Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
92.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗🤗.


Siang ini, Asyifa dan juga Malik hendak menengok Adelia. Kabar dari Reyyan yang kata nya sang istri sudah sadar itu membuat Asyifa ingin menemui nya. Tapi, dia sedari pagi hanya menekuk wajah nya.


Bagaimana tidak kesal, janji nya hanya morning kiss tapi berlanjut hingga membuat mereka telat untuk menunaikan ibadah sholat subuh nya. Dia semakin kesal karena si kembar yang terus rewel karena di godain oleh suami nya itu.


Sudah berulang kali dia ingat kan untuk tidak membangunkan keduanya, namun dia sama sekali tidak mau mendengar nya.


Dia masih kesal dengan suami nya itu. "Masih marah sama Mas Yang?" tanya nya dengan mata yang fokus pada jalanan sesekali melirik sang istri yang melipat kedua tangannya.


Bukan nya menjawab, wanita itu malah mengalihkan pandangan ke luar jendela.


"Nggak baik loh mendiami suami kayak begitu," ujar nya lagi. Asyifa menghembuskan nafas lelah.


"Sudah lah nggak usah di bahas. Lagipula sudah kejadian juga!" saut nya.


Malik tersenyum. "Maaf deh, nanti nggak lagi seperti itu. Aku ngaku salah nggak menepati janji aku," mohon Malik.


"Jadi kita titip kan ke Bunda dulu kah?" tanya nya. Asyifa mengangguk. Dia menengok kebelakang tempat kedua jagoannya terlelap.


Perjalanan di lanjutkan dengan canda tawa lagi, tak ada lagi rasa kesal. Hingga sampai lah di rumah Annisa.


Mereka turun dan membawa kedua baby twin-nya itu.


"Sedang sibuk kah Bun?" sapa Syifa setelah tiba di dapur. Terlihat Annisa sedang menyiapkan makan siang.


"Kalian sudah datang?" saut nya tersenyum sembari tangannya sibuk dengan menata piring di atas meja makan.


"Oh iya, Bunda nitip buat Adel. Ini bagus untuk yang baru melahirkan." Annisa berucap dengan menunjuk kotak makan siang.


Asyifa mengangguk mengerti. "Oh iya Bun? Bunda beneran nggak keberatan kalau mereka di titipin di sini?" Asyifa mengatakan nya begitu sungkan.


Dia tidak mau merepotkan orang apalagi Bunda nya. Dulu dia banyak merepotkan Bunda nya itu dengan kenakalan nya. Dia tidak ingin merepotkan Bunda nya itu dengan ada nya si kembar.

__ADS_1


"Kamu ini ngomong apa sih sayang? mereka itu cucunya Bunda, mana ada Bunda itu repot. Yang ada Bunda sangat menyukai nya. Bahkan kalau bisa, mereka harus tiap hari main di sini." Annisa terkekeh.


Asyifa tersenyum. "Terimakasih." Asyifa memeluk Bunda nya itu dengan erat.


"Ya sudah sana berangkat, keburu sore." Annisa mengingat kan.


Asyifa mengangguk dan menghampiri Malik yang berada di dalam kamar. "Sudah ayo Mas," ajak Syifa. Malik mengangguk dan menyelimuti tubuh mungil kedua jagoannya.


Mereka menyalimi Annisa. "Kita berangkat yah Bun," pamit mereka setelah sampai di depan rumah.


"Hati-hati," pesan Annisa. Mereka masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sesampainya di Rumah Sakit, mereka turun dengan bergandengan tangan. Begitu romantis dengan bumbu canda dan manja.


Di pertengahan jalan, mereka bertemu dengan sepasang suami istri dan juga satu anak perempuan yang cantik dan manis. Siapa lagi jika bukan Chacha. Dan pasangan itu tentu nya Nazira dan Bima.


Jadi lah mereka saling sapa dan berjalan beriringan bersama. Tak lupa juga dengan ocehan Chacha. Dia begitu menggemaskan.


Asyifa mengetuk pintu ruangan Adel. Dan masuk setelah nya.


"Wah! Tante baik punya dedek bayi lucu sekali, imut!" seru Chacha semangat.


Chacha menghampiri kedua nya dan meminta sang ibu untuk menaikkan diri nya di atas ranjang untuk bisa lebih dekat.


Meskipun demam nya masih sedikit terasa, tapi seperti biasa, bocah kecil itu begitu aktif dan tidak terlihat seperti anak yang sakit.


"Dedek cantik nanti main sama Kakak Chacha yah, nanti kita bisa main rumah-rumahan," celoteh Chacha.


"Chacha mau dedek cantik seperti ini kah?" tanya Adel tersenyum. Matanya begitu sembab karena banyak menangis.


Chacha mengangguk begitu polos nya. Reyyan tertawa. Mereka yang mendengar Reyyan tertawa mengalihkan perhatian kepada Papa baru itu.


Reyyan tertawa karena teringat dengan cerita lucu Bima beberapa hari yang lalu. Bima yang tau apa maksud dari Reyyan mendengus kesal. "Kamu ketawa Rey?" tanya Asyifa bingung.

__ADS_1


"Tidak, hanya saja teringat dengan seseorang yang gagal di malam pertama nya." Reyyan kembali terpingkal. Bahkan menurut Bima, Reyyan berekspresi begitu berlebihan.


Orang yang melihat itu menjadi semakin bingung saja. Asyifa menoleh ke arah sang suami, namun yang di tatap hanya menggelengkan kepala nya tak tau.


Reyyan mendekatkan wajahnya pada Syifa. dia berbisik. Asyifa terlihat tertawa pelan. Di beralih ke telinga sang suami dan membisikkan hal yang sama.


Hal yang sama di lakukan oleh Malik. Dia paham dengan hal apa yang di rasakan teman dan sekaligus ular nya itu.


"Tenang bro! Kita juga sama." Malik terkekeh dan melirik Asyifa dengan menaik turunkan alisnya. Asyifa ikut terkekeh. Betapa konyol nya dia waktu itu.


Kini bukan hanya mereka bertiga saja yang terkekeh. Tapi juga di ikuti oleh Bima. Nazira hanya tersipu malu saja. Sedangkan Adelia dan Chacha, dua perempuan beda usia itu hanya melongo tak paham.


"Sudah lah!" saut Syifa. "Oh iya Del, ini ada titipan dari Bunda untuk kamu." Asyifa meletakkan kotak bekal nya di atas meja.


Dia menghampiri Adelia setelah mencuci tangan nya dan mengambil alih untuk menggendong si kecil. "Kamu makan dulu gih, keburu dingin nanti kurang enak." Asyifa mengingatkan.


Reyyan menghampiri meja dan menyiapkan untuk makan siang sang istri.


"Wah! kamu cantik banget sih sayang, mirip sama Papa kamu tuh! pipi nya gembul." Asyifa terkekeh.


"Kamu kalau jadi menantu kita juga boleh loh sayang, nanti kamu tinggal pilih mau anak Tante yang mana? kedua nya sama-sama tampan," lanjut nya bermonolog.


"Wah! sudah di booking duluan nih bro!" seru Bima. Reyyan menoleh setelah menyuapkan sesendok makanan pada istri nya.


"Mahar nya mahal tau!" saut nya dengan sombong.


"Mau mahar apa Tante kasih sayang, Tante masih sanggup kok memberikan mahar buat kamu. Nanti kalau Tante sama Om nggak sanggup, Tante bakalan minjem sama Papa kamu," ucapan Syifa membuat mereka tertawa.


"Sama saja bohong dong!" seru Reyyan tak terima.


"Yah kan nggak apa-apa kala pinjem, nanti di balikin kalau si cantik sudah jadi menantu kita dan mendapatkan warisan dari Papa nya." Asyifa terkikik geli.


"Aku tolak lamaran nya sekarang! dari pada anak aku di peralatan seperti itu!" kesal Reyyan namun tertawa juga.

__ADS_1


Sore itu, mereka para ayah menghabiskan waktu mereka dengan bercanda dan membahas masalah bisnis seperti biasa nya. Dan para ibu membahas tentang pengalaman hamil mereka dan juga pengalaman lain nya. Nazira tersenyum bahagia, dia jadi ingin punya anak sendiri.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.


__ADS_2