Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
30.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Malik jadi bingung harus apa, sejurus dengan itu Ayesha menggores pergelangan tangan kiri nya membuat orang yang berada di tempat itu menjerit.


Malik berlari menghampiri gadis itu. Dia mengambil kain terdekat untuk membalut luka di tangan nya.


"Apa kamu gila!!" bentak Malik.


Ayesha mendongak menatap Malik dan tersenyum, detik selanjutnya dia kehilangan kesadaran nya.


🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️


Disini lah dia. Menemani sang mantan yang terluka. Ya ampun, dia sedikit menyesal telah ikut campur lagi dengan yang namanya mantan. Dia sudah sangat berusaha untuk tidak ikut campur di kehidupan nya lagi, tapi, mungkin saja rasa yang dulu pernah ada atau mungkin saja rasa itu kembali lagi?, gak, gak, gak akan lagi hal itu terjadi. batin Malik berdebat.


Lamunan nya buyar saat pundak nya tersentuh. Dia mendongak dan terlihat Mama sang mantan duduk di samping Malik.


"Maafin Tante ya nak Malik, Tante gak tau lagi harus berbuat apa lagi, suami nya sudah tidak memperdulikan lagi dan sekarang dia hamil. Ayesha gak mau terima bayi nya itu makanya dia mau mengakhiri hidupnya" jelas Mama Ayesha dengan masih sesegukan.


Malik jadi iba dengan keadaan yang menimpa mantan nya itu.


"Bulan lalu Ayesha ngasih tau Tante kalau dia ketemu kamu, maka nya pikiran Tante hanya tertuju sama kamu, karena Tante tau kalau Ayesha akan menurut dengan ucapan kamu, maafin Tante" sesal nya.


"Udah lah Tante, yang penting Ayesha tidak apa-apa" ucap Malik menenangkan.


"Ya udah Tan, Malik pamit ya ada pekerjaan yang perlu di kerjain" ujar Malik dan berdiri untuk berpamitan.


💢💢💢💢


"Kakak curang!" seru Amier kesal.


"Hahaha, mana ada curang, kamu nya aja yang kurang mahir main nya" elak Bian.


"Pokok nya Kakak curang, aku gak mau lagi main sama Kak Bian!" seru nya lagi. Bian masih tertawa melihat Amier yang ngambek.


Dari arah tangga, Syifa turun. "Aduh, adik-adik Kakak lagi ngapain sih seru banget kayaknya, sampe Amier tertawa begitu" seru Asyifa menghampiri dan duduk di antara mereka.


"Ralat, bukan ketawa tapi kesal!" seru Amier.


Asyifa dan Bian semakin tertawa. Tertawa mereka terhenti saat pintu rumah terketuk.


Mereka saling pandang. "Siapa?" tanya Asyifa.


Amier dan juga Bian mengedikan bahu mereka tak tau. Asyifa bangkit dari duduknya dan berlalu guna membuka pintu.

__ADS_1


ceklek


Asyifa mengerutkan keningnya. "Malik?" ucap nya.


"Hai, Assalamualaikum" sapa Malik.


"Mau apa?" tanya Asyifa lagi setelah membalas salam.


"Boleh masuk gak?" tanya Malik.


Asyifa sedikit berpikir. "Masuklah" izin nya.


Asyifa melihat raut wajah Malik yang sedikit aneh, jadi dia merasa tidak tega saja untuk mengusir.


Malik tersenyum. "Terimakasih" ucap nya dan berlalu masuk.


"Tante ada gak?" tanya nya lagi.


Asyifa mengangguk. "Ada, masuk aja dia di dapur, emang mau ngapain nanya Bunda?" tanya Asyifa.


"Mau minta makan" jawabnya simpel. Asyifa tercengang, ya ampun, apa-apaan ini orang. Dateng-dateng mau minta makan, emang nya gak kuat beli makanan, pikir Asyifa.


Malik masuk ke dapur dan menemui Annisa yang sedang memasak. Karena ini adalah hari libur jadi Annisa di rumah. Dia akan ke Restoran nya bila hari biasa, dan akan meliburkan diri jika hari libur. Alasannya hanya satu, menemani putra putri nya.


"Wa'alaikumusalam, eh nak Malik, datang sama siapa?"


"Sendiri Tan" jawab nya.


"Tumben, biasanya sama Reyyan, emang Reyyan kemana?"


"Reyyan lagi ada urusan Tan, jadi dia gak ikut" jawab nya lagi.


"Tan, boleh minta makan gak, laper nih" lanjut nya dengan muka memelas.


"Ya ampun, anak nya April sampe kelaperan begitu, sini duduk sini tunggu bentar ya, bentar lagi siap" ucap Annisa sembari terkekeh.


" Emang gak punya duit buat beli Kak, nih aku kasih biar beli sendiri" seru Amier yang datang dengan Bian.


"Bukannya gak bisa beli dek, cuma Kakak kangen masakan rumah" elak Malik. Memang benar, bila dia sedang di landa kegalauan, masakan rumahan lah yang bisa membuat dia jauh lebih baik.


Aneh memang, tapi entah lah, itu memang sudah menjadi kebiasaan nya dari kecil dan masakan sang Mama lah yang ampuh membuat dia melupakan kegalauan nya untuk sementara waktu.


Berhubung dia tak ada kerabat dekat kecuali si Danish itu, dan lagi pula Danish tidak bisa memasak, bukannya tidak bisa, hanya saja rasa nya tak enak. Dan terlintas lah Annisa. Jadi di sini lah dia, biarlah di bilang mau makan gratis atau apapun itu yang penting dia tak galau lagi.

__ADS_1


"Bilang aja pengiritan" cibir Amier.


"Amier" peringat Annisa, tapi anak laki-laki nya hanya menyengir saja.


"Bun, udah matang kah?, aku laper nih" ucap Syifa sembari duduk di kursi meja makan.


"Udah ayo kita makan, Amier panggil Nenek di kamar" perintah Annisa dan Amier mengangguk.


Mereka menyantap makan siang mereka dengan hikmat setelah Nenek ikut bergabung.


💢💢💢💢


Malik, Bian dan juga Amier sedang seru bermain game online di ponsel masing-masing. Kegaduhan di antara mereka saat salah satu ada yang kalah pun tak terelakkan.


"Enak ya" seru Reyyan yang baru datang. Reyyan duduk di antara mereka dan ikut bergabung dengan permainan seru mereka.


"Woi bro, baru datang, gimana?" tanya Malik penasaran.


"Lancar bro, aku harap bisa lancar terus ke depan nya" saut Reyyan tanpa mengalihkan perhatian pada ponsel di tangan nya.


"Aamiin deh kalau gitu, aku ikut seneng" jawab Malik.


Di lain tempat, tepat nya di dapur. Annisa yang sedang memotong buah. Asyifa putri cantik nya yang asik memakan hasil dari potongan sang Bunda pun membuat Annisa terkekeh dan menggelengkan kepalanya.


"Oh ya sayang, gimana?" tanya Annisa ambigu.


"Gimana apa nya Bun?" Asyifa tak paham dengan arah bicara sang Bunda, tapi rasanya ada firasat yang gak baik, pikir nya.


"Malik atau Bima?" tanya sang Bunda lagi, menggoda. Asyifa yang sedang menelan buah di mulut nya mendadak tersedak.


Annisa menuangkan air dan menyodorkan nya pada Asyifa. "Hati-hati" Annisa mengingatkan.


"Ada apa Bunda tiba-tiba nanya begitu" tanya Syifa balik sembari menetralkan nafas nya.


"Ya gak apa-apa, cuma nanya aja" ujar Annisa.


"Entah lah, Syifa gak minat buat bahas yang begitu Bun" tutur Asyifa dan Annisa hanya membulatkan bibirnya tanpa suara tersenyum sembari mengangkat nampan dan berlalu meninggalkan putri nya.


Asyifa jadi terdiam dengan segala pikiran nya yang sedikit kacau. Kenapa pula Bunda nya menanyakan hal itu, pikir nya.


Asyifa menghela nafas panjang.


DUKUNG TERUS AUTHOR KECE YAH🤗.

__ADS_1


__ADS_2