
Hari ini adalah hari kepulangan Chacha, bocah itu begitu girang karena tak harus lagi menginap di Rumah Sakit. Namun dia juga tidak mau melepaskan pelukannya dari Om tampan nya, Bima.
"Chacha turun dong, kasian tuh, Om nya kecapean." Nazira terus saja membujuk putri nya itu untuk turun dari gendongan Bima.
"Biarkan saja Chacha begini, sudah siap semua?" tanya nya.
"Sudah!" jawab Nazira menenteng tas berisi keperluan Chacha.
"Ya sudah ayo." Bima mengajak Nazira untuk pulang, mereka berjalan beriringan.
Mereka berjalan layak nya seperti keluarga kecil yang bahagia. Dengan Chacha yang terus mengoceh, membuat setiap perjalanan mereka begitu menyenangkan.
💢💢💢💢
"Nah, sudah sampai, sekarang kita turun yah," ujar Bima, dia menengok ke belakang tempat duduk Chacha.
Bocah itu tak menjawab malah dengan ekspresi wajah yang sedih, dia membuang muka ke arah lain. Bima bingung dengan tingkah Chacha yang seperti itu.
"Chacha kenapa?" tanya Bima.
"Chacha nggak mau pulang kalau Om nggak ikut sama Chacha." sedih Chacha. Bima tersenyum mencoba untuk membujuk.
"Om kan bukan siapa-siapa nya kita, nggak boleh serumah dong." jelas Nazira.
"Kan Om itu pacar nya Ibu? kenapa nggak menikah saja sih, supaya bisa tinggal bersama?!" ujar Chacha merajuk.
Mendengar penuturan Chacha, Bima terkekeh. "Bilang dong sama Ibu, mau nggak menikah sama Om?" jawab Bima menggoda.
Nazira bungkam seketika. Pipi nya menjadi panas. Ini sudah kali ke tiga Bima mengatakan hal itu. Dan jika Putri nya mendukung, bagaimana?.
"Bagaimana Naz?" tanya Bima. Nazira langsung tersadar dari lamunannya. "Bagaimana apa nya?" tanya nya balik.
"Ibu kok jadi lupa begitu! kan tadi sudah di beri tau!" kesal Chacha.
__ADS_1
Bima tertawa pelan. Ekspresi lucu Nazira begitu menggemaskan. "Bagaimana Naz?" tanya nya sekali lagi.
"Aku nggak tau," Nazira bingung harus menjawab apa. Sebab, dia juga tidak pernah pacaran. Setiap ada yang menyatakan cinta kepada nya, dia selalu menolak dengan alasan tidak mau pacaran.
Hal itu pasti cukup mudah untuk di katakan, tapi ini menikah. Berumah tangga, tidak bisa di putuskan secara terburu-buru. Meskipun Bima adalah pemuda yang baik dan juga penuh kasih sayang, tapi tetap saja hal itu tidak bisa sembarangan.
"Boleh beri aku waktu untuk memikirkan semua ini?" pinta Nazira. Bima mengangguk paham.
"Tak usah terburu-buru, semua keputusan ada pada dirimu. Aku terima segala keputusan kamu, tapi ya, aku harap kamu tidak membuat aku kecewa." Bima mengatakan hal itu dengan di akhiri kekehan.
"Sama saja dengan memaksa dong?!" saut Nazira.
Bima tertawa pelan. "Ya beda tipis lah, tapi aku beneran terima apapun keputusan kamu kok Naz." ucap Bima. "Aku tidak akan memaksa seseorang untuk menyukai ataupun menerima kehadiran aku." lanjut nya.
Nazira terdiam. Pikiran nya ntah kemana, dia jadi bingung sendiri. Apa nanti akan menyakiti hati seorang Bima yang hati nya begitu tulus menyayangi putri nya? atau apakah dia tidak akan mengkhianati cinta dan kepercayaan yang nantinya akan dia berikan jika memang dia memberikan nya kepada Bima.
Semakin di pikirkan, semakin membuat diri nya kacau. Sampai suara Bima dan juga Chacha mengagetkan dirinya dan kembali pada dunia nyata nya.
"Oh! iya maaf. Ibu melamun tadi. Ayo kita turun." Nazira membuka pintu mobil dan turun di ikuti Bima yang membuka kan pintu untuk Chacha dan menggendong nya.
"Om tampan hati-hati yah pakai mobil nya. Nanti Om tampan akan main kesini lagi kan?" tanya Chacha dengan tatapan memohon.
Bima tersenyum. "Tentu saja, Om akan sering main kesini. Kalau tidak, Chacha boleh kok main ke rumah Om. Di sana ada Oma sama Opa, pasti mereka senang".
Mata Chacha berbinar senang. "Benarkah?!" seru nya. Bima mengangguk membenarkan.
"Asik! Chacha bisa main sama Oma dan Opa!" seru nya. "Tapi?,," ucapan Chacha menggantung.
"Tapi kenapa?" tanya Bima. "Tapi Oma sama Opa suka tidak yah? jika ketemu sama Chacha. Chacha takut kalau mereka tidak suka sama Chacha." sedih nya.
Bima berjongkok memegang telapak tangan bocah itu. "Chacha tenang saja, mereka nggak jahat kok. Mereka itu justru senang, kalau bertemu anak manis seperti kamu. Bahkan, Oma sama Opa sering sekali main ke tempat asuhan yang banyak anak-anak nya".
Chacha berfikir, dan ucapan selanjutnya dari Chacha membuat hati Bima tercubit. "Di panti asuhan berarti banyak anak-anak seperti Chacha dong yang tidak punya orang tua?" celoteh nya.
__ADS_1
Bima dan juga Nazira tertegun. "Kata siapa Chacha nggak punya orang tua? terus Ibu Naz sama Om tampan di anggap apa dong, kalau bukan orang tua Chacha?" ucap nya.
Mata Chacha berkaca, dan detik kemudian Chacha memeluk Bima begitu erat nya. "Terimakasih Om?" ucap nya.
Bima membalas pelukan Chacha. Dia begitu kagum sekaligus miris. Anak sekecil Chacha sudah berfikiran layaknya anak yang tak pada usia nya. Begitu dewasa dan juga cerdas.
Dapat mengerti keadaan dan juga memahami situasi.
Bima melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Chacha. "Kamu tidak sendirian sayang, ada Ibu, Om tampan, Tante baik Tante cantik, dan Om yang lain nya." Bima berhenti sejenak. "Dan nanti juga, Chacha akan ketemu sama Oma dan Opa. Chacha tau? kalau di rumah Tante cantik dan juga Tante baik itu banyak orang nanti nya akan sayang sama Chacha".
"Nah, jadi Chacha jangan merasa sendiri lagi yah, kalau Chacha butuh apapun, bilang saja sama Ibu atau Om." Bima mengusap setetes air mata di pipi Chacha yang terjatuh, Chacha mengangguk semangat.
Nazira mengusap air mata nya yang terjatuh, dia kemudian tersenyum teduh. Hati nya merasakan sakit dan juga bahagia di saat bersamaan.
"Ya sudah, Om pulang dulu yah, Om nanti di cariin sama Oma." ucap nya dan beranjak berdiri.
"Hati-hati Om." pesan Chacha. Bima mengangguk mengiyakan.
"Aku pergi dulu Naz." ucap Bima berpamitan. Nazira menganggukan kepala nya. "Terimakasih." ucap nya kemudian.
Bima memasuki mobil nya, mulai menjalankan mesin dan keluar dari pekarangan rumah Nazira.
"Ayo masuk?" ajak Nazira sembari mengulurkan tangannya. Chacha menerima uluran tangan Ibu nya dan berjalan beriringan.
Bima di dalam mobil, masih memikirkan kata-kata yang di ucapkan Chacha. Di dalam hati nya, dia berjanji akan selalu menyayangi Chacha apapun keputusan Nazira nanti nya.
💢💢💢💢
Di kediaman Malik dan juga Asyifa, pasangan suami istri itu sedang berduduk santai di kursi panjang di taman belakang. Dengan posisi Asyifa yang duduk di depan Malik yang memeluk nya dari belakang.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.
TINGGAL KAN JEJAK KALIAN DENGAN VOTE LIKE SETIAP DAN RET5 YAH MAN-TEMAN 😁 TERIMAKASIH 😊.
__ADS_1