
HAPPY READING 😊.
"Makasih Kak" ujar Bian setelah turun dari motor.
Asyifa mengangguk. " Belajar yang benar ya" ujar nya dan Bian mengiyakan dan berlalu pergi setelah menyalimi Kakak nya.
Asyifa melajukan lagi motor nya untuk ke kampus. Dia membuka kaca helm nya dan begitu menikmati angin yang menerpa wajah nya itu, sesekali dia akan memejamkan mata nya dan mengingat sang Ayah.
"Ayah motor ini keren. Nanti kalau kaki Syifa udah panjang, mau pakai motor kayak Ayah"
"Kamu lucu banget sih sayang, oke kalau kamu mau kaki nya cepat panjang, kamu harus banyak makan dan minum susu setiap hari biar cepat tinggi, oke"
"Oke"
Kilasan balik ini selalu berputar di otak Asyifa. Dia tersenyum. Betapa bahagianya dia saat itu.
Brak....
Suara motor yang menabrak trotoar di depan matanya membuat Syifa menghentikan laju motor nya. Dia turun dan menghampiri orang itu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Syifa khawatir.
"Saya tidak apa-apa Mba, tapi aku boleh minta tolong nggak mba, aku sedang buru-buru mau mengantar map ini untuk Bos saya" ujar perempuan itu.
"Saya boleh tidak menumpang di motor Mba nya untuk mengantar ini, soalnya ini penting banget Mba dan saya sudah tidak kuat untuk mengendarai lagi. Tangan saya gemetar" sambung nya.
"Ta...Tapi, saya sedang buru-buru mba" ujar Syifa.
"Saya mohon Mba, kalau tidak saya akan di pecat sama Bos saya ini, ini satu-satunya pekerjaan yang saya impikan sedari dulu mba" curhat nya.
Asyifa menimbang perkataan perempuan itu. Karena jarak yang satu arah dengan kampus nya dan juga masih ada waktu sedikit. Mungkin dia bisa membantu.
Dan akhirnya, dengan kecepatan penuh dia mengendarai motor besar nya itu untuk mengantar perempuan tersebut untung saja keadaan jalan tidak macet, jadi dia bisa menyelip kendaraan lain.
Disini lah dia. Di gedung tinggi pencakar langit yang begitu terkenal. Pantas saja perempuan itu tak ingin kehilangan pekerjaan nya. Ternyata perusahaan ini tempat nya bekerja.
"Makasih banyak ya Mba, kapan-kapan saya traktir makan sebagai tanda terima kasih" ujar perempuan itu yang di ketahui nama nya Rahmi.
"Sama-sama Mba, saya jalan dulu ya dan juga itu luka di siku mba nya di obati takut infeksi" Asyifa mengucapkannya dengan nada seperti biasa nya.
Dia melajukan lagi motor nya lagi.
"Sudah baik, cantik lagi, sayang dingin banget orang nya"
Sesaat dia tersadar. "Aduh aku hampir lupa pesenan si Bos," dia menepuk keningnya dan berlari ke dalam.
💢💢💢💢
"Woi !! nglamun saja, kenapa sih?" seru Reyyan mengagetkan Syifa yang sedang melamun di kursi dalam Restoran sang Bunda.
__ADS_1
"Ck.... Ngagetin tau nggak" omel Syifa membuat Reyyan terkekeh.
"Lagian aku panggil dari tadi nggak nyaut--nyaut sih" dia duduk di depan Syifa dan di ikuti oleh Malik.
"Lagi mikirin apa sih?" sambung nya.
"Nggak mikirin apa-apa" saut nya.
Dari arah pintu ada seorang perempuan yang memanggil nama Asyifa, menginterupsi perbincangan mereka.
Mereka secara bersamaan menoleh, perempuan itu menghampiri dan dia tidak sendirian, ada seorang laki-laki yang ikut dengan nya.
"Mba Syifa!, kebetulan banget kita ketemu di sini" kaget orang itu dengan sapa nya sumringah.
Asyifa mengernyit bingung, perempuan itu kenapa bisa kenal dengan nya, pikir nya.
"Saya Rahmi mba, yang tadi pagi di tolong sama Mba nya" ucap nya lagi.
"Oh, Mba Rahmi, maaf mba saya lupa" balas Asyifa sopan.
Malik melihat laki-laki di sebelah perempuan itu menatap Syifa yang hampir tak berkedip pun menatap nya tajam.
Yang di tatap tidak melihat Malik yang menatap nya. Mata nya fokus hanya pada gadis cantik yang berada di depan nya itu.
Seolah dunia nya berhenti di satu titik. Dan satu titik itu adalah Syifa. Meski dia tak tahu siapa nama gadis itu namun dia begitu terpesona dengan gadis itu.
"Pak, ini loh Pak, Mba Syifa yang tadi pagi menolong saya, jadi kontrak kerja nya bisa sampai dengan selamat" ujar Rahmi membuyarkan lamunan nya.
"Oh iya Mba Syifa terima kasih banyak atas pertolongan anda pada sekertaris saya ini, dan sebagai ucapan terima kasih, saya bisa mentraktir anda dan juga kedua teman anda mungkin?" tawar nya.
Reyyan melihat ekspresi wajah temannya itu menyela.
"Nggak usah repot-repot Pak, disini kita juga nggak bayar kok" saut Reyyan.
"Maksud nya?" tanya nya.
"Maksud nya, ini Restoran milik Tante saya sekaligus Bunda nya Asyifa, iya nggak Syi?" jelas nya dan Asyifa mengangguk.
"Oh, kamu anak nya Tante Annisa yah, wah pantas saja" pemuda itu mengatakan dengan ambigu.
Asyifa mengernyit heran, siapa dia?.
"Kenalkan saya Bima, anak rekan kerja dari almarhum Pak Zidan" lanjutnya mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri.
"Saingan nya ketat ini bro" bisik Reyyan pada Malik membuat nya mengepal kuat.
Respon yang di berikan Asyifa biasa saja, dia tidak menyambut tangan Bima. Bima yang mendapat respon yang tak baik dari Asyifa pun menarik tangan nya kembali.
Suasana menjadi canggung beberapa saat, dan suara Annisa membuyarkan kecanggungan itu. Dia menghampiri kumpulan anak muda itu dan ikut bergabung.
__ADS_1
"Sore Tante" sapa Bima ramah, Annisa tersenyum ramah.
"Sudah besar banget sekarang kamu nak, nambah ganteng lagi" puji Annisa.
Bima sedikit tersipu malu, mendengar hal itu.
Reyyan melirik teman di samping nya itu dan menahan tawa nya.
"Saingan nya sudah maju satu langkah bro, kamu kapan" Reyyan memanas-manasi Malik.
Malik melirik tajam ke arah Reyyan. Reyyan hanya menyengir saja dengan respon Malik.
"Gimana kabar Mama kamu, sehat?" tanya Annisa.
"Sehat Tante" balas nya.
Mereka pun terlibat perbincangan hangat di sore itu. Mereka selayaknya sebuah keluarga. Tidak ada kecanggungan lagi, terkecuali Asyifa.
Dia hanya menjawab seperlunya saja.
💢💢💢💢
Malam hari saat makan malam, Amier masih mendiami Asyifa. Asyifa yang bingung pun meminta penjelasan pada sang Bunda dengan memberikan kode.
Annisa meminta Asyifa mendekat karena tempat duduk nya yang bersebelahan dengan Bunda nya, memudahkan dia untuk mencondongkan tubuhnya. Annisa membisikkan sesuatu dan Asyifa mengangguk.
Setelah makan malam, Amier sedang duduk di meja belajar nya untuk mengerjakan tugas sekolah nya. Asyifa mendekati sang adik. Dia duduk di atas tempat tidur Amier dan memperhatikan sang adik yang sedang sibuk, lebih tepatnya pura-pura sibuk.
"Amier masih marah sama Kakak?" tanya nya.
Namun Amier tidak memberikan respon. Dia masih saja sibuk dengan buku nya.
"Memang nya Kakak salah kalau ngomong begitu?, oke Kakak minta maaf" ucap Asyifa tapi tak ada tanggapan juga.
"Huh... Kalau Amier masih marah ya sudah lah Kakak mau ke rumah Bian saja, mau tinggal di sana saja biarin Amier sendiri nggak ada temennya" sambung nya dan beranjak dari ranjang Amier.
Baru beberapa langkah Asyifa melangkah, Amier menarik tangan Asyifa. Asyifa tersenyum dan berbalik.
"Maafin Amier Kak, Amier sudah nggak marah lagi sama Kakak, Kakak jangan tinggalkan Amier, nanti Amier kesepian nggak ada temennya" Amier memeluk Asyifa dan di balas sayang oleh Asyifa.
Annisa yang melihat ke dua anak nya pun masuk ikut serta dalam pelukan hangat mereka.
"Gitu dong, saudara gak boleh saling marah lama-lama " ucap nya menasehati.
"Cie... Yang kata nya keren mewek nggak mau di tinggal" ledek Syifa.
"Kakak!!" seru Amier membuat mereka tertawa.
JEJAK NYA DI TINGGAL OKE.
__ADS_1
HAPPY WEEKEND MAN-TEMAN 🤗.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.