
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
"Kakak!!" seru Amier melihat Bian yang terjatuh. Dia berlari menghampiri Kakak laki-laki nya itu.
Tapi, setelah melihat kondisi dari Bian sang Kakak, dia malah tercengang. Detik berikutnya, ekspresi wajah Amier yang tadi nya ketakutan sekarang berubah menjadi merah. Merah karena tertawa geli melihat Bian yang terjerembab di gorong-gorong.
"Hahahaha... Kakak, kamu item semua" seru Amier dengan tergelak kencang.
Bian menggerutu kesal. Bukannya di tolongin malah di ketawain seperti itu. Awas aja kalau dia udah bisa naik, batin Bian.
"Ya ampun dek, kamu kenapa kok bisa nyemplung di got gitu" ucap seseorang yang tak lain adalah Bima.
Bima kebetulan lewat dan melihat Amier yang sedang tertawa geli, karena dia penasaran akhirnya dia menghampiri dan melihat pemandangan yang cukup memperihatinkan tapi tidak bisa dia pungkiri kalau itu lucu. Dia tertawa pelan tapi melihat wajah anak itu dia jadi kasian.
"Kakak ganteng bisa tolong aku nggak?, aku gak bisa naik nih kayak nya aku keseleo deh" pinta Bian dengan melas.
"Oh oke-oke, ayo Kakak tolongin" Bima segera mengangkat Bian keluar dari gorong-gorong dan membawa nya ke rumah di ikuti Amier yang masih terkekeh sembari menuntun sepeda nya.
Bima masuk ke dalam kediaman yang akan dia tuju, dia tau bahwa mereka adalah adik-adik dari Asyifa. Jadi tanpa bertanya pun dia langsung saja masuk kedalam pekarangan rumah Asyifa.
Bima mendudukan Bian di kursi teras depan.
Amier segera memanggil sang Bunda untuk melapor.
"Terimakasih ya Kak, maaf baju Kakak jadi kotor kayak gini gara-gara nolongin aku" ujar Bian.
"Nggak apa-apa kok dek, lagian pas lewat ini, ini mah bisa di ganti nanti" balas Bima menunjuk baju nya dan tersenyum.
"Oh iya, itu Bunda kalian kemana?" tanya Bima celingukan ke dalam rumah yang pintu nya terbuka separuh.
"Bunda kayaknya lagi masak deh Kak" Bian menjawab dengan sedikit meringis karena menahan sakit.
Tak lama Annisa dengan terburu-buru menghampiri Bian. Dia terkaget dengan kondisi Bian.
"Ya Allah nak, kok bisa begini sih" seru Annisa memegang lengan Bian. Dia terlihat panik melihat anak tiri nya kotor terkena air got seperti itu.
__ADS_1
Annisa menatap putranya dengan memicingkan mata nya. "Amier?" panggil Annisa meminta penjelasan.
"Amier nggak sengaja Bun" sesal nya.
"Amier nggak salah kok Bun, justru karena Amier aku sekarang bisa naik sepeda" ujar Bian mencegah Annisa marah.
Annisa membuang nafas panjang. "Sudah minta maaf?" tanya Annisa.
Amier maju selangkah dan mengulurkan tangannya untuk meminta maaf. "Maafin aku ya Kak" ujar Amier dengan cemberut.
"Sudahlah, aku juga salah nggak hati-hati jadi nya jatuh, makasih ya sudah bantuin aku, akhirnya aku gak takut lagi naik sepeda. Nanti kita main sepeda bareng kalau aku sudah beli" saut Bian, niat hati ingin marah sebelum nya, tapi melihat wajah bersalah Amier, dia jadi kasian. Lagi pula bukan sepenuhnya salah dia juga, pikir Bian.
"Aw, aw sakit Bun" ringis Bian kesakitan karena Annisa menekan lebam di kaki nya yang terkilir.
"Maaf-maaf, ayo masuk nak Bunda obati" Annisa menuntun Bian masuk ke dalam. Dia menghentikan langkahnya setelah menyadari kehadiran Bima.
"Eh ya ampun, maaf Bima Tante nggak lihat kamu tadi, ayo masuk nanti Tante buatkan minum" ujar Annisa ramah.
"Terimakasih Tante" ucap Bima. Dia ikut masuk dan duduk di ruang tamu.
"Kakak kamu kemana dek?"
"Emang Kakak nggak liat tadi Kakak aku di bawa sama Bunda!" ketus nya tanpa menatap lawan bicara nya.
"Bukan dia, Kak Syifa nya dek" ralat Bima, mendengar Bima menanyakan Kakak perempuan nya, Amier mengalihkan perhatian nya dari ponsel dan memicingkan mata menatap tajam Bima membuat pemuda itu memundurkan kepalanya.
"Mau ngapain nyari Kak Syifa?" tanya Amier dan menegakkan kepalanya.
"Nggak apa-apa cuma nanya saja, iya nanya saja" ngeri Bima.
"Ya ampun, ini bocah kenapa agak serem ya" batin Bima.
"Kakak jangan macem-macem sama Kak Syifa ya kalau gak mau tangan nya patah!" peringat Amier.
"Jangan suka nakut-nakutin Amier" seru Annisa yang keluar dari dalam membawa air minum untuk Bima.
__ADS_1
"Kamu ada perlu apa nak Bima?" tanya nya sembari meletakkan gelas di meja depan Bima.
"Aku mau ketemu sama Syifa boleh Tan?" izin Bima.
"Asyifa lagi di rumah Oma nya, kayaknya bentar lagi pulang" ujar Annisa.
"Nah itu Syifa pulang" ucap Annisa yang mendengar suara motor Asyifa.
"Assalamualaikum" salam Asyifa saat hendak masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumusalam" saut mereka dari dalam.
"Suah pulang sayang?" sambut sang Bunda, Asyifa mengangguk dengan tatapan yang jatuh pada Bima yang duduk di sofa.
Bima melambaikan tangan dan tersenyum, Asyifa mendekat kan kepala nya berbisik pada Bunda nya. "Mau ngapain dia kesini Bun?" tanya Syifa.
"Bunda juga nggak tahu, kamu temenin dulu gih, Bunda mau ke tukang urut bentar buat ngurut Bian tadi jatuh dari sepeda" bisik balik Annisa.
Asyifa mengerutkan dahi, sejak kapan Bian mau main sepeda, pikir nya. Pandangan Syifa tertuju pada Amier yang masih memainkan game di ponsel nya dan sesekali melirik ke arah Syifa. Syifa memicingkan mata nya tajam.
Annisa tau apa yang ada di pikiran putri nya itupun memegang lengan nya. "Jangan memarahi Amier, dia sudah minta maaf tadi" peringat sang Bunda dengan suara pelan. "Hanya kurang hati-hati" lanjutnya dan pergi meninggalkan mereka.
"Amier, temani Kakak mu" ucap Annisa sebelum pergi. Amier mengangguk mengiyakan.
Asyifa duduk di sebelah Amier, bocah itu menggeser posisi nya karena sedikit ngeri melihat Kakak nya itu.
Asyifa menatap Bima. "Ada apa?" tanya nya datar.
"Nggak ada apa-apa sih cuma pengin mampir saja" jawab nya, Asyifa mengangguk dan sesaat suasana menjadi canggung karena Asyifa dan Bima tidak terlibat pembicaraan yang lain malahan Syifa sibuk melihat permainan di ponsel sang adik.
"Oh ya Syifa, kamu sudah terima hadiah dari aku belum?" tanya Bima membuat Syifa mendongak.
"Sudah, terimakasih dan juga jangan mengirim hal seperti itu lagi. Aku tidak mengembalikan barang itu lagi karena kamu memaksa kurir untuk mengirimkan barang yang sama. Karena aku kasian sama kurirnya yang memohon makanya aku ambil" ucap Syifa datar. Bima masih menatap Asyifa dengan seksama, detik selanjutnya dia bukannya protes malah tersenyum bahagia.
SELALU DUKUNG AUTHOR KECE TERUS YAH, TERIMAKASIH MAN-TEMAN 😊.
__ADS_1