
HAPPY READING MAN-TEMAN 😊.
Seminggu telah berlalu sejak Asyifa dan kedua jagoannya pulang ke rumah. Untuk sementara, mereka tinggal di rumah Annisa sang Bunda.
Kondisi yang baru melahirkan dan juga pengalaman yang belum di kuasai membuat Asyifa sedikit kerepotan. Namun meski begitu, dia tetap tidak mau merepotkan sang Bunda.
"Yang pinter yah sayang, jangan rewel oke?" ujar Syifa kepada kedua putra nya. Dia sekarang sedang mengganti baju Salim dan juga Salman.
Dengan sangat hati-hati dia lakukan karena bayi nya begitu mungil. Wanita itu begitu telaten merawat kedua putra nya. Mulai dari memandikan nya dan juga mengganti pakaian serta popok nya dia sudah bisa melakukan nya sendi tanpa di bantu oleh Annisa.
Dia begitu menikmati peran nya sebagai seorang ibu baru. Dia begitu merasakan ketakjuban saat pertama kali dia bisa memberikan ASI. Air mata menetes namun bukan air mata kesedihan, tetapi air mata kebahagiaan.
Malik masuk kedalam kamar dan mendapati Asyifa sedang memakaikan baju pada kedua Jagoannya. Dia baru pulang dari cafe- nya. "Anak Ayah pinter banget sih, nggak rewel kan seharian?" sapa Malik mendekati mereka.
"Stop!" cegah Syifa. Malik diam tak bergerak seketika. "Jangan kebiasaan yah Mas, cuci tangan dulu sana!" ucap Asyifa. Malik menyengir, dia selalu lupa jika sudah bertemu dengan kedua anak nya.
"Maaf Yang, lupa." Asyifa menggeleng kan kepala nya. "Sudah sana ih! sekalian mandi yah!" kesal Syifa. Malik tersenyum dan berlalu melewati Syifa, tapi sebelum itu dia berhenti sejenak membuat Asyifa menoleh dan detik itu juga, bibir Malik mendarat di bibir Asyifa.
Sebuah kecupan manis. Malik memisahkan diri dan tersenyum. "Sambutan selamat datang," ucap nya yang mendapatkan cebikan dari ibu dua anak itu.
"Mesum! sudah sana mandi!" seru Syifa.
Malik berlalu ke kamar mandi sembari tertawa. Asyifa kesal, namun tersenyum juga.
Dua puluh menit Malik berkutat di dalam kamar mandi dan keluar dengan wajah dan juga tubuh yang lebih segar.
Malik menghampiri ketiga dan dan duduk bersila di atas tempat tidur. "Jagoan Ayah pinter banget sih, sudah pada tampan, sudah wangi," ujar Malik menciumi kedua nya bertubi-tubi.
"Sudah dong Mas, nanti nggak tidur-tidur nih," keluh Syifa. "Biarkan saja, lagi pula sudah sore," ujar Malik. Malik memicingkan mata dan menatap Asyifa. Asyifa mengerutkan alis nya. "Kenapa kamu Mas?" tanya Syifa.
__ADS_1
"Atau jangan-jangan, kamu cemburu yah minta di cium juga?!" tuduh Malik menggoda. Asyifa memutar bola matanya jengah. "Siapa juga yang cemburu? yang ada kamu tuh yang cemburu gara-gara kurang di perhatiin katanya!" ledek Syifa.
Malik semakin memicingkan mata nya dan mendekati sang istri yang hanya berjarak beberapa senti saja. Asyifa memundurkan tubuhnya menjauh dari jangkauan suaminya.
Malik semakin mendekat dan menerkam sang istri. Asyifa memberontak minta di lepaskan. Namun Malik tetap saja mengungkung di bawah tubuh nya. "Malik, jangan macam-macam yah!" seru Asyifa.
Malik tersenyum miring, dia semakin mendekatkan wajahnya hingga mengikis jarak diantara mereka. Malik menciumi hidung, kedua pipi, kening dan yang terakhir adalah bibir.
Sesaat akan menempelkan bibirnya, tiba-tiba pintu terbuka dan nampak lah Amier dan juga Bian yang masuk tanpa permisi membuat Malik reflek menjauh kan wajah nya namun masih mengungkung sang istri.
Asyifa bersemu malu karena kemesraan nya di ketahui oleh kedua adik nya. Meski sering kerap kali menampakkan kemesraan nya di depan mereka, tapi hal ini tentu saja berbeda.
Ini terlalu intim.
Asyifa hendak mendorong Bima menjauh, namun karena tangan nya di cekal di atas kepala nya, membuat di hanya pasrah saja.
Mata Bian membulat dan langsung menutup mata dengan tangan kanan nya, dia menutup mata Amier juga dengan telapak tangan kiri nya. "Maaf Kak, kita nggak sengaja," sesal Bian dan membalikkan badannya keluar bersamaan dengan menarik tangan Amier untuk ikut bersama nya.
"Kamu sih Mas, malu-maluin saja!" kesal Asyifa sembari beranjak duduk. "Kamu nggak lihat tadi ekspresi mereka Yang? itu lucu banget Yang!" ucap nya dan melanjutkan tawa nya.
"Tau ah! sudah sana, tamu-tamu sudah nungguin kayak nya." Asyifa mendorong Malik untuk keluar.
Memang hari ini ada adalah acara aqiqah kedua anak laki-laki mereka. "Biarkan saja mereka menunggu Yang, kan aku kangen sama jagoan-jagoan aku. Sudah seharian aku nggak ketemu sama mereka." Malik beralasan.
"Iya, tapi kan kasian para tamu, lagian nanti juga main sama mereka lagi!" Asyifa mulai kesal.
Malik mencebikkan bibir nya. "Iya, iya, istri ku yang cantik dan solehah!" jawab Malik. Asyifa terkekeh.
Malik pun keluar untuk menemui teman-teman dan juga para tamu undangan. Para tamu undangan di hadiri hanya kerabat, teman, anak yatim dan juga para tetangga saja.
__ADS_1
"Hay Bro! gimana nih hari-hari dengan dua jagoan sekaligus?!" sapa Reyyan saat Malik menghampiri mereka.
"Luar biasa!" jawab Malik terkekeh. "Nanti juga kamu merasakan nya. Bagaimana harus bergadang dan juga sayang nya istri di bagi tiga sama jagoan-jagoan aku!" ucap bangga Malik.
Teman-teman nya ikut tertawa, "jangan tertawa terus, mana kakak ipar kita nih?" sindir Malik pada Bima. Hampir saja Bima tersedak dengan pertanyaan itu.
"Kamu ini, nggak lihat kondisi apa?! hampir viral ini di sosial media orang ganteng tersedak gara-gara di tanya kapan menikah!" saut Bima.
Malik mencebikkan bibir dan yang lain nya tertawa. "Ayolah? aku tanya serius, dan juga mereka ingin tau juga aku rasa?" Malik mendesak Bima, Bima terdiam sejenak sebelum melanjutkan pembicaraan nya.
"Sebenarnya sih ada, tapi ya,,, dia masih ragu mungkin kalau aku serius sama dia?" jawab Bima. Raut wajah nya berubah sedikit sedih. Itu sangat kentara di pandangan mereka.
"Siapa yang ragu sama Kakak aku?" saut Asyifa yang baru saja datang. Malik dengan sigap mengambil alih Salman yang ada di gendongan sang istri, lalu Asyifa duduk di samping sang suami.
"Yang satu nya kemana?" tanya Adel. "Dia sama Nenek nya," jawab Asyifa. Adel memperhatikan wajah bayi itu. "Gimana cara bedain nya sih? kayak nya sama semua?" Adel menggaruk kepalanya bingung.
Asyifa terkekeh. Dia menunjuk tanda lahir di lengan sang putra yang berwarna merah pudar. "Ini yang nama nya Salman, dan yang Salim itu ada di pundak nya." Adel mengangguk paham.
"Assalamualaikum?" sapa seseorang yang baru saja datang. Mereka menoleh secara bersamaan dan menjawab salam nya.
Mata Bima tak beralih dari seseorang itu yang adalah Nazira. Sudut mata Asyifa melirik ke arah Bima. Dia tersenyum simpul dan berdiri menyambut kedatangan Nazira.
"Selamat datang Kakak ipar?!" sapa Asyifa jahil. Di memeluk Nazira, Nazira meski bingung dengan sapaan Asyifa, namun tetap menyambut pelukan nya.
Bima berdehem menetralkan ekspresi dan suara nya. Yang lain hanya terkekeh melihat kegugupan dari seorang Bima. Jarang sekali mereka melihat wajah Bima yang seperti itu.
Asyifa mempersilahkan Nazira untuk duduk di samping Bima yang kebetulan sebelah nya kosong karena Danish pergi ke belakang.
Chacha menghambur memeluk Bima dengan senang. Dengan sigap Bima merentangkan kedua tangannya menyambut dan membalas pelukan Chacha.
__ADS_1
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍
TINGGAL KAN JEJAK KALIAN DENGAN VOTE LIKE COMMENT NYA YAH MAN-TEMAN 😁.