Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
06.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 😊


Asyifa sedang duduk bersandar di bawah pohon yang biasa dia duduki disaat sedang mencari ketenangan, mata nya terpejam, dia begitu lelah saat ini. Dia hanya ingin istirahat namun suara gaduh yang di timbulkan oleh para mahasiswa membuat nya terjaga.


"Ya Allah, susah sekali mau istirahat saja!" gerutu nya.


Dia melihat seseorang yang menghampirinya. Wajah orang itu tidak terlihat jelas karena cahaya yang begitu terang.


Semakin dekat orang itu, semakin jelas juga wajah nya. Asyifa memutar bola matanya jengah. Kenapa harus ada dia saat ini, pikirnya.


"Hai." sapa nya.


"Ada apa?" tanya Syifa dingin.


"Nggak ada apa-apa cuma mau nyapa saja," jawab nya. Senyuman nya begitu manis namun tidak bagi Syifa, menurut nya senyumannya begitu menyebalkan.


"Nggak penting!" jawab Syifa. Dia beranjak dari tempat nya karena kantuk nya sudah hilang. Bukan hanya kantuk nya saja yang hilang, tapi kenyamanan nya pun hilang karena pemuda itu.


Dia pun berlalu namun sebelum dia menjauh, Malik memegang bahu nya. Dengan refleks Asyifa berbalik dan memuntir tangannya.


"Aww, sakit, ampun oke oke aku menyerah!" seru Malik dengan mengangkat tangan satunya.


"Jangan pernah sentuh aku!!" Asyifa memberi peringatan.


Setelah mengatakan itu Syifa pergi begitu saja meninggalkan Malik yang kesakitan.


"Serem banget ternyata," lirih nya dengan masih meringis kesakitan.


Malik menoleh saat ada orang yang begitu keras menertawakan nya.


"Gaya-gayaan sih lagian!" ledek Reyyan yang masih dengan tawa nya


"Ceh! saudara kamu tuh," ucap Malik.


"Memang dia saudara aku, keren kan?" ucap Reyyan bangga dengan menaik-turunkan kedua alisnya.


"Nggak usah godain dia, godaan kamu itu nggak mempan sama dia, Syifa itu iman nya kuat," sambung Reyyan.


"Emang aku setan!" kesal Malik.


"Alhamdulillah kalau merasa," ucap Reyyan tertawa.


"Kurang ajar!" saut Malik kemudian dia tertawa juga.


Seperti itu lah mereka, tidak ada yang di anggap serius. Apapun itu kecuali tentang prestasi, mereka selalu bersaing untuk hal itu. Mereka berjalan dengan saling merangkul, tidak sedikit pula canda nya di selingi dengan ledekan.


💢💢💢💢


Syifa menghentikan motornya di samping tempat parkir mobil sang Bunda. Dia hari ini mengunjungi Restoran Annisa untuk membawa pesanan yang di minta Oma nya dari Restoran Bunda nya itu.


"Eh Non Syifa, sore Non?" sapa Ridwan ramah.

__ADS_1


"Sore Om, Bunda nya ada?" tanya Asyifa datar.


"Ada di ruangan nya Non, masuk saja," ucap Ridwan dan di angguki oleh Asyifa.


"Makin cantik saja calon anak yang nggak kesampaian." Monolog Ridwan melihat punggung Syifa yang semakin jauh.


"Terus saja terus, menghayal mulu!" seru Milla kesal sembari menjewer telinga Ridwan.


"Aww ,,, sakit Yang!" ringis Ridwan kesakitan.


"Kamu sudah buntingin aku masih saja begitu. Bikin kesal saja!" ketus Milla. Dia melipat kedua tangannya di atas perut buncit nya.


"Maaf Yang, aku nggak sengaja keceplosan," akunya.


"Pokoknya kamu tidur di luar!" kesal Milla dan berlalu pergi.


"Yang, maaf Yang, aduh Yang jangan gitu dong!" seru Ridwan.


"Yah, nggak dapet deh, huh! " Ridwan mendengus kesal dan menarik rambut nya frustasi.


💢💢💢💢


Tok ... Tok ...


"Masuk," saut Annisa tanpa mengalihkan perhatian nya dari buku di depan nya.


"Bunda lagi sibuk yah?" tanya Syifa setelah duduk di sofa.


"Udah Bun tadi sama Reyyan dan juga ..." jawaban Syifa terpotong.


Annisa menaikkan alisnya. "Dan juga?" tanya nya.


"Itu loh temen nya si Reyyan. Tau nggak Bun, dia itu nyebelin pake banget banget banget!" jelas Syifa.


Asyifa pun menceritakan tentang Malik yang menurutnya begitu menyebalkan dan selalu menggangu nya. Annisa menahan tawa dan mengangguk-anggukan kepala nya. Baru kali ini putri nya itu bisa bercerita tentang 'temennya' dengan menggebu-gebu begitu seperti dia menceritakan Reyyan dulu. Dia jadi penasaran dengan yang nama nya Malik itu, seperti apa sih dia yang membuat sang putri begitu kesal.


"Jadi nama nya Malik?" tanya Annisa dengan nada meledek dengan menaik-turunkan alisnya.


"Iiihhh ,,, Bunda kok bgitu sih, sudah ah aku mau ke dapur saja!" ujar Syifa beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Annisa.


Annisa melihat putri cantik nya keluar pun tersenyum, dia memandangi foto almarhum suaminya dan mengusap nya sayang.


"Kamu lihat Ayah?, putri mu sudah dewasa sekarang. Mungkin sebentar lagi dia juga akan meninggalkan Bunda," dia tersenyum pilu.


Ada kebahagiaan dan juga kesedihan di matanya. Dia tahu suatu hari masa itu akan datang, ntah kapannya itu dia tidak tahu namun hal itu pasti akan terjadi.


💢💢💢💢


Asyifa masuk ke kediaman sang Oma dan tidak menemukan siapa pun di sana.


"Pada kemana sih, kok nggak ada semua?" monolog Syifa.

__ADS_1


Dia masuk ke dalam kamar Oma Risma dan mengedarkan pandangannya ke semua arah tapi tak mendapati sang Oma juga.


"Oma, Oma ..." panggil nya dan tak ada jawaban dari orang yang di cari.


Saat Asyifa hendak melangkah pergi, suara dari kamar mandi menghentikan langkahnya dan berbalik.


Dia berjalan mendekati kamar mandi di kamar Oma nya itu, saat dirinya membuka terlihat sang Oma yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai yang dingin itu.


"Oma!!" seru Syifa mengguncang lengan sang Oma tapi tak ada respon dari dirinya.


"Oma, bangun Oma ,,, hiks ,,," seru Syifa, tangannya sedikit gemetar.


Asyifa berteriak meminta tolong namun belum juga ada orang yang datang menolong.


"Bro ayo duduk dulu aku mau ngambil minum," ujar Reyyan pada Malik yang baru saja datang bersama.


Malik duduk sedangkan Reyyan pergi ke dapur. Namun langkah nya terhenti di saat suara Syifa yang berteriak-teriak meminta tolong.


Reyyan seketika berlari. Malik yang melihat Reyyan lari dengan terburu-buru jadi penasaran dan ikut menyusul Reyyan ke lantai atas.


"Oma!!" seru Reyyan yang melihat Oma tergeletak di samping Asyifa yang sedang menangis, dia segera membawa Oma ke luar untuk di bawa ke Rumah Sakit.


Reyyan begitu panik, dimana para pekerja di rumah nya itu, mengapa tidak ada satu pun yang tau hal ini. Baru saja Reyyan berucap di dalam hati , para pekerja berdatangan dari arah belakang dengan tergopoh-gopoh.


Reyyan menatap mereka tajam sembari berjalan cepat membawa tubuh sang Oma.


Dia meletakkan Oma nya di kursi belakang.


"Malik, kamu yang menyetir!" seru Reyyan dan di angguki Malik.


Reyyan seperti ada yang kurang, sesuatu tertinggal dan dia mengedarkan pandangannya, dan benar saja Asyifa tidak ikut keluar bersama nya.


"Si*l!" umpat Reyyan yang menyadari Syifa tertinggal di dalam.


Dia berlari kembali ke kamar Oma, dan melihat Asyifa yang terus menangis ketakutan.


"Syifa!" seru nya menghampiri.


Dia menepuk bahu dan memegang pipi Syifa.


"Syi, Syifa? tenang Syi, semua akan baik-baik saja." Ucap nya menenangkan.


"Syifa lihat aku Syi!" Reyyan mengguncangkan tubuh Syifa untuk menyadarkan nya.


Asyifa mendongak dan melihat Reyyan yang ada di depan nya, dia seketika memeluk nya dan menangis.


"Aku takut." Asyifa mengucapkan nya dengan suara yang bergetar.


"Semua akan baik-baik saja, oke?" Reyyan mencoba menenangkan Asyifa, dan dia mengangguki nya.


SELALU DUKUNG AUTHOR KECE TERUS YAH

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE DAN LIKE COMMENT NYA 😅.


__ADS_2