
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗🤗.
Malik menghentikan mobilnya di depan restoran milik Annisa, mertua nya. Dia turun dan di sambut ramah oleh semua karyawan Annisa.
Restoran hendak tutup karena memang sudah hampir tengah malam dan besok adalah hari libur. Malik menanyakan apakah Annisa masih di sini atau tidak, dan salah satu dari mereka mengatakan jika Annisa masih di dalam kantor nya.
Malik mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Dia melangkahkan kakinya ke lantai dua dimana Annisa berada.
Beberapa kali Malik mengetuk, namun tak ada jawaban dari dalam. Pada akhirnya, Malik masuk setelah minta izin meski tak di jawab oleh Annisa.
"Assalamualaikum Bun ,,, da," ucapan Malik menjadi pelan melihat Bunda Annisa nya tertidur pulas dalam posisi terduduk dengan wajah yang terdapat di atas meja.
Malik menghembuskan nafas kasar, dia menghampiri nya dan menatap lekat wajah wanita paruh baya yang berstatus sebagai ibu dari istri nya itu. Wajah lelah nya begitu ketara.
Malik merasa begitu kasihan pada nya. Sudah berumur namun tanggung jawab nya sebagai owner sungguh begitu menguras tenaga nya.
"Sudah jam segini tapi Bunda masih saja di restoran, kapan Bunda bisa menyerahkan nya pada orang kepercayaan Bunda?" monolog Malik.
Memang benar, Annisa mengurus segala nya semenjak Vita kembali ikut dengan suami nya yang bertugas, niat nya ingin menetap di Indonesia namun putra kecil nya tak ingin jauh dari sang Papa, maka dari itu Vita mengalah dan ikut menemani suami nya.
Revan tidak ikut dengan mereka, karena sekolah nya dan juga Revan lebih betah jika tinggal di negara nya sendiri. Dan Revan tinggal di asrama sekolah, dan sering kali dia ke rumah besar Al-Husein untuk sekedar bermain dan menjenguk Oma nya.
Malik memegang punggung Bunda Annisa dan membangun kan nya. Annisa membuka mata nya dan sedikit kaget melihat menantu nya di depan matanya.
"Malik?" sapa Annisa dengan mengusap mata nya yang masih buram.
Malik terseyum, "Bunda nggak pulang?" tanya nya kemudian.
"Oh! iya, Bunda ketiduran, ini sudah jam berapa?" ucap Annisa celingukan mencari benda penunjuk waktu.
Malik melihat lengan yang terdapat arloji nya, "jam sebelas lebih Bun, ayo Malik antar pulang," pinta Malik.
Annisa mengangguk dan beranjak dari duduknya, dia begitu lelah hanya untuk mengendarai mobil nya.
__ADS_1
Setelah mengambil pesanan sang istri dan mengunci pintu, Malik dan juga Annisa pun masuk ke dalam mobil dan mulai perjalanan mereka.
Sedikit ada obrolan di antara mereka, namun karena Annisa begitu lelah, akhirnya wanita itu tertidur pulas. Malik menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Malik menghentikan mobilnya di depan rumah Annisa.
"Bunda?" panggil Malik memegang lengan Annisa. Annisa terbangun dan mengedarkan pandangannya. "Sudah sampai yah?" tanya Annisa. Malik mengangguk dan tersenyum.
"Ya sudah, Bunda masuk dulu yah," pamit Annisa dan membuka pintu. Malik tidak turun karena Annisa melarang nya, dia di perintahkan untuk langsung pulang.
Malik menjalankan kendaraan nya saat di rasa Annisa telah masuk kedalam rumah nya.
Dalam perjalanan Malik memikirkan Asyifa yang akan menunggu nya di depan ruang tamu. Tapi melihat keadaan saat ini, Malik rasa dia akan di tinggal tidur oleh istri nya.
Malik terkekeh bagaimana sang istri akan mengomel karena pesanannya tak kunjung datang. Pasti sangat menggemaskan, membayangkan nya saja Malik senyum-senyum sendiri.
Dan dalam waktu lima belas menit, Malik sudah memasuki pekarangan rumah nya. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Malik pun masuk ke dalam rumah.
Sembari terkekeh Malik membuka pintu, namun detik kemudian senyuman nya pudar karena tidak mendapati sang istri di ruangan itu.
"Kamu baik-baik di sini yah, besok pagi yang memesan mu akan mencari kamu dan memakan mu." Malik terkekeh geli dengan apa yang dia lakukan.
Saat dia membalikkan badannya, dia terperanjat kaget dan hampir saja menubruk meja. "Ya Allah Yang?! kamu ngagetin tau nggak!" kesal Malik.
Asyifa terbahak melihat Malik yang begitu terkejut nya. "Dasar penakut!" ucap Asyifa tertawa.
"Siapa yang nggak takut coba. Kamu tengah malem memakai masker begitu!" kesal Malik.
"Ya Allah Mas! segitu nya. Tau ah!" marah Asyifa dan membalikkan badannya meninggalkan Malik. Malik jadi kelabakan.
"Seharusnya aku yang ngambek kenapa malah kamu sih Yang?" tanya Malik.
Asyifa menoleh dengan tatapan tajam. "Mas ngeselin! Mas buat masker aku retak gara-gara nyautin Mas! tau nggak!" kesal Asyifa.
__ADS_1
Malik melongo. "Jadi ini salah Mas iya?!" kesal Malik.
"Iya!" kesal Asyifa. Malik menatap mata Asyifa dengan tajam dan mendekati nya.
Asyifa menciut karena di tatap seperti itu, dia mengerjap beberapa kali. Dengan langkah cepat dia membalikkan badannya hendak kabur, namun pergerakan nya terhenti saat lengan nya tercekal Malik.
"Mau kemana?" tanya Malik berbisik di telinga nya saat sudah mendekat membuat Asyifa merinding.
"Kamu tau kan kalau aku sedang seperti ini harus apa?" tanya Malik. Asyifa menatap wajah Malik dan terseyum konyol di ikuti Malik yang tersenyum manis.
"Mas tau kan kalau tamu aku yang nggak bisa aku usir?" tanya Asyifa balik.
Senyuman Malik yang tadi nya begitu merekah kini sirna dan berubah menjadi ekspresi datar dan kecewa.
"Jadi nggak bisa dong?" tanya Malik lesu sembari melepaskan dekapannya. Asyifa mengangguk.
Asyifa maju selangkah dan detik kemudian wanita itu berlari sembari berseru. "Tapi bohong!" seru nya. Malik yang mendengar itu langsung kesal.
"Di kerjain lagi!" gerutu nya. "Bunda!" seru Malik dan dan mengejar Syifa yang sudah lebih dulu masuk kedalam kamar mereka.
Asyifa tertawa terbahak di dalam kamar nya, untung saja kamarnya kedap suara hingga tidak mengusik kenyamanan kedua jagoan nya.
Terjadi malam panas mereka meski harus ada bumbu kesal yang di berikan sang istri hanya untuk menggoda nya.
Waktu menunjukkan pukul setengah tiga pagi, bunyi dering telepon dari ponsel Asyifa sangat nyaring hingga menyentak telinga Malik.
Malik terbangun dari tidurnya dan mengangkat nya yang tercantum nama Tante Naura.
"Hallo! assalamualaikum?" sapa Malik.
Terdengar suara cemas di seberang sana. Malik dengan segera mendudukkan dirinya dan mendengar apa yang akan di sampaikan oleh Naura.
Setelah perbincangan mereka, Malik dengan terburu-buru membangunkan Asyifa yang tengah tertidur pulas. Asyifa yang dibangunkan pun terbangun dan segera bersiap.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam kamar si kembar dan mengangkat tubuh mungil mereka untuk di bawa ke rumah utama.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍😍.