
HAPPY READING MAN-TEMAN π.
Waktu menunjukkan pukul 2 malam, tapi Syifa belum juga bisa memejamkan mata nya. Sedari malam dia tidak dapat tidur, guling kesana-kemari, miring kanan dan kiri mencari posisi yang nyaman namun tetap tidak dia dapat kan. Malik yang tertidur di samping Syifa pun terjaga karena merasakan pergerakan dari arah samping nya.
"Belum tidur kah?" tanya Malik sembari memiringkan badan nya dengan tangan yang menjadi tumpuan kepala nya, memandangi wajah sang istri yang begitu merasakan kegelisahan.
Asyifa menoleh meski sedikit terkejut namun dia mengangguk. "Aku masih mikirin tentang Razi." ucap nya sedih.
Malik menghembuskan nafas pelan, dia merentangkan tangannya, Asyifa yang tau dia pun menghambur memeluk tubuh kekar sang suami.
Malik mengelus punggung dan kepala Asyifa dengan sayang. "Kamu jangan terlalu memikirkan hal itu, kamu boleh sedih tapi itu bukan sepenuhnya salah kamu sayang, dia yang tidak mau menerima kenyataan dan berfikiran pendek." tutur Malik.
Asyifa semakin erat memeluk suaminya dan membenamkan wajahnya. Asyifa mengangguk. "Nanti kita ke makam nya yah, kita berziarah untuk mendoakan nya." lanjut Malik dan Asyifa mengangguk kembali.
Suasana hening sejenak hingga suara dari perut Asyifa membuat Malik tergelak kencang. Asyifa memukul lengan Malik dan ketawa malu.
"Mau makan apa sayang?, biar aku buatkan." Malik menawarkan. Asyifa mendongak menatap wajah Malik. "Ayam bakar" jawab Syifa singkat dengan menelan ludah sendiri membayangkan kelezatan dari ayam bakar.
"Baik lah, mumpung ada stok ayam yang sudah siap, mari ke dapur tuan putri, chef Malik akan membuat kan nya special untuk tuan putri ku yang cantik. Dan jangan lupakan baby yang mungil."ujar Malik mengusap sayang perut Syifa yang masih rata.
Mereka pun turun ke dapur. Malik sudah siap dengan celemek dan jepitan untuk membalikkan ayam yang di bakar nanti nya.
Asyifa duduk anteng dengan tangan yang menumpu dagu nya melihat setiap gerakan sang suami yang begitu lihai memainkan alat masaknya.
Sesekali Malik akan menoleh dan tersenyum tampan. Asyifa ikut tersenyum, Malik kembali fokus pada kegiatan nya dan tak lagi menoleh ke arah Syifa.
Lumayan lama Malik fokus berkutat dengan kegiatan nya, hingga semua sudah siap di atas piring dan Malik membalikkan badannya sembari tersenyum dengan piring di tangan nya. Senyuman nya pudar tatkala melihat sang istri ternyata sudah tertidur di tempat nya. Mungkin karena kelelahan atau mungkin terlalu lama membuat sang istri sampai ketiduran.
Malik membuang nafas lelah, dia meletakkan piring nya di meja dengan pelan dan memutari nya menghampiri sang istri. "Ngantuk banget kamu ya Yang?" tanya Malik meski tidak mendapatkan jawaban.
Dia mengangkat tubuh sang istri pelan, Asyifa refleks melingkarkan tangannya ke leher Malik. Dia membawa nya ke kamar dan meletakkan nya di atas tempat tidur.
Malik terkekeh melihat istrinya mencari posisi yang enak untuk nya, dia memandangi mata, hidung, dan juga bibir sang istri yang menurut nya begitu sempurna. Pada akhirnya dia mencium kening, pipi, kedua mata, hidung, dan terakhir adalah bibir Syifa. Salah satu bagian tubuh dari sang istri yang membuat nya mabuk kepayang.
__ADS_1
"Selamat tidur sayang, aku sayang kamu." bisik Malik.
Entah sadar atau tidak, Asyifa tersenyum dengan mata yang masih terpejam.
π’π’π’π’
Keesokan harinya, Malik dan juga Syifa pergi ke makam Razi untuk berziarah.
"Assalamualaikum, Razi, aku datang." ucap Syifa sedih.
Mereka duduk di tengah antara makam yang lain, Syifa menatap nanar pusara Razi. Setetes air mata nya terjatuh. Malik yang melihat itu pun menggenggam tangan sang istri untuk menguatkan.
"Kami datang kesini ingin meminta maaf, karena aku kamu jadi seperti ini." ujar Syifa.
Malik merangkul pundak sang istri dan mengusap nya sayang. "Aku tau Razi, meskipun kita tak saling kenal, tapi aku yakin kamu sangat menyayangi Syifa. Aku tau jika kamu sakit hati saat mendengar Syifa telah menikah dengan ku. Tapi aku kesini bukan untuk meminta maaf, tapi untuk berjanji pada mu dan insyaallah aku akan melakukan nya dengan senang hati dan tulus." ucap Malik.
"Aku akan menjaga dan juga mencintai Syifa, menjaga kepercayaan nya karena memilih ku, jadi kamu tidak usah khawatir. Aku tidak menyangka akan menemui mu dengan keadaan seperti ini, andai saja kamu lebih ikhlas, mungkin kita akan jadi teman." sambung nya.
"Aku harap kamu tenang di sana, kita akan selalu mendoa'kan kamu dari sini, terimakasih telah menyayangi Syifa, tapi Syifa adalah milikku." final Malik.
Sosok Razi yang begitu baik, ceria, namun karena ketidak nyaman nya Syifa membuat dia tak memilih pemuda itu. Malik adalah satu-satunya orang yang bisa membuat nyaman Syifa setelah Bunda, Ayah, Reyyan, dan juga keluarga besar nya.
Syifa bukan lah tipe yang mudah untuk bergaul. Dan kasus seperti ini membuat hati nya tersadar, bahwa orang yang menurut nya tidak membuat nyaman, justru orang itu yang membuat nya merasa kehilangan.
Setelah mendoa'kan, Malik berdiri dan mengulurkan tangan nya. "Kita pulang?" tanya nya.
Asyifa menatap telapak tangan Malik, sesaat kemudian dia tersenyum dan menyambut uluran tangan nya. Dia mengangguk dan berdiri dengan di bantu Malik.
Malik merangkul pundak istri nya dan melangkah keluar dari area makam.
Saat sampai di depan mobil yang terparkir di tempat penitipan, Asyifa menunduk dan berucap. "Terimakasih." ucapan Asyifa yang tiba-tiba membuat Malik menoleh.
"Untuk apa?" tanya Malik bingung.
__ADS_1
"Untuk segala nya." jawab nya singkat.
Sejenak Malik terdiam, pikiran jail pun ikut terlintas di benak nya. "Bukan begitu kalau mau berterima kasih." ujar Malik tersenyum menyebalkan.
"Nggak usah macem-macem yah, mau nyari kesempatan kan kamu!" seru Syifa yang seakan tau apa yang ada di pikirkan Malik.
"Nggak banyak kok, cuma satu saja permintaan ku." ujar nya.
Asyifa memicingkan mata nya. "Apa?!" ketus nya.
Malik tersenyum jahil. Dia mendekatkan bibirnya di telinga sang istri yang tertutup hijab itu. Entah apa yang di bisikan oleh nya tapi itu mampu membuat Asyifa bersemu malu. Malik yang gemas ingin sekali menggigit pipi Asyifa yang agak sedikit berisi dari biasanya.
"Ayo lah sayang." bujuk Malik.
Asyifa memejamkan mata nya dan menarik nafas. "Iya terima kasih Mas Malik Azam bin Hasan, anak nya Mama April." ucap Syifa penuh penekanan.
"Ada yang kurang sayang" rajuk Malik.
"Haaisshh ,,, banyak sekali permintaan nya." gerutu Syifa kesal.
"Yah, nggak ikhlas nih terimakasih nya."ucap Malik berpura-pura ngambek.
"Idih ngambek, Baby, Ayah kamu nyebelin yah, ngambeknya kayak anak kecil." ucap Syifa mengusap sayang perut nya.
Asyifa tertawa melihat Malik cemberut. Malik melihat Syifa yang tertawa pun menarik tangan sang istri dan memeluk nya.
"Terimakasih telah memilih ku." Asyifa yang sempat kaget pada akhirnya membalas pelukan suami nya itu dan tersenyum. "Aku juga." ucap nya kembali.
AAAA..YANG BAPER YANG BAPERππ..
KOMEN NYA DI PENUHIN π
JANGAN LUPA DUKUNGAN KALIAN YAH MAN-TEMAN ππ.
__ADS_1
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE πππ.