
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
"Om Bian dari mana saja?!" seru Salman saat melihat Bian yang baru saja mendekat.
Bian terseyum, "Om dari toilet sayang, Kalian lagi makan apa?" tanya Bian yang mendudukkan dirinya di samping si kembar.
"Aku makan sayur Om, biar tambah ganteng kata Ayah!" jawab nya polos dengan mulut penuh tanpa melihat lawan bicara nya.
Bian terkekeh. "Benarkah bisa jadi tampan?" tanya nya lagi. Salim dan Salman mengangguk secara bersamaan.
"Wah! Kalau begitu Om juga mau ah!" seru Bian antusias.
"Memang nya Om kurang ganteng?" tanya Salim polos. Bian tertawa. "Berarti Om sudah ganteng dong?" seru girang Bian.
Jarang sekali mereka memuji Bian, mereka menganggap tidak ada yang lebih tampan dari mereka berdua. "Nggak jadi deh! Yang tadi cuma khilaf!" seru Salim.
Bian yang tadi nya terseyum senang kini memurungkan wajah nya mendengar pernyataan itu.
Mereka tertawan melihat interaksi tiga orang beda usia itu. Danish yang paling keras tertawa.
"Memang dasar Anak nya Bang Malik doang yang bisa begini!" seru Danish puas. Karena tidak hanya dia saja yang di anggap tak tampan oleh kedua bocah itu.
Bian mengangguk mengiyakan. "Memang nggak ada yang lain seperti nya," ucap Bian.
"Om mau es krim dong?!" pinta Salman. "Aku juga mau!" seru Salim menimpali.
"Baiklah! kalau begitu, cium Om dulu!" tawar Bian. Salim dan Salman saling pandang, dan beberapa detik kemudian, mereka berdiri dan mencium pipi Bian.
Namun saat Bian mendapatkan ciuman itu bukan nya dia senang, malah dia mendengus kesal.
"Memang nya harus yah kalau cium itu nggak bisa di bersihkan dulu bibir nya supaya bersih? Kan Om jadi belepotan begini!" ucap Bian tanpa ekspresi.
Salim dan Salman hanya tertawa geli melihat Om nya itu belepotan karena mereka habis meminum susu coklat mereka.
Malik mendekati mereka dan mengusak rambut Bian dengan gemas.
"Tingkat ketampanan nya hilang lima puluh persen kayaknya deh Bi!" ledek Malik.
"Ayah sama Anak sama saja!" ucap Bian sedikit kesal. Bagaimana tidak, Malik menghancurkan maha karya nya pada style- rambut nya.
Malik tertawa geli. "Takut nggak ada yang mau?" ledek nya semakin menjadi.
"Yah! Main nya keroyokan nih, nggak adil!" gerutu Bian.
Malik tertawa dan di ikuti kekehan Danish, sedangkan twin boy hanya memandang mereka dengan wajah yang polos tak mau ikut pusing memikirkan urusan orang dewasa.
Mereka menghabiskan waktu siang hingga sore di tempat itu, hingga kini mereka dalam perjalanan pulang.
Twin boy sudah terlelap tak lama mereka memasuki mobil. "Mereka seneng banget hari ini," ucap Syifa terseyum senang.
__ADS_1
Malik terseyum. "Iya, Mereka begitu antusias karena Kita berkumpul bersama. Dan jarang juga kita bisa kumpul seperti ini."
"Iya Mas, Kita begitu sibuk dengan urusan Kita sampai tak ada waktu luang untuk Kita berkumpul seperti hati ini." Syifa terseyum.
Malik membelai lembut kepala sang istri yang tertutup hijab. Lalu beralih menggenggam tangan nya dan menghujani ciuman di punggung tangan nya.
"Kita nggak mau nambah lagi kah Sayang?" tanya Malik sembari mengedipkan sebelah matanya.
Senyuman Asyifa yang tadi nya mengembang kita sirna di ganti dengan ekspresi berfikir.
"Entahlah, nanti jika di izin kan pasti nya Aku terima saja. Toh itu kan juga Anak Kita."
Ucapan Syifa membuat Malik mengembangkan senyuman nya lebih sumringah. Asyifa mengernyit bingung, kenapa suami nya itu begitu senang dengan apa yang di ucap nya barusan.
"Kenapa senyum nya mencurigakan begitu Mas?" tanya nya.
Malik terkekeh. "Pasti nya lah, soal nya kan kalau mau jadi kita harus melakukan sesuatu." Malik menaik turunkan alisnya menggoda.
"Ya Allah Mas! memang nya biasa nya nggak kah?" Asyifa menggelengkan kepalanya tak percaya mengapa pula suami nya itu tak habis- habis mesum nya.
"Dasar mesum!" saut Syifa. "Mesum sama Istri sendiri nggak apa-apa. Bagus malah," Malik terkekeh.
Asyifa mencebikkan bibir nya namun tersenyum juga. "Ada-ada saja Kamu Mas!."
💢💢💢💢
Bian melajukan mobilnya untuk pulang ke apartemennya. Bian sebagai pengemudi dan Aditya dan juga Yasmin duduk di belakang.
Aditya dan Yasmin terkekeh. "Kamu itu ganggu saja orang pacaran, makanya cepat cari calon biar Ayah bisa dapat cucu baru!"
Bian terkekeh. "Ayah tenang saja, mungkin tidak akan lama lagi Ayah akan mendapatkan cucu baru."
Aditya duduk dengan tegak. "Yang bener kamu, sejak kapan kamu menyukai seorang gadis?" tanya Aditya penasaran.
Bian terkekeh kembali, "Ya doa'in saja, semoga cepat dapat, keburu Ayah sama Mama semakin tua!" lanjutnya.
Aditya mencebikkan bibirnya, "Kamu itu suka bener!" ucap Aditya sembari tertawa dan diikuti Yasmin dan Bian.
"Memang umur tidak ada yang tau, baru rasanya Kamu dibedong dan sekarang sudah bisa membawa mobil sendiri."
Bian tertawa pelan. "Iyalah Ayah, masa masih harus dibedong terus, nanti Twin Boy nggak lahir-lahir dong. Sudah ganti generasi."
Yasmin hanya terdiam mendengar obrolan anak dan mantan suami nya yang kini berstatus menjadi calon nya. Dia ikut tersenyum juga melihat kelucuan mereka.
Mereka saling tertawa dan saling melemparkan banyolan-banyolan yang membuat mereka tertawa geli.
💢💢💢💢
Di mobil Annisa, Amier menyetir mobil dengan kecepatan yang sedang. Tak kalah juga dengan mereka begitu seru bercerita tentang kelucuan si kembar yang tak pernah habis membuat mereka tertawa.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya sang nenek yang tertidur karena kelelahan. Annisa masih terjaga meski sedari tadi terus saja menguap karena mengantuk.
Amier yang melihat sang bunda yang begitu kelelahan pun meminta nya untuk memejamkan mata nya dan beristirahat. Namun Annisa tetap tidak mau menuruti.
"Ya sudah, Kita setel lagu saja biar Bunda nggak ngantuk, bagaimana?" tanya Annisa. Amier terseyum mengiyakan.
"Lagu yang biasa Ayah nyanyiin waktu membujuk Bunda yang ngambek bagaimana?" tanya Amier dan terkekeh.
Annisa hanya tersenyum menanggapi.
Amier mulai memutar lagu itu. Lagu yang begitu di sukai sang bunda.
*Ku pilih hatimu tak ada ku ragu
Mencintamu adalah hal yang terindah
Dalam hidupku oh sayang
Kau detak jantung hatiku
Setiap nafasku hembuskan namamu
Sumpah mati hati ingin memilihmu
Dalam hidupku oh sayang
Kau segalanya untukku*
Annisa terkekeh jika mengingat lagu yang di putar itu sembari membayangkan kekonyolan sang suami dulu.
Tangan Annisa mengusap sayang rambut tebal putra nya sembari tersenyum. Amier pun mengambil tangan bunda nya dan mencium punggung tangan nya.
Tolonglah jangan kau sakiti cinta ini
Sampai nanti aku tidak bernyawa lagi
Dan menutup mata ini untuk yang terakhir
Oh tolonglah jangan kau sakiti hati ini
Sampai nanti di saat nafasku
Sudah tidak berhembus lagi
Karena sungguh cinta ini cinta sampai mati
Cinta sampai mati.
"Aku sayang sama Bunda," ucap Amier. Annisa lagi-lagi terseyum, "Bunda juga sayang sama Amier."
__ADS_1
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍🤗.
GAESSS BANTU AUTHOR KECE RET5 NOVEL INI YAH, LIKE COMMENT JUGA JANGAN DI LUPAKAN, MAKASIH SEBELUM NYA.🤭