Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
82.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN πŸ€—.


Tiga hari Malik dan juga Ameer melakukan perjalanan bisnis mereka, dan hari ini adalah hari kepulangan mereka. Asyifa sudah duduk di kursi tunggu bandara. Menunggu sang suami dan juga sang Adik untuk menjemput mereka.


"Wow! istri siapa ini?" seru seseorang yang menghampiri Syifa.


Syifa yang menunduk sembari memainkan ponsel nya pun mendongak dan tersenyum. Dia bangkit dari duduknya dan menyambut sang suami.


"Sudah lama kah menunggu?" tanya Malik setelah melepaskan pelukannya.


"Lumayan," jawab nya singkat. Ameer menengahi dua orang yang masih berpegangan tangan itu.


"Bisa tidak kalau nggak usah mesra-mesraan di sini!" kesal Ameer.


"Kenapa sih? sudah halal ini." Malik menginterupsi. "Kalian kenapa jahat sih? nggak tau aku nggak ada pasangan apa?!" ketus nya. Hal itu bukan nya mengundang prihatin, malah mengundang tawa kedua pasangan itu.


Asyifa meraup wajah sang Adik. "Kalau adapun, mau apa?! kalau belum suami istri tidak boleh melewati batas!" peringat Syifa.


"Iya! aku tau dan aku paham!" ucap Ameer. "Bagus!" ujar Syifa.


"Oh iya Meer, kamu pake mobil di antar supir saja yah, Kakak mau sama Kak Malik pake motor." Asyifa mengusulkan.


"Bilang saja mau pacaran!" saut Ameer. Asyifa tertawa pelan. "Tau saja." jawab nya enteng.


"Oh iya Kak, baby twin nya memang nggak apa-apa di tinggal lama?" tanya Ameer.


"Oh iya Yang? Salim Salman gimana?" tanya Malik mengikuti. "Semua lagi pada tidur pas aku kesini, dan kata Bunda nggak apa-apa. Lagipula kan sudah aku stok ASI di kulkas, jadi aman." ujar Syifa.


"Wah! pintar nya istri ku? ayo kita pergi." Malik menggenggam tangan Syifa dan say bye pada Ameer. Ameer menggeleng saja.


"Sudah tua juga!" gerutu nya. Namun di ikuti dengan kekehan lucu.


πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’


Malik memakaikan helm pada kepala Asyifa. Setelah memakaikan nya, dia menaiki motor nya. "Sudah siap?" tanya Malik.


Asyifa mengangguk, "sudah." Asyifa menjawab.


Malik melajukan motornya membelah keramaian ibu kota dengan kecepatan yang sedang. Seperti biasa nya, Asyifa menyenderkan kepalanya dan memeluk erat tubuh sang suami. Malik tersenyum senang di balik helm nya.


"Ini nama nya pacaran setelah menikah yah Yang, lebih halal." Malik mengucapkan nya pada saat laju kendaraan nya berhenti karena lampu merah menyala.

__ADS_1


"Hem!" Asyifa hanya menjawab dengan gumaman saja.


"Mau di ajak ke hotel juga bisa." Malik tertawa saat mengatakan itu. Asyifa yang tadi nya memejamkan mata nya langsung terbuka lebar mendengar kata hotel.


Dia sedikit mengendurkan pelukan nya dan memiringkan kepalanya. Begitu juga dengan Malik yang menunduk dengan memiringkan kepalanya hingga pandangan mereka bertemu.


"Mau ngapain Mas ke hotel?" tanya Asyifa. " Yang, kamu kayak nggak tau saja," ucap Malik terkekeh.


"Dasar mesum!" satu pukulan mendarat cantik di lengan sang suami. Dia bukan nya marah, malah tertawa sedikit keras sembari mengusap lengan nya yang terasa sedikit panas.


Mereka jadi tontonan para pengendara lain seketika. Asyifa yang melihat mereka dengan tatapan aneh pun langsung menutup helm karena malu.


Tak berselang lama, lampu hijau pun menyala dan Malik menjalankan lagi kendaraan nya.


"Oh iya Yang, kita ke makam Ayah yuk?" ucap Malik. Asyifa sedikit terdiam, kemudian dia mengangguk. Malik tersenyum dan lebih cepat mengendarai motor nya.


πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’


Tibalah mereka di area pemakaman. Mereka turun dan saling bergandengan tangan masuk ke dalam makam.


"Assalamualaikum Ayah?" ucap Asyifa sendu. Meski sudah lama sang Ayah meninggal, dan sudah ada pengganti sebagai sandaran nya. Namun tidak di pungkiri jika sudah berhadapan dengan makam sang Ayah akan mengingatkan nya pada hal manis yang begitu membekas di hati nya.


Malik mengusap lengan istri nya dan membawa kepala Asyifa untuk bersandar di lengan. "Kita kesini untuk membagi kebahagiaan sama Ayah sayang, bukan untuk menunjukkan air mata dan kesedihan kamu." Malik mengusap air mata Syifa.


"Kita baru sempat kesini sekarang dan jangan buat momen yang sedih oke?" sambung nya. Asyifa mengangguk.


"Ayah tau kan jika Asyifa sudah punya putra? dan putra Asyifa bukan cuma satu Yah, tapi dua. Dan keduanya aku beri nama sesuai pesan Ayah. Meskipun waktu itu Ayah hanya bercanda, tapi hal itu tidak membuat aku melupakan nya." Asyifa mulai bercerita.


"Ayah tau jika aku suka sekali dengan anak kembar yang lucu, seperti Ayah yang kembar dengan Tante Naura kan. Dan sekarang Asyifa sudah di berikan itu sama Allah Yah, Asyifa kini merasa hidup Asyifa bertambah berwarna kembali saat kedua putra Asyifa lahir." Asyifa mengusap air mata nya yang terjatuh.


"Terimakasih Ayah, aku sudah menemukan kehidupan aku lagi." Asyifa tersenyum.


"Sudah?" tanya Malik saat Asyifa terdiam cukup lama. Asyifa mengangguk. "Sudah!" jawab nya. Mereka menaburkan bunga yang telah mereka beli sebelum datang.


Malik berdiri dan mengulurkan tangannya. Asyifa menerima uluran tangan sang suami dan ikut berdiri. "Kita pulang?" tanya Asyifa sembari berjalan mengikuti langkah suami nya.


"Nggak jadi ke hotel nih?" goda Malik. "Dasar mesum!" seru Asyifa. "Mesum sama istri sendiri nggak dosa Yang." Malik berujar.


"Iya memang nggak dosa, tapi kan nggak di tempat begini juga ngomongin nya Mas!" kesal nya.


Malik tertawa dan menghentikan langkahnya membuat Asyifa ikut menghentikan langkahnya juga. Malik berjongkok dan menepuk punggung nya sendiri. "Mau apa Mas?" tanya Syifa.

__ADS_1


"Menurut kamu apa?" tanya nya balik. "Aku naik kah?" Asyifa menjawab ragu. Malik mengangguk. "Naik lah ratuku, aku akan membawa kamu ke istana kita." Malik mengatakan itu dan terkekeh.


Asyifa tertawa kecil. "Baik lah pelayan ku." Asyifa menanggapi candaan Malik.


Asyifa naik ke punggung dan Malik mulai berdiri kemudian melanjutkan langkahnya. "Lumayan yah Yang kamu sekarang," canda Malik. Asyifa memukul pundak sang suami lalu tertawa.


Di saat Asyifa dan Malik saling bercanda dan juga melempar kata ledekan, ponsel Asyifa bergetar. "Sebentar Mas, ponsel aku bunyi." Asyifa mengambil ponsel nya setelah Malik menurun kan nya.


"Hallo?" sapa Asyifa. Ntah dari siapa panggilan itu Malik tak tau, tapi respon dari sang istri yang begitu terkejut membuat nya ikut khawatir.


Malik menangkap tubuh Syifa saat wanita itu limbung dan hampir terjatuh. "Kamu kenapa Yang?" tanya Malik khawatir.


Tak ada jawaban dari sang istri. Tapi ponsel nya yang masih menyala dia ambil dan menempel kan nya di telinga. Malik membulatkan matanya kaget.


"Baik Bun! kita akan segera kesana!" seru Malik dan menyimpan ponsel Syifa di tas nya kembali.


"Ayo Yang, kita ke Rumah Sakit sekarang!" seru Malik menyadarkan Syifa.


Q. Aku mau nanya dong? πŸ€”.


A. Apa Thor?.


Q. Author lihat, di awal Chapter bnyak like nya semakin ke sini kok berkurang yah? pada kemana emang?πŸ€”.


A. Nggak tau Thor, mungkin lagi social distancing kali Thor, jadi berjauhan gitu.😲


Q. Woh! balik lagi gih. Kasian Chapter nya nggak di kasih jejak, ghoib semuaπŸ˜‚.


A. Bentar yah Thor aku balik lagi πŸ˜‘.


Q. Thanks yah,😍.


A. Iya, aku padamu Thor😁.


Q. Me too πŸ˜†.


WKWKWK... πŸ˜†πŸ˜†.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.


VOTE LIKE COMMENT JANGAN LUPA YAH.

__ADS_1


__ADS_2