meminta tanda tangan Kakak," katak gadis itu gugup.


Pipinya merona karena malu, namun raut wajah malu nya berubah menjadi sedih karena tidak ada satupun dari mereka menjawab permintaan gadis itu.


Syifa yang mengerti situasi nya pun memegang tangan Bian dan memberi kode. Bian menoleh dan mengerti kode dari sang Kakak. Bian terseyum dan mengadahkan tangan nya.


"Bawa pulpen?" tanya Bian, mendengar suara Bian dan juga pertanyaan Bian, gadis itu yang tadi nya menunduk itu pun mendongak.


Seulas senyuman manis nya terukir. Dengan segera dia mengangguk dan menyerahkan buku beserta pulpen nya.


Bian menerima uluran itu dan menandatangani buku itu. "Siapa nama kamu?" tanya Bian tanpa mendongak.


"Anita," jawab nya. Bian menuliskan nama nya sembari mengulang nama itu. Setelah itu, dia menyerahkan nya.


Dengan bahagia Anita menerima. Terimakasih Kak, berkat Kakak aku akan mendapatkan hadiah dari teman aku. Terimakasih," ucap nya keceplosan.


"Ma ,,, maaf Kak, aku pergi dulu dan terimakasi!" seru gadis itu sembari berlari. Menyusul teman-teman nya yang sudah berlari meninggalkan nya seorang diri.


Bian mengerjap tidak percaya. Mereka bertiga tertawa geli, apa lagi Amier yang tertawa hingga akan terjungkal.


"Baru kali ini aku melihat cewek selucu dia!" seru Amier terpingkal. Bian berdecak kesal. Namun kemudian, dia tersenyum tipis dan memandang keluar jendela yang menampakkan punggung gadis itu tengah berjalan sembari bercerita dengan teman-teman nya.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍😍😍.


LIKE DAN COMMENT JANGAN LUPA OCEH🀭🀭🀭.

__ADS_1


__ADS_2