Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
94.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Pagi telah tiba, jam menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Reyyan membuka gorden sehingga membuat sinar matahari pagi menyingsing masuk.


Adelia mulai membuka mata nya. "Mas Reyyan," sapa Adel. Reyyan terseyum dan mendekati nya.


Setelah kejadian beberapa jam yang lalu, membuat Reyyan semakin berhati-hati. Meski usia bayi nya sudah menginjak hampir empat bulan, tapi entah mengapa istri nya itu bisa mengalami perubahan emosi seperti itu.


"Sudah bangun?" tanya Reyyan Adelia mengangguk.


Nabila sudah bangun sedari tadi, jadi Reyyan menyerahkan putri nya itu pada sang Mommy. Adelia merasa ada yang kurang, dia meraba samping tempat dimana dia tidur.


Reyyan seakan tau dan duduk di samping nya. "Nabila sedang sama Mommy," ucap Reyyan dan mengelus sayang puncak kepala istri nya.


"Kamu mandi sekarang dan kita nanti akan tinggal sama Mommy," sambung nya lagi. Adelia mengernyit bingung. "Kenapa?" tanya Adel.


"Nanti Mommy bantu kamu buat ngurus Nabila, jadi nanti kamu nggak akan kesepian." Reyyan memberikan pengertian.


Tak ada jawaban dari Adel. Dia hanya tertunduk dan terdiam. "Sayang, boleh Mas ngomong sesuatu sama kamu?" tanya Reyyan lembut.


Pertanyaan itu sukses membuat Adelia mendongak. "Jika kamu ada apa-apa, kamu bisa cerita sama Mas, kamu jangan pendam sendiri yah, jika sesuatu terjadi sama kamu Mas nggak bisa maafin diri Mas sendiri sayang. Jadi Mas mohon, jangan pendam apapun sendiri?" ucap Reyyan.


Sebisa mungkin Reyyan memberikan pengertian tanpa menyinggung hati Adelia yang saat ini begitu sensitif. Bukan jawaban yang dia berikan, tapi tangis lah yang menjadi jawaban dari apa yang di tanyakan oleh Reyyan.


Reyyan memeluk erat istri nya itu memberikan kenyamanan. Setelah sedikit tenang, baru lah Reyyan melanjutkan ucapannya lagi. "Sudah, bisa bercerita kah kamu?" tanya nya lagi.


Dengan sesegukan, Adelia menjawab. "Aku nggak bisa jadi ibu yang baik untuk anak ku, aku merasa gagal menjadi seorang Ibu Mas, hiks ,,," jawab nya.


"Siapa yang mengatakan hal itu?" tanya Reyyan kaget. "Teman aku mencibir ku karena tidak bisa menjaga dua anak dan pada akhirnya salah satu dari anak ku meninggal." Adelia menangis semakin keras.


Reyyan terdiam dengan tangan yang menggenggam erat. "Siapa yang ngomong jika kamu bukan ibu yang baik?!" nada dari ucapan Reyyan menandakan betapa marahnya dia namun dirinya masih menahan amarahnya.

__ADS_1


Siapa yang berani menghina istri nya itu. Siapa juga yang membuat nya begitu tersiksa dengan ucapan yang begitu tak beradab seperti itu.


"Sayang, lihat Mas!" ucap Reyyan. Pipi Adelia dia sentuh dan di arahkan untuk menatap matanya. "Apa kamu melihat cinta di mata ku?" tanya Reyyan.


Adelia mengangguk. "Mas tidak akan pernah menyalahkan kamu tentang meninggal nya putra kita. Itu semua adalah takdir. Takdir yang tidak bisa kita cegah sayang, Jangan membebani dirimu dengan hal seperti ini lagi, please." mohon Reyyan dengan penuh penekanan.


"Maafin aku Mas, maafin aku hiks ,,," tangis Adelia lirih. "Sudah yah, sekarang kamu mandi lalu siap-siap kita ke rumah utama. Nanti Mommy yang akan menemani kamu supaya kamu tidak kesepian. Dan juga kamu bisa berbagi cerita dengan Mommy," ucap Reyyan.


Adelia mengangguk dan segera beranjak dari tempat tidur nya. Reyyan menghembuskan nafas lelah sembari melihat punggung Adelia yang semakin hilang di telan pintu.


"Ya Allah, sebegitu beratnya cobaan yang engkau berikan kepada kami, tapi hamba ikhlas ya Allah," gumam Reyyan.


💢💢💢💢


"Mas jangan di gituin dong!" seru Asyifa sembari tangan nya sibuk dengan adonan tepung.


"Aku sudah nggak sabar Yang, laper banget ini!" seru Malik dengan nada yang meledek.


"Iya tapi jangan di gituin! aku sudah kerepotan ini!" seru Asyifa yang gemas dengan sang suami yang sedari tadi merecoki nya di dalam dapur.


"Siapa yang tadi begitu sombong nya dengan ingin turun tangan sendiri?" ledek nya.


"Kamu ih! sudah lah. Aku nggak mau lanjutin lagi." Asyifa ngambek dengan membalikkan badannya dan raut wajah yang cemberut lucu.


Malik terkekeh dan dengan gemas dia memeluk dari belakang dan mencium aroma dari tubuh istrinya. Wangi tubuh dan juga di padukan dengan wangi khas bayi, membuat Malik betah berlama-lama menghirupnya.


"Minggir nggak!" kesal Asyifa. Malik enggan untuk melepaskan pelukannya. Dan bahkan dia makin erat memeluk nya. "Geli Mas!" Asyifa menggeleng kan kepala nya karena geli.


Malik meletakkan kepalanya di pundak Asyifa. "Jangan ngambek, lihat tuh di lihatin putra kita. Kamu nggak kasihan mereka begitu bingung melihat kita." Malik terkekeh dengan ekspresi polos kedua putranya.


Asyifa jadi ikut terkekeh. "Kenapa sayang? bingung yah lihat Ayah kamu yang konyol ini?" tanya Asyifa menunjuk Malik. "Iya, dia memang begitu. Jadi kalian harus sabar yah punya Ayah seperti dia." Asyifa tertawa.

__ADS_1


"Justru mereka beruntung, karena mereka punya Ayah seperti aku ini, dan punya Bunda seperti kamu." Malik mencuit hidung mancung Asyifa dengan gemas.


"Sudah lah, sini aku ajari kamu masak biar kalau aku nggak di rumah, kamu bisa masak sendiri." Malik melepaskan pelukannya dan mengambil celemek dan mulai melakukan kegiatan masak-memasak nya.


Sesekali mereka bercanda dan juga menyauti apa yang di celoteh kan oleh kedua putra mereka.


Hingga pada akhirnya hidangan itu tertata rapi di atas meja makan. "Selamat makan!" ucap Asyifa.


Mereka menikmati sarapan mereka dengan penuh kehangatan.


Dilain tempat, tepat nya di kediaman Bima dan Nazira. Wanita itu begitu panik saat putri nya itu mengalami kejang. Dengan cepat dia mengambil sebuah sendok dan meletakkan nya di lidah sang putri.


Dia jadi takut. Bima yang kala itu sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor, mengurungkan niatnya. Dia berlari saat Nazira berseru memanggil namanya.


"Tolongin Chacha Dad!" seru Nazira. Bima dengan sigap menggendong tubuh mungil itu.


Suasana panik sangat terasa di dalam mobil. Nazira tak tak henti-hentinya menangis. Meski Chacha sering kali mengalami panas tinggi, tapi baru sekarang dia mengalami panas di sertai dengan kejang.


"Cepetan Dad!" mohon Nazira dengan sesegukan. "Tenang sayang, tenang." Bima mencoba untuk menenangkan.


Sesampainya di Rumah Sakit, mereka membawa nya untuk mendapatkan pertolongan. Bima memeluk Nazira dengan erat mencoba menenangkan wanita itu.


"Semua akan baik-baik saja sayang," ucap Bima. "Aku takut Dad, hiks ,,,".


Dokter keluar dengan wajah lelah nya. Mereka menghampiri dan menanyakan hal yang umum. Dokter menggeleng. Tangis Nazira seketika pecah dan detik kemudian wanita itu jatuh pingsan di pelukan suami nya.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE😍😍.


OH IYA TEMAN-TEMAN DENGERIN AUDIO AUTHOR JUGA YA 😆.


KLIK PROFIL AJA OCEH....😊😊😊

__ADS_1


JANGAN LUPA JUGA UNTUK KLIK LIKE COMMENT VOTE DAN JUGA RET 5.


TERIMA KASIH 😍.


__ADS_2