Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
20.


__ADS_3

Keluarga Al-Husein sudah pulang, Reyyan mengendarai mobil nya dengan membawa Opa dan Oma nya, sedangkan Annisa pulang ke rumah nya bersama Asyifa.


"Kenapa Bunda ngizinin aku untuk ikut Bima waktu di pesta tadi?" tanya Syifa saat dalam perjalanan pulang di dalam mobil.


"Kenapa memang nya?" bukan nya menjawab tapi Bunda nya itu malah balik nanya sembari mata nya fokus pada jalanan.


"Ya nggak biasa nya saja Bunda memberikan izin sama orang asing begitu" ujar Asyifa lagi.


"Kan masih dalam pengawasan Bunda, lagi pula Bima anak nya baik kok, Bunda sudah kenal lama sama dia" jawab nya.


"Ya tapi kan Bunda tahu, kalau aku nggak suka sama dia" Syifa sedikit mengeraskan suara nya.


"Sama Malik dan Danish saja tidak apa-apa" Annisa sedikit melirik putri nya itu.


"Ya...Ya itu beda lah Bun"


"Apa beda nya?"


"Ya beda dia kan baru aku kenal"


"Malik awal nya juga baru kenal, sekarang malah bisa ngobrol sama kamu, apa beda nya" tanya Annisa menggoda.


Annisa melirik lagi putri nya itu, dan tak biasa nya juga putri cantik nya itu sedikit terlihat gugup.


"Tahu ah, debat sama Bunda nggak bakal kelar" kesal Syifa.


Bunda nya itu hanya terkekeh saja melihat Syifa ngambek.


Setelah memarkirkan mobilnya, mereka pun masuk ke dalam. Amier sudah melipat kedua tangannya di atas perut nya dengan wajah yang di tekuk.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumusalam" Amier menjawab dengan ketus.


"Anak Bunda belum tidur?" tanya Annisa pada Amier yang tak mau menatap nya.


"Ngambek, ngambek, gitu doang ngambek" cibir Syifa sembari meraup wajah sang adik.


"Ih... Kakak, ngeselin banget sih" marah Amier.


"Apa?, mau marah sama Kakak?" tantang Syifa membuat Amier mendengus kesal.


"Anak Bunda yang tampan ini kenapa,hum?" Annisa menanyakan dengan mengusap kepala Amier.


"Kenapa aku nggak di ajak sama kalian, aku kesal sama kalian" ngambek nya.


"Ngapain ngajakin kamu, kalau ngajakin kamu yang ada itu pesta bakalan hancur tahu nggak" ketus Syifa.


"Aku nggak mau tahu, sebagai kompensasi nya aku malam ini tidur nya sama Bunda"

__ADS_1


"Heleh, bilang saja pengin di kelonin, segala banyak tingkah. Nggak boleh, malam ini Bunda tidur sama aku" ucap Syifa dengan tatapan tajam nya.


"Masa Kakak terus, aku nya kapan?!" Amier mulai bertambah kesal.


Annisa menggelengkan kepala dan memijat nya melihat kedua anak nya itu merebutkan diri nya.


"Stop!" seru Annisa membuat kedua anak nya itu menghentikan perdebatan nya dan menoleh pada sang Bunda.


Annisa berjalan cepat meninggalkan kedua nya. Amier dan juga Syifa bingung.


"Bunda mau tidur sama Nenek!" seru Annisa dengan berlari.


"Bundaaaaa" teriak mereka membuat Annisa tergelak kencang.


πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’


Hari ini, Reyyan terlihat begitu senang. Entah apa yang membuat nya senang hanya dia saja yang tahu.


"Hey bro. Kenapa nih, kelihatan nya lagi happy?" Malik menepuk bahu temannya itu yang sedari tadi tidak mendengar apa yang dia bicarakan.


"Kemarin aku ketemu sama gadis cantik waktu di pesta" ujar nya masih dengan senyuman nya.


"Siapa tuh, itu paku nya masih nempel pasti. Kalau nggak, kamu bakalan lari terbirit-birit" cibir Malik dan tergelak.


"Kurang ajar!" seru Reyyan tak terima tapi tertawa juga.


Dari kejauhan terlihat seseorang yang tidak asing di mata mereka berdua. Malik mengepal kuat dan Reyyan hanya menggeleng saja.


"Saingan kamu kayak nya agak berat bro" ujar Reyyan yang pandangan nya masih tertuju pada Syifa dan Bima.


"Aku juga nggak tahu harus lawan dia bagaimana Rey" frustasi Malik.


"Jangan patah semangat lah, aku bakalan dukung kamu bro. Karena aku yakin kamu bisa menjaga Asyifa lebih baik dari aku" ujar Reyyan.


Malik menoleh pada teman nya itu dan tersenyum. Benar juga, sebelum janur kuning melengkung dia masih ada kesempatan. Jangankan janur kuning, bendera kuning saja masih bisa ada kesempatan, pikir nya lucu.


Malik terkekeh geli dengan pikiran nya sendiri. Apa-apaan itu yang dia pikirkan, Reyyan melihat itu pun bergidik ngeri, temannya masih sehat kan yah?.


"Sehat kan bro?" Reyyan menyentuh kening Malik dan di tepis oleh siempu nya.


"Sehat Rey" saut nya.


Asyifa pun menghampiri mereka dan memberi kode pada Reyyan untuk mengantar nya pulang.


"Syi, kamu di cariin sama Oma" ujar Reyyan memberi celah.


Syifa mengangguk dan berlalu bersama Reyyan, Bima yang ingin mengejar di cekal oleh Malik.


"Getol banget kamu" cibir Malik.

__ADS_1


Bima menepis kasar tangan Malik yang mencekal nya.


Bima berlalu meninggalkan Malik tanpa menggubris, dia berbalik kembali ke arah mobil nya yang ada di parkiran. Malik tersenyum miris.


πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’


Asyifa dan Reyyan masuk kedalam rumah besar Al-Husein, niat nya hanya untuk menghindari Bima tapi malah beneran mampir ke sana.


"Kak Syifa!" seru Adiba yang berlari ke arah


Syifa.


"Hai Diba" sapa Syifa.


"Kak Bian nggak ikut Kak?" tanya Diba celingukan mencari sosok Bian.


Asyifa mengernyit bingung, kenapa sepupu nya itu malah mencari Bian, pikir nya.


"Nggak, kenapa memang nya?" Syifa penasaran.


"E,,,,enggak kok, cuma tanya doang" jawab nya gugup dan bersemu merah.


Asyifa memicingkan mata nya melihat aneh sepupu nya itu. Beberapa detik kemudian dia paham apa yang di maksud.


"Tante, Diba sudah berani pacaran!" seru Asyifa menggaung di rumah itu.


"Kak Syifa jangan teriak-teriak dong, rese banget sih!" seru Adiba kesal membuat Syifa menjulurkan lidahnya meledek.


Syifa tersenyum miring, dan melipat kedua tangannya di atas perut melewati Diba yang kesal itu.


Dia masuk ke dalam kamar yang biasa di tempati nya bila menginap di sini.


Dia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dan mulai memejamkan mata nya.


Tiba-tiba air mata nya mengalir dari mata terpejam nya. Dia meringkuk memeluk lutut nya.


Dia merasakan usapan lembut di kepala membuat nya membuka mata dan melihat bayangan yang dia rindukan.


"Anak Ayah kenapa nangis?" tanya nya lembut.


"Kangen" jawab Syifa singkat.


"Syifa, sampai kapan kamu akan terus begini nak, bangkit lah nak, jangan menyiksa diri mu seperti ini sayang, Ayah akan selalu ada di hati kamu dan tidak akan kemana-mana. Selalu bersama kamu dimana pun, dan kapan pun" ucap nya dan tersenyum perlahan dia menghilang dari pandangan Syifa.


"Enggak!, enggak!, jangan tinggalkan aku. Ayahhhh!!" teriak Asyifa menggema di kamar itu.


"Hiks..Hiks... Hiks, Ayah..." tangis nya.


YAH..NANGIS LAGI DEH😒

__ADS_1


TETAP SEMANGAT NGUMPULIN POIN NYA YAH😁


__ADS_2